RADARMAGELANG.ID, Temanggung – Kabupaten Temanggung terkenal sebagai penghasil tembakau.
Saat ini panen tembakau tengah berlangsung.
Sepanjang jalan di kawasan Parakan, banyak orang menjemur rajangan tembakau di pinggir jalan atau di lahan-lahan datar yang memungkinkan.
Seperti di lapangan maupun di halaman rumah.
Pemandangan khas lainnya adalah mobil-mobil bak terbuka mengangkut tumpukan rigen tembakau untuk dijemur atau usai dijemur hendak dibawa pulang.
Pada musim panen sepert ini cuaca panas sangat dibutuhkan agar tembakau bisa kering sempurna.
Di Temanggung, tembakau diolah menjadi rajangan.
Ditanam di lahan dengan ketinggian 600 hingga 1.600 mdpl.
Luas area tanam saat ini 14 ribu hektare tersebar di hampir semua kecamatan.
Terutama di kawasan dataran tinggi.
Ketinggian tempat sangat berpengaruh pada usia tanaman.
Tembakau yang ditanam di dataran tinggi, umurnya lebih panjang dibandingkan yang ditanam di dataran rendah.
Sehingga kadar nikotin tembakau di dataran tinggi lebih banyak dibanding yang ditanam di lahan area rendah.
Temanggung dikenal memiliki tembakau yang tidak ditemui di daerah lain.
Yakni tembakau srintil.
Jenis ini hanya ditemukan di wilayah tertentu seperti di Dusun Lamuk, Desa Legoksari, Desa Pagersari, Kecamatan Tlogomulyo.
Kemudian di Desa Pagersari, Pagergunung Kecamatan Bulu dan beberapa wilayah lain.
Tembakau ini hanya muncul ketika cuaca sangat bagus yaitu saat musim tanam, cuacanya panas kering.
Srintil hanya ditemui di daerah dengan ketinggian di atas 800 mdpl.
Petani tidak mengetahui adanya srintil ketika dipetik dari batangnya.
Srintil merupakan daun terakhir yang dipetik atau posisinya paling atas.
Saat daun ini diperam, muncul cairan seperti membusuk.
Lalu menyebarkan aroma harum khas tembakau, saat itulah petani menyadari tembakau tersebut adalah srintil.
Ciri-ciri Tembakau Srintil
Mengutip dari laman Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Temanggung, ciri-ciri tembakau srintil antara lain daun berubah warna menjadi coklat kehitaman, tumbuh puthur (semacam hifa jamur berwarna kuning) dan mengeluarkan cairan dan aroma seperti alkohol.
Daun tembakau yang diperam tersebut tidak busuk.
Ketika dirajang hancur, dan menggumpal.
Namun kalau sudah kering berwarna coklat kehitaman dan mengkilat.
Penelitian menunjukkan tembakau srintil saat diperam tumbuh beberapa macam mikroorganisme semacam jamur yang berwarna kuning.
Petani menyebutnya puthur kuning.
Untuk membuat tembakau srintil dengan memanfaatkan mikroorganisme jamur tidak berhasil. Mikroorganisme tersebut tidak berkembang.
Srintil memang tumbuh alami, tidak bisa dibudidayakan.
Varietas yang dapat menjadi srinthil adalah Kemloko, yaitu Kemloko 1 dan 2.
Dari puluhan kuintal hasil panen tembakau, barangkali hanya muncul beberapa kilogram srintil.
Maka petani berusaha keras menanam dengan teknik budidaya dan pengolahan yang baik. Diharapkan muncul srintil.
Dalam industri rokok sigaret kretek, tembakau Temanggung berperan sebagai pemberi rasa sehingga harganya tinggi.
Terlebih tembakau srintil, yang aromanya luar biasa.
Harga srintil selangit.
Bila musim panen harga tembakau biasa per kg rata-rata hanya Rp 60 ribu, srintil dihargai Rp 850 ribu sampai Rp 1 juta per kg.
Tak heran bila tembakau disebut sebagai emas hijau.
Karena harganya hampir sama dengan emas perhiasan.
Petani yang menemukan srintil dalam panenannya sama dengan menemukan emas perhiasan. (lis)
Editor : Lis Retno Wibowo