RADARMAGELANG.ID, Temanggung– Tahun ini ada kecenderungan penurunan produksi kopi hampir 30 persen. Karena cuaca dan iklim. Sehingga harga kopi naik. Hal tersebut membuat dilematis ekspor kopi Temanggung.
“Artinya di konsumen harganya masih sama, naiknya tidak drastis. Sehingga kalau harga kopi di dalam negeri atau bahkan di daerah sampai Rp 20 ribu untuk arabika, ada senang dan susahnya. Susahnya, kita tidak bisa ekspor,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung Joko Budi Nuryanto.
Sebab, biaya ekspor dan harga beli menjadi lebih besar biayanya. Sebagai gambaran, dia menerangkan, misal harga ekspor satu kilogram kopi beras atau green bean seharga Rp 120 ribu, kadang tujuh banding satu atau enam banding satu.
Artinya tujuh atau enam kilo cerry itu hanya jadi satu kilogram green bean. Kalau harga per kilogram Rp 20 ribu, tujuh banding satu, berati modalnya Rp 140 ribu.
Menurutnya, kini penjualan kopi lebih banyak di daerah atau dalam negeri. Melihat kondisi ini, pihaknya berusaha menjaga agar kopi Temanggung tidak dicampur dengan kopi asalan untuk menutup biaya tersebut.
“Kalau dicampur dengan kopi asalan ya percuma kita sudah menjaga bertahun-tahun mutu yang sudah sedemikian ini akan menjadi turun,” ungkapnya.
Hal lain yang dilakukan adalah menambah jumlah atau populasi kopi Temanggung. “Tahun ini kami membantu biji 100.000 butir. Kami bagikan ke kelompok tani supaya dibenihkan sendiri, ditanam sendiri, dan dibibitkan sendiri pada 20-an kelompok. Satu kelompok kami kasih 5000,” sebutnya. (din/lis)