Kegiatan tidak hanya diikuti mahasiswa Inisnu Temanggung tetapi juga dari berbagai kalangan dari Sumatera sampai Papua. “Milad Inisnu Temanggung ke-53 tahun kembali membangkitkan spirit Pangeran Sambernyawa ‘mulat sarira hangrasa wani, rumangsa melu handarbeni, wajib melu hangrungkebi’ masih relevan hingga kini. Sebagai ajang untuk berani mawas diri, turut bekerja, berjuang, ikut memiliki, dan wajib ikut menjaga sivitas kita,” ungkap Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Andrian Gandi W, M.Pd. Hal ini menurutnya sangat penting, untuk akselerasi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dalam segala hal.
Rektor Inisnu Temanggung, Dr. KH. Muh Baehaqi, MM yang sedang berada di Medan, Sumatera Utara dalam acara Rakernas LPTNU turut menyampaikan apresiasinya. Dia berharap di usia 53 tahun Inisnu semakin dewasa sehingga mempercercepat akselerasi Inisnu menjadi Unisnu.
Pada kesempatan tersebut Muchammad Tolchah menuturkan tentang kondisi pendidikan di Finlandia. “Finlandia yang dianggap terbaik saja, ternyata masih terdapat kekurangan. Statistik juga membuktikan itu. Kita perlu membuka mata lagi. Seringkali ada upaya simplifikasi. Ada suatu anggapan jika suatu negara ingin maju, maka perlu benchmarking. Benchmarking tidak harus dari satu negara tertentu. Kita bisa belajar ide dari praktik baik di negara lain kemudian kita olah sesuai konteks kita,”ujarnya dalam acara yang dipandu Effi Wahyuningsih, M.Pd.
Lanjut Tolchah dengan model yang banyak ujian, ulangan, hafalan yang menurut para ahli menjajah siswa, memang terdapat kekurangan. Namun juga punya kelebihan. Softskill siswa dengan sistem seperti ini, malah memiliki kemampuan survive yang tinggi.
“Kita tidak perlu inferior atau rendah diri, kita punya dedikasi dan pengabdian yang tinggi,” tandasnya. (rls/lis) Editor : Lis Retno Wibowo