Soroti Kasus Perundungan, Wagub Taj Yasin Minta Optimalkan Upaya Pencegahan

Lis Retno Wibowo • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 12:02 WIB
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. (Istimewa)
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. (Istimewa)

 

RADARMAGELANG.ID, Semarang – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menyatakan, kasus perundungan  (bullying) masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang perlu diatasi oleh semua pihak.

Hal ini menyusul adanya  kasus bullying di Jateng, termasuk kasus dugaan bullying yang siswa MTs di Kabupaten Pati dan kasus di Kabupaten Pemalang akhir-akhir ini.

Oleh karenanya, ia meminta kepada semua pihak terlibat dalam upaya pencegahan. Menurutnya, upaya pencegahan tidak cukup dilakukan di lingkungan sekolah.

Tetapi harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga lembaga pendidikan, termasuk pesantren.

Baca Juga: Legislator Apresiasi Revisi Perda Perlindungan Anak Kota Magelang, Dorong Aturan Cyber Bullying dan Pembangunan Safe House

"Bullying ini menjadi PR kita bersama. Bukan hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga sampai ke pesantren. Karena itu, kita harus betul-betul melakukan langkah pencegahan dan edukasi," kata Taj Yasin usai menghadiri Rapat Koordinasi Daerah Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Grhadika Bhakti Praja, Semarang, Kamis (6/8/2026).

Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mendorong berbagai upaya preventif.

Termasuk salah satunya melalui Forum Anak Pesantren sebagai ruang edukasi dan partisipasi anak dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman.

Selain itu, pendidikan karakter dan pencegahan perundungan juga mulai diperkuat sejak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

"Kemarin saat Rapat Koordinasi PAUD, kami menyampaikan bahwa salah satu yang harus dibekali kepada para guru adalah bagaimana menciptakan suasana yang nyaman bagi anak-anak. Jangan sampai mereka diberikan beban yang berlebihan," ujarnya.

Taj Yasin menilai, setiap kasus bullying harus ditangani dengan melihat akar persoalannya.

Lingkungan tempat anak tumbuh dan berinteraksi perlu dianalisis agar penyebab perundungan dapat diidentifikasi secara tepat.

"Permasalahan itu harus kita analisis. Jangan-jangan sumbernya ada di lingkungan sekitar, kemudian terbawa ke sekolah. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dilakukan di lingkungan sekolah saja," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang intensif antara sekolah dan orang tua dalam memantau perkembangan perilaku anak, baik di lingkungan pendidikan maupun di rumah.

"Kita harapkan sekolah-sekolah memiliki komunikasi yang baik dengan orang tua. Bagaimana perilaku anak di sekolah dan bagaimana perilaku mereka di rumah harus saling diketahui. Dengan begitu, potensi bullying bisa ditekan sejak dini," ujar Taj Yasin.

Menurut dia, meningkatnya laporan atau pengaduan terkait kasus perundungan justru menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk melaporkan setiap dugaan kekerasan terhadap anak.

"Dengan adanya aduan-aduan ini saya justru senang. Artinya, semakin banyak yang berani melapor, semakin banyak pula kasus yang bisa kita tangani. Itu menunjukkan kepedulian masyarakat semakin baik," kata Taj Yasin.

Ia berharap seluruh elemen masyarakat terus memperkuat sinergi dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk perundungan sehingga anak-anak di Jawa Tengah dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. (rls/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
bullying Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen perundungan