Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Gagal Berangkat Umrah, Belasan Korban Geruduk Biro Umrah Al Amanah di Java Mall Semarang, Pemiliknya Diseret ke Polrestabes Semarang

Ida Fadilah • Senin, 27 April 2026 | 08:13 WIB
Belasan orang korban penipuan umrah menggeruduk Biro Umrah Al Amanah yang berkantor di Java Mall Kota Semarang, Minggu (26/4/2026) malam. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG )
Belasan orang korban penipuan umrah menggeruduk Biro Umrah Al Amanah yang berkantor di Java Mall Kota Semarang, Minggu (26/4/2026) malam. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG )

RADARMAGELANG.ID, Semarang- Belasan orang yang diduga korban penipuan umroh menggeruduk Biro Umrah Al Amanah yang berkantor di Java Mall Jalan MT Haryono Kota Semarang, Minggu (26/4/2026) malam. 

Pemilik Biro Umrah Henddry Utomo (topi putih) tidak berkutik saat didatangi para korban.

Kedatangan mereka para korban karena mengalami kerugian hingga ratusan juta.

Mereka tak kunjung diberangkatkan umrah sejak Desember 2025, padahal sudah membayar lunas.

Penggerudukan dilakukan mulai pukul 20.00 hingga mal tutup.

Para korban mengamuk meminta pertanggungjawaban.

"Hayo balikin uangku Rp 275 juta! Gak bisa menghindar lagi kamu, balikin," teriak seorang korban, Arif. 

Arif datang bersama keluarganya yang gagal berangkat.

Ada anak-anak yang turut jadi korban ingin beribadah ke Tanah Suci.

Menurut Arif, semua perlengkapan sudah siap, termasuk manasik, pemberian koper, rompi dan lainnya.

Namun dikabari mendadak H-3 jika keberangkatan gagal.

Padahal, dirinya sudah mengatur izin cuti, izin sekolah, bahkan sudah berpamitan dengan keluarga.

"Mendadak sekali mengabari gagal berangkat. Padahal semuanya sudah siap. Ternyata ada banyak korban lain yang lebih dulu belum berangkat," ungkapnya.

Saat didatangi itu, Henddry mengelak.

Ia sibuk telepon.

Perlawanan cukup sengit karena saat dimintai pertanggungjawaban, Henddry berulangkali mematikan lampu.

Hal itu agar tidak tersorot kamera para pengunjung mal yang turut merekam aksi para korban.

Ketegangan terus terjadi hingga akhirnya kepolisian datang.

Setelah bernegosiasi cukup panjang dan alot, Henddry akhirnya dibawa ke Polrestabes Semarang.

Hal itu didasari atas laporan dugaan penipuan yang telah dilakukan beberapa korban.

Korban Reza Tongga asal Mijen, Kota Semarang mengatakan, ada 12 orang yang menjadi korban.

Dirinya mendaftar dua orang bersama istri dengan nilai Rp 50, masing-masing Rp 25 juta.

Dari jumlah itu pun, uang yang dikembalikan baru Rp 30 juta.

"Tentu kami ke sini meminta agar pelaku bertanggungjawab karena selalu menghindar. Kami berharap bisa ada tindak lanjut dari kepolisian, sehingga tidak ada korban dari Al Amanah ini," jelas pria 43 tahun ini.

Reza menuturkan, semestinya ia dan istri berangkat tanggal 5 Januari 2026.

Soal biaya dirinya sudah melunasi di bulan Desember 2026.

Sayangnya, menjelang keberangkatan, tiba-tiba dibatalkan oleh biro.

"Pas H-2-nya, ujug-ujug minta reschedule. Nah, saya enggak mau. Ada indikasi bahwa orang ini menipu. Sehingga di hari itu saya laporkan beliau ke Polda. Nah, saat ini sudah ditangani oleh Polrestabes. Cuman tindak lanjutnya sampai saat ini masih belum signifikan," ungkapnya.

Kecurigaan itu semakin berlanjut saat bertemu korban lain, Arif. 

Ternyata lebih parah karena telah membayar Rp 275 juta untuk lima orang.

Beda nasib, uang Arif belum dikembalikan sama sekali.

Diakui Reza, kecurigaan dimulai ketika mereka diundang untuk manasik di sebuah hotel.

Mereka menyebut lebih banyak diberikan motivasi ketimbang manasik itu sendiri.

Kemudian, ketika makan, menurutnya dari pihak biro sengaja memisahkan rombongan. 

Hal itu dirasa agar para korban saling tidak berkomunikasi. 

Ia menyebut penggerudukan itu didasari karena kantor biro masih terus beroperasi di mal.

Dirinya mengkhawatirkan hal itu dapat menjaring lebih banyak korban, sehingga akhirnya memilih menggeruduk bersama korban lain.

"Sudah dilaporkan ke polisi cuma secara operasional itu (kantor) masih buka gitu ya, sehingga bisa memancing korban-korban lain, kami khawatirnya itu," tambahnya.

Adapun alasan mereka mendaftar umrah melalui biro ini karena melihat review di internet yang cukup bagus.

Selain itu, kantor pemasaran berada di mal, yang mengindikasikan tidak bermasalah karena berani buka di tempat umum.

"Buka kantornya saja di mal ya tidak curiga, kami percaya saja. Melihat di google ya waktu itu bagus, ternyata kebalikannya," tuturnya.

Korban lain, Endang asal Tembalang menuturkan hal serupa.

Dirinya mendaftar bersama sang adik yang direncanakan berangkatnya umrah pada Januari 2026.

Sudah membayar Rp 46 juta, namun karena gagal berangkat biro mengembalikan Rp 25 juta.

Wanita 54 tahun itu mengaku kesal karena setiap kali  keberangkatan umrah selalu mundur. 

"Pokoknya ada saja alasannya, sehingga harus mundur. Padahal, pokoknya setiap ada korban yang tanya berangkat umrah bulan ini ada tidak, dijawab ada, gitu terus tapi tidak berangkat," ucapnya.

Sustiowati mengungkap hal sama.

Sepengetahuannya, ketika ada calon pendaftar langsung disampaikan bisa memberangkatkan umrah.

"Selalu dia bilang ada. Nanti langsung dia bikin drafnya itu dan langsung suruh bayar bayar bayar bayar. Saya sudah bayar Rp 26 juta karena berangkat sendiri. Uang saya baru kembali Rp 3 juta," tandasnya.

Penggerudukan itu berakhir Henddry dibawa polisi ke Polrestabes Semarang. Hal itu juga bebarengan dengan Arif yang turut melaporkan penipuan karena sebelumnya belum melapor. (ifa/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#biro umrah #penipuan #tanah suci #umrah #polrestabes semarag