Bathi Mulyono, Putra Fajar Menyingsing Tutup Usia, Pernah Jadi Target Operasi Petrus
Haryanto• Sabtu, 3 Mei 2025 | 02:33 WIB
Bathi Moelyono
RADARMAGELANG.ID, Semarang - Bathi Mulyono, pria warga Kampung Mataram, Jeruk Kingkit, Semarang Timur tutup usia.
Pendiri "Fajar Menyingsing" dan pernah menjadi terget operasi khusus yang dikenal dengan sebutan Penembakan Misterius alias Petrus semasa pemerintahan Orde Baru.
Mungkin generasi milenial belum banyak yang tahu nama Bathi Mulyono.
Namun di zaman tersebut, nama pria ini sangat familiar bagi masyarakat Kota Semarang, bahkan Jawa Tengah.
Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Magelang, Bathi Mulyono meninggal di RSCM Kencana Jakarta, Kamis (1/5/2025).
Almarhum disemayamkan di rumah duka Jalan Permata Semeru Blok C No 1A Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang.
Pantauan di lokasi, rumah almarhum berada di tepi jalan utama.
Lokasi tersebut juga dipadati warga, tak hanya tetangga tetapi juga dari luar wilayah tersebut. Sejumlah petugas kepolisian juga berada di lokasi mengatur arus lalulintas.
Di sepanjang jalan dekat rumah almarhum berjajar puluhan karangan bunga ucapan duka cita. Di antaranya dari mantan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.
Ada juga dari Ketua Baznas Kota Semarang Arnaz Agung.
Isak tangis dari keluarga almarhum pecah saat jenazah dilakukan prosesi doa sebelum menuju ke pemakaman TPU Bergota, Randusari, Semarang Selatan.
Setelah proses terakhir, brobosan di bawah keranda jenazah, selanjutnya jenazah dibawa ke TPU Bergota sekitar pukul 13.30.
Menurut orang dekat almarhum, Arti Yuniarto, meninggalnya Bathi Mulyono dikarenakan sakit yang dideritanya sudah lama.
Sebelumnya, sempat menjalani perawatan medis di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang.
"Beliau sakit awalnya itu ginjal, komplikasi, sudah setahunan. Sempat dirawat di RS Colombia Asia, RSUP Kariadi, dan RS Tlogorejo. Karena kondisi tidak membaik, lalu dirujuk ke Jakarta," ungkapnya saat ditemui di rumah duka, Jumat (2/5/2025).
Ia mengaku sempat kaget saat menerima kabar duka, Kamis (1/5/2025) sekitar pukul 18.00.
Arti Yuniarto pun langsung datang ke rumah keluarga Bathi Mulyono di Jalan Permata Semeru.
Ia menyebut, hasil perkawinannya dengan almarhumah Hayati, Bathi Moelyono memiliki enam orang anak.
Suasana di rumah duka almarhum Bathi Mulyono di Jalan Permata Semeru Blok C No 1A Kecamatan Gajahmungkue, Kota Semarang, Jumat (2/5/2025)
Namun seorang putrinya sudah meninggal lebih dulu.
Almarhumah Hayati sendiri juga asli Kampung Mataram Jeruk Kingkit Semarang Timur.
Keenam anak Bathi Mulyono, yakni Ida Budhiati (mantan komisioner KPU), Dwi Arum (sudah meninggal), Dani, Anik, Fajar, dan Anisa.
"Anak-anaknya sudah berkeluarga semua. Kalau istrinya itu kan juga sudah meninggal, tahunnya lupa. Itu meninggalnya setelah meninggalnya Dwi, sebelum 40 hari. Dimakamkan di Bergota semua," terangnya.
Menurutnya, almarhum Bathi Mulyono memiliki banyak kolega orang besar semasa hidupnya. Yuniarto mengaku, mengenal nama Bathi Mulyono sekitaran tahun 1989.
Meski belum melihat wajahnya, nama tersebut sudah tidak familiar bagi Yuniarto.
"Selama saya kerja di terminal tahun 1989 di Terboyo sampai 1992 itu hanya mengenal nama Bathi Mulyono dan belum melihat figurnya. Baru tahun 2007-2008 saya ketemu dengan beliau," kenangnya.
Setelah akrab, Yuniarto sering bertemu dan bermain di rumah almarhum.
Hingga kemudian kenal dekat dengan keluarga almarhum.
"Kebetulan tahun 2009 ada tiga anak beliau yang mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Semarang. Dwi lewat PDIP, Dani anak ketiga lewat Golkar, dan Fajar lewat Partai Demokrat. Tapi ketiga anak ini yang lolos Fajar terpilih menjadi anggota DPRD Kota Semarang dari dapil 2," terangnya.
Di mata Yuniarto, sosok Bathi Mulyono orang yang tegas dan bijaksana terhadap keluarganya atau anak-anaknya.
Menurutnya, almarhum juga sering memberikan pandangan hidup atau kesan moral kepada keluarganya.
"Beliau di mata saya itu seorang ayah yang tegas dan bijaksana, tidak pandang bulu. Semua dipukul rata, semua diberikan ketegasan untuk memberikan pelajaran hidup bagi keluarga dan anak-anaknya," jelasnya.
"Karena saya dekat dengan beliau dan keluarganya, Pak Bathi itu sosok guru dan sahabat yang enak diajak bicara sekaligus orang tua bagi saya. Selama hidup saya bukannya mengecilkan peran orang tua kandung saya sendiri, tapi Pak Bathi memang sosok orang tua yang luar biasa bagi saya," bebernya.
Ia juga sering dipanggil dan diajak duduk bareng di meja makan bersama almarhum.
Meskipun hanya melakukan obrolan ringan, namun yang disampaikan banyak manfaat maupun motivasi.
"Terakhir ketemu Jumat lalu. Kondisi bapak sedang sakit dan saya dapat informasi dari Mbak Ida. Saya sebagai bagian dari keluarga juga saya ikut ke Jakarta. Begitu masuk ke ruangan saya sempat nangis, saya tidak tahan melihat kondisi bapak seperti itu. Saya sempat menangis," katanya.
Di sisi lain, nama Bathi Mulyono memang dikenal banyak orang.
Almarhum juga memiliki kolega orang kuat.
Era tahun 1970-an menjadi orang penting dalam dunia politik.
"Kalau di politik itu yang saya dengar beliau sebagai panglima perangnya Golkar, di Jakarta juga. Kalau di Semarang, dia sangat dekat dengan tokoh Golkar," jelasnya.
Namun tak disangka, kedekatan tersebut menjadi incaran dan target pembunuhan yang dinamakan Petrus tahun 1980-an.
Adanya hal tersebut, almarhum kabur meninggalkan Kota Semarang untuk bersembunyi.
"Selama dia jadi target itu, dia lari kemudian bersembunyi di Gunung Lawu. Berapa lamanya aku kurang tahu pasti. Komunikasi ke keluarga hanya bawa koran, lalu ada berita itu. Keluarga lari menuju ke persembunyian beliau," jelasnya.
Bathi Mulyono baru berani keluar dari tempat persembunyiannya setelah dari pemerintahan Orba menghentikan operasi Petrus.
Namun sebelumnya juga nekat keluar dari persembunyiannya karena kelahiran anaknya.
"Itu beliau melihat kelahiran dengan cara sembunyi-sembunyi, karena takut kalau ketahuan," terangnya.
Selain itu, Bathi Mulyono juga pernah mendirikan perkumpulan bernama Fajar Menyingsing. Mereka yang ada di dalam perkumpulan tersebut dari kalangan preman yang ada di Semarang hingga Jawa Tengah.
"Jadi, Fajar Menyingsing itu terbentuk mengumpulkan sekitar 2.500 anggota dari preman atau istilahnya Bromocorah, semua bergabung di bawah Fajar Menyingsing yang dipimpin oleh Pak Bathi Mulyono. Dari 2500 lebih itu banyak yang menjadi target Petrus," jelasnya.
"Semoga amal beliau diterima di sisi Allah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," doanya. (mha/aro)