RADARMAGELANG.ID, Semarang - Kisah para guru honorer dengan penghasilan minim menjadi potret ketimpangan yang masih menyelimuti dunia pendidikan di Indonesia.
Guru yang menjadi ujung tombak dalam mencerdaskan anak bangs aini nyatanya masih banyak yang belum sejahera.
Sebagian dari mereka gajinya minim, bahkan bisa dibilang kurang layak.
Sebab, jumlahnya jauh dari UMR kabupaten/kota.
Keinginan guru honorer sederhana, hanya ingin setara dan mendapatkan gaji layak.
Harapan besar agar pemerintahan baru ini bisa mewujudkan mimpi tersebut.
Hana Hidayatul Muna, guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Gondoriyo, Penawangan, Kabupaten Semarang misalnya, memiliki impian ada pemerataan gaji guru baik honorer maupun wiyata.
"Kita yang wiyata, honorer ya ingin gajinya setara, minimal UMR. Masa dengan buruh pabrik jauh sekali, padahal pekerjaan kita mencerdaskan anak bangsa tapi gajinya main-main," kata Hana pada Jawa Pos Radar Semarang.
Ia menilai harus ada pemerataan kesejahteraan guru, sehingga gajinya tidak hanya untuk tranportasi pulang pergi. Ia pun mengaku sedih ketika melihat teman-teman guru di negeri yang sudah Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dengan gaji yang lumayan namun jam mengajar sama dengan guru honorer, berangkat pukul 07.00 pulang pukul14.00.
"Sedangkan kita sama jam ngajarnya tapi gajinya masih di bawah sejuta," tambahnya.
Meski di sekolah swasta, namun Hana -sapaan akrabnya- memiliki kesempatan mendapatkan fasilitas pemerintah seperti gaji yang dikeluarkan dari Kementerian Agama (Kemenag), karena madrasah ada di bawah naungan Kemenag. Syaratnya, guru yang sudah memiliki sertifikasi.
Sayangnya, kuota mendapatkan kesempatan itu cukup sulit, karena harus berebut dengan ribuan guru lainnya.
"Kemenag ada intensif namun tidak merata, harus antre bertahun-tahun gentian. Ketika guru sudah dapat sertifikasi lulus nanti kuotanya hanya sedikit. Itu pun berlaku satu kecamatan dan banyak antreannya," ucap Hana.
Demi bisa menutupi kebutuhan, ia lantas mengambil gawean sampingan dengan membuka bimbingan belajar (bimbel) alias les.
Ia juga bersyukur dengan manajemen sekolahnya yang tetap memberikan kesejahteraan bagi pengajar.
Ia mengucap syukur meski gaji tak sebanding dengan beban kerja yang berat. Pasalnya guru tidak hanya mengajar namun juga mengurus administrasi.
"Sejauh ini sudah Alhamdulillah. Nggak mau ngeluh karena banyak guru mengajar dengan gaji sedikit, bahkan di bawah Rp 500 ribu,” terangnya.
“Jadi kalau mengeluh gaji sedikit nggak wangon, apalagi saya juga passion ngajar, jadi suka saja sih," tandasnya.
Terdesak Kebutuhan, Tetap Bertahan
Terdesak kebutuhan, menjadikan para guru honorer tetap bertahan.
Salah satunya Ifa, guru honorer di sebuah sekolah dasar di Kota Salatiga.
Meski UMK di Kota dengan slogan Hati Beriman ini Rp 2,3 juta.
Gajinya sebagai guru hanya Rp 600 ribu.
Ia mampu bertahan selama tujuh tahun menjadi guru, karena terdesak kebutuhan.
“Gaji pokok Rp 600 ribu, masih bertahan sampai saat ini ya karena kebutuhan,” jelas Ifa.
Wanita asal Kabupaten Semarang ini pun mengungkapkan suka dukanya menjadi guru. Ketika jenuh karena gaji tak sebanding dengan kerja kerasnya, Ifa selalu memotivasi diri untuk terus bekerja.
Sebab, dirinya lah yang menjadi pondasi yang menentukan karakter anak-anak ke depannya.
“Sukanya bertemu dengan anak-anak yang bisa menghibur suasana hati. Tapi dukanya ya itu gaji honorer belum sesuai UMR. Tetap bertahan,” ungkapnya.
Meski penghasilan untuk kehidupan sehari-hari bisa dibilang kurang.
Ifa mengaku tak mempunyai pekerjaan sampingan. Sebab ia harus bekerja sembilan jam dalam sehari.
Waktunya untuk mencari sampingan seperti membuka bimbingan belajar di rumah pun tak bisa.
Sebab, saat weekend pun harus mengerjakan administrasi sekolah yang menumpuk.
“Tidak ada kerjaan (sampingan) untuk hari Sabtunya guru tetap masuk dan mengerjakan administrasi. Jadi tidak ada sampingan seperti les karena sudah capek di sekolah,” bebernya.
Yang menjadikannya terus bertahan selain anak-anak adalah teman-temannya. Lingkungannya mendukung untuknya terus menjadi guru.
Kendati demikian pihaknya pun berharap pemerintah lebih memperhatikan nasib guru.
Seperti penambahan kuota untuk PPPK hingga penambahan gaji.
“Lihatlah kami Pak, kami juga ingin sejahtera,” harapnya. (ifa/kap/zal)
Editor : H. Arif Riyanto