Sambil Menangis, Ibunda dr Aulia Risma Ceritakan Perundungan yang Dialami Putrinya di PPDS FK Undip, Tolong Bantu Saya Cari Keadilan, Ya Allah!
Ida Fadilah• Kamis, 19 September 2024 | 22:33 WIB
Ibunda almarhumah dr Aulia Risma Lestari, Nuzmatun Malinah menangis didampingi pengacaranya, Misyal memberikan keterangan pers, Rabu (18/9/2024) malam.
RADARMAGELANG.ID, Semarang -Ibu mana yang tidak sedih saat putri kesayangan pergi untuk selama-lamanya.
Apalagi sang putri seorang dokter dan meninggal dengan cara tak wajar.
Itu juga yang dirasakan Nuzmatun Malinah, ibunda almarhumah dr Aulia Risma Lestari.
Wanita berhijab itu menangis pilu atas kehilangan anaknya.
Ia tak kuasa menahan air mata mengingat kenangan tentang sang putri yang ditemukan meninggal di kamar kosnya pada 12 Agustus karena diduga bunuh diri dengan menyuntik dengan obat penenang.
Nuzmatun lantas menuntut keadilan atas meninggalnya dr Aulia yang diduga karena adanya perundungan selama menjadi mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip).
"Bantulah saya. Anak saya harusnya ke sekolah, cari ilmu. Tapi apa yang didapatkan? Apa yang terjadi," katanya seraya menangis saat konferensi pers, Rabu (18/9/2024) malam.
"Tidak hanya anak saya (meninggal), suami saya juga (meninggal). Tolong bantu saya. Tolong bantu saya cari keadilan. Tidak hanya satu nyawa, tapi suami saya yang mendampingi saya. Tolong bantu saya cari keadilan. Ya Allah," sambungnya lirih sembari mengusap air mata.
Perempuan berbaju batik itu menceritakan kejadian-kejadian sebelum dr Aulia merenggut nyawa. Di antaranya, terkait iuran yang harus disetor selama menjalani PPDS.
Nilai total yang telah diberikan almarhumah sebesar Rp 225 juta.
Jumlah tersebut diketahui dari rekening koran.
Namun, rincian penggunaannya belum diketahui karena masih berproses di Polda Jateng.
Yang pasti, sepengetahuan Nuzmatun, anaknya terakhir membayarkan pada Agustus sebagai iuran bulanan.
"Terakhir membayar bulanan, Agustus itu masih. Walaupun nominalnya kecil. Kalau selebihnya itu untuk kebutuhan se-angkatan," jelasnya.
Adapun jumlah atau nominal besar yang disetorkan dr Aulia ketika saat masih semester awal.
Pada kesempatan itu, ia menampik adanya isu bahwa dr Aulia melakukan pinjaman online (pinjol) demi menutup kebutuhan kuliahnya ini.
"Bohong, yang pinjol itu bohong. Kami masih punya uang," tandasnya.
Nuzmatun juga menambahkan dr Aulia kerap mengeluh.
Sejak 2022, korban bercerita jika jam 03.00 WIB sudah harus siap di ruangan dengan peralatan yang sudah disiapkan.
Kemudian pulangnya juga dini hari, pukul 01.00 ataupun 01.30 WIB.
Pulang larut malam itu sudah menjadi rutinitas saban hari.
Akibat kelelahan, sampai pada tanggal 22 Agustus 2022 jatuh dari sepeda motor dan mengalami sakit di bagian kaki dan punggung.
Bahkan saat kondisi sakit, dr Aulia masih kuliah.
Namun, ia juga mengalami kekerasan berupa dibentak-bentak dinilai karena tugasnya lelet. Nuzmatun juga menyampaikan jika anaknya bercerita disuruh bawa makanan, minuman, naik dari lantai satu ke lantai dua tidak boleh pakai troli.
Atas hal itu, ia menyampaikan ke kepala program pendidikan (kapodri) agar putrinya mendapatkan keringanan.
"Jahat sekali Ya Allah dengan kakinya yang pincang-pincang diseret, sakit. Makanya saya minta ke ketua prodi. Saya minta kondisi seperti itu diberikan prioritas. Saya menghadap kaprodi agar tidak ada perlakuan seperti itu. Dijawabnya itu untuk melatih mental dalam menghadapi berbagai pasien. Saya tanya apakah tidak ada cara lain," tambahnya.
"Disuruh berdiri satu jam.. Saya bilang ke kaprodi, dijawab saya dulu lima jam. Bayangkan kakinya bengkak.. Suruh berdiri satu jam.. Ya Allah," sambungnya sambil mengelus dada menangis.
Ia mengakui anaknya mengalami sakit setelah melanjutkan kuliah PPDS Anetesesi.
Sebelumnya, ketika kuliah dokter umum maupun bekerja di RSUD Kardinah Tegal tidak sakit. Namun keluhan sakit dialami karena jatuh dari sepeda motor hingga operasi dua kali.
Perundungan lain yang dialami berupa kekerasan verbal, dr Aulia dibentak-bentak.
Hal itu membuat Nuzmatun terpukul mengingat dirinya dalam besarkan anak dengan halus lemah lembut.
Namun, begitu masuk PPDS dididik dengan kata-kata kasar yang menggelegar hingga membuat almarhum ketakutan.
Selama ini, memang anaknya lebih dekat dengan sang ayah.
Setiap selesai kuliah dr RSUP Dr Kariadi, dipastikan menelepon.
Saat berkomunikasi lewat handphone, ditanyakan berangkat jam berapa dan pulang jam berapa, apa saja aktivitas saat di rumah sakit.
"Ketika pulang itu ditunggu sama papahnya, selalu nunggu. Mau berangkat itu juga papahnya nungguin, selalu telponan. Pah aku berangkat pah aku pulang, gitu. Pah aku capek aku tidur dulu, sama papanya sudah tidur dulu nanti aku bangunkan. Mau jam berapa aku bangunkan, kalau minta dibangunkan jam 3, jam setengah 3 papahnya sudah bangun," jelasnya.
Oleh karenanya, begitu mengetahui kabar bahwa anaknya meninggal diduga karena bunuh diri sang ayah kaget dan jatuh sakit. Dan akhirnya meninggal.
Nuzmatun menuntut keadilan.
Ia berharap para pelaku segera ditetapkan sebagai tersangka untuk mempertanggungjawabkan perbuatan perundungan.
"Dari kasus ini saya menuntut keadilan yang seadil-adilnya," tuntutnya. (ifa/aro)