RADARMAGELANG.ID, Semarang-Planetarium Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang akan digunakan untuk pemantauan hilal menentukan awal Ramadan 2024.
Pemantauan dilakukan dengan menggunakan tiga teropong.
Namun demikian, kuat prediksi hilal belum terlihat sehingga berpotensi berbeda dengan Muhammadiyah yang telah menentukan awal Ramadan pada 11 Maret.
Kepala Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Ahmad Syifaul Anam mengungkapkan, pemantauan hilal akan digelar pada Minggu (10/3/2024).
Pemantauan hilal itu juga akan melibatkan beberapa instansi seperti Kemenag Jateng, MUI Jateng, Pengadilam Agama, ormas, dan para perukyah (pengamat).
“Ada tiga teropong berteknologi tinggi yang akan digunakan. Yaitu teropong besar untuk melihat objek kedalaman langit (deep sky object), teropong hilal, dan teropong matahari,” ujarnya saat dikonfirmasi Kamis (7/3/2024).
Ia menyebut, penentuan awal Ramadan tahun ini berpotensi kembali berbeda.
Dari peralatannya pun tak berbeda dengan tahun sebelumnya.
Namun, kondisi astronomi saat ini cukup memberikan dampak yang signifikan dalam penentuan awal Ramadan.
Menurut data astronomis yang ia miliki, kemungkinan posisi hilal terlihat sangatlah kecil. Bahkan, memungkinkan gagal terlihat atau sama sekali tak terlihat.
“Ketika nantinya ada kesaksian melihat hilal justru malah diragukan kesaksiannya. Karena memang kecilnya cahaya hilal atau redupnya cahaya sangat rendah sekali. Maka tidak bisa diidentifikasi dengan mata atau bahkan teleskop,” jelasnya.
Dijelaskan, faktor perubahan fase ini dipengaruhi oleh hubungan rotasi matahari dengan bumi.
Sementara cuaca menjadi variabel kedua yang mempengaruhi pemantauan hilal. Ditambah saat ini cuaca seringkali mendung di sore hari yang menambah kemungkinan tidak tampaknya hilal.
“Hilal agak sulit dilihat dengan mata ataupun terpong. Apalagi diperparah dengan langit mendung atau hujan, saya kira hampir-hampir diduga tidak bisa dilihat,” tandasnya.
Namun demikian, lanjut Syaiful, persoalan terbesar bukan pada faktor cuaca. Karena memang faktor utama dipengaruhi oleh situasi astronomis saat ini bahwa hilal memang sedang dalam posisi sangat rendah dan sangat redup.
“Kalaupun langit dalam kondisi cerah, pasti hilal kecil kemungkinan untuk bisa terlihat,” jelasnya. (mia/ton)
Editor : H. Arif Riyanto