SEMARANG, Radar Semarang- Harga beras terpantau masih bertahan tinggi melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Di Pasar Dargo Semarang, harga eceran beras mulai Rp 16.000 – Rp 20.000/kg.
Padahal berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional No 7/2023, HET beras berlaku sejak Maret 2023 adalah Rp. 10.900/kg medium, sedangkan beras premium Rp 13.900/kg untuk Zona 1 yang meliputi Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi.
HET beras di Zona 2 meliputi Sumatera selain Lampung dan Sumsel, NTT, dan Kalimantan dipatok Rp 11.500/kg medium dan beras premium Rp 14.400/kg
Sementara di zona ke-3 meliputi Maluku dan Papua, HET beras medium sebesar Rp 11.800/kg, dan untuk beras premium sebesar Rp 14.800/kg.
Salah satu pedagang beras di Toko Budi, Edi, menjelaskan, kenaikan harga beras sudah terjadi sejak Oktober 2023.
Apalagi ditambah bencana banjir di daerah Demak dan Purwodadi.
Karena di daerah tersebut hampir panen raya.
Semua sudah menunggu jika panen padi, maka harga bisa sedikit turun.
"Tapi ada musibah banjir, apalagi dampaknya ke sawah juga, Maka, harganya meningkat tajam," katanya.
Harga beras mengalami kenaikan hingga Rp 4.000/kg untuk semua jenis beras.
Saat ini harganya Rp 16.000 – Rp 20.000/kg.
Padahal sebelumnya ia menjual Rp 12.500 - Rp 16.000/kg.
"Kami menyuplai beras Delanggu Klaten, menyasar menengah ke atas," ujarnya.
Akibatnya, pembeli beras agak menurun.
Berbeda dengan sebelumnya.
Kata dia, jika harga beras akan mengalami kenaikan, ibu-ibu akan berbondong-bondong membeli beras dan menyetok.
"Tapi, sekarang mungkin karena perputaran ekonomi kurang bagus, ya berkurang," katanya.
Ia menambahkan, produksi beras secara modern bisa awet selama enam bulan.
Sedangkan produksi beras secara tradisional hingga kering hanya sampai tiga bulan.
"Ini juga menjadi penyebab para pedagang menyetok, kan bisa tahan hingga enam bulan," ujarnya.
Tidak hanya beras, Edi juga mengeluhkan harga beras ketan yang meroket.
Ketan yang dijual dipasok dari daerah Cirebon dan wilayah Jawa Barat lainnya karena kualitasnya baik jika dibuat hidangan hajatan.
"Dulunya harganya Rp 14.000/kg, sekarang Rp 22.000/kg," keluhnya.
Pedagang beras lainnya, Supono, masih sibuk menjemur beras.
Ada kebocoran di atap lapaknya.
Beras yang dijual dipasok dari daerah Jawa Timur.
"Harganya sampai Rp 400.000 per karung isi 25 kg. Yang paling murah Rp 360.000," ujarnya.
Dikatakan, kenaikan harga beras terus melonjak, karena biaya produksi mahal dan panen padi tidak maksimal.
"Apalagi banyak bencana, hasilnya tidak maksimal, biasanya 5 ton, ini hanya 3 ton saja," tandasnya.
Seorang pembeli Sri Sabar mengaku, kenaikan harga beras membuat ia harus mengurangi konsumsi beras.
Ia biasa membeli Rp 325.000 per karung isi 25 kg, sekarang naik menjadi Rp 365.000.
"Ya masaknya dikurangi, Mas, karena harganya naik," katanya. (fgr/aro)
Editor : H. Arif Riyanto