RADARMAGELANG.ID, Mungkid – Apis Cerana, atau yang lebih dikenal sebagai lebah madu Timur, merupakan salah satu spesies lebah asli Asia yang tersebar luas di Indonesia. Lebah ini banyak diminati untuk budidaya karena perawatannya tergolong mudah dan produksi madunya alami. Salah satu pelaku budidaya lebah jenis ini adalah Griya Lebah Tuksongo, yang berlokasi di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Griya Lebah Tuksongo berdiri sejak awal pandemi pada 2021 dan kini menjadi salah satu destinasi menarik untuk belajar sekaligus mengenal lebah Apis Cerana lebih dekat.
Usaha ini berawal dari sang owner, Sukismanto, yang memiliki ketertarikan dengan dunia lebah sejak kecil. Awalnya, ia hanya melakukan budidaya lebah secara personal di area hutan Menoreh. Namun, seiring berjalannya waktu, usaha ini diperluas menjadi tempat wisata edukasi lebah yang memungkinkan pengunjung menyaksikan langsung aktivitas lebah.
Di Griya Lebah Tuksongo, pengunjung dapat melihat langsung lebah yang mengerubungi kangsi, sarang lebah yang digantung dalam frame kayu khusus dan disimpan dalam kotak. Setiap kotak berisi 7-8 sisir frame yang dapat memproduksi sekitar satu liter madu, bahkan lebih saat musim bunga sedang melimpah.
Menariknya, meskipun kotak-kotak tersebut diletakkan berdekatan, masing-masing lebah tetap mampu mengenali sarangnya melalui insting dan aroma ratunya, sehingga tidak pernah salah masuk wilayah.
Dalam satu koloni lebah terbagi menjadi lebah ratu, jantan, dan betina. Kebanyakan lebah yang ada di kotak merupakan lebah betina pekerja yang berwarna loreng kuning-hitam, sedangkan lebah jantan jumlahnya lebih sedikit dan dominan berwarna hitam.
“Tugas lebah jantan hanya kawin, kemudian mati. Sebaliknya, lebah ratu memiliki umur lebih lama, bisa bertahan bulanan hingga tahunan, dan biasanya hanya ada satu dalam setiap kotak,” ujar tour guide Griya Lebah Tuksongo, Eva.
Budidaya madu biasanya dilakukan dengan panen sebanyak 2-3 kali per tahun, dengan rentang waktu 4-6 bulan sekali.
“Untuk prosesnya pertama sarang lebah terlebih dahulu diasapi untuk mengusir lebah, lalu dimasukkan ke dalam mesin ekstraktor yang berputar agar madu bisa diperas keluar tanpa merusak sarang. Sarang yang telah diperas kemudian dikembalikan dan madu yang dihasilkan bisa langsung dikemas,” tutur Eva kepada tim Jawa Pos Radar Magelang, Kamis (13/11) lalu.
Eva menambahkan, sarang lebah biasanya bisa digunakan hingga 3-4 kali sebelum diolah menjadi lilin (malam) untuk proses membatik.
Griya Lebah Tuksongo menghasilkan empat jenis madu yang khas, yaitu madu kaliandra, madu rambutan, madu pahit dari bunga mahoni, dan produk terlaris mereka, madu bepollen yang kaya kandungan royal jelly. Masing-masing jenis madu ini memiliki rasa serta manfaat kesehatan berbeda, mulai dari meningkatkan imunitas hingga meningkatkan kecerdasan anak.
Produksi madu juga dipengaruhi oleh jenis bunga yang dihinggapi lebah. Madu dari bunga buah-buahan biasanya lebih banyak kuantitasnya dibanding madu dari bunga hias yang relatif sedikit.
Semua madu yang dijual di sini 100% murni tanpa campuran gula ataupun bahan pengawet, dengan harga kompetitif sekitar Rp110.000 sampai Rp140.000 untuk kemasan botol 250 ml.
Selain sebagai sumber madu berkualitas, lebah Apis Cerana juga dimanfaatkan untuk terapi sengat yang dipercaya dapat membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Pada terapi ini, lebah sengat ditaruh di beberapa titik tubuh untuk merangsang penyembuhan.
Meski budidaya lebah ini terbilang sederhana, tantangan terbesar adalah pengaruh cuaca. Saat hujan, madu yang dihasilkan cenderung encer, sementara cuaca panas berkepanjangan membuat lebah tidak banyak memproduksi madu karena berfokus menyimpan cadangan makanan. Kandang lebah juga harus selalu dijaga kebersihannya dari hama semut, nyamuk, dan kecoa agar proses budidaya berjalan optimal.
Sejak dibuka sebagai tempat wisata edukasi, Griya Lebah Tuksongo telah menarik banyak pengunjung dari lokal hingga mancanegara. Mereka bisa melihat langsung kehidupan lebah dan mencoba tester empat jenis madu yang diproduksi. (mg7/mg9)
Editor : H. Arif Riyanto