RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Bangunan eks Stasiun Temanggung masih berdiri kokoh di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Banyuurip, Kecamatan Temanggung.
Stasiun itu pernah berjaya pada masa perjuangan dalam mengantarkan para pejuang ke tanah Parakan, Temanggung.
Stasioen Temanggoeng didirikan oleh pemerintah Hindia-Belanda melalui Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), dengan arsitek seorang Tinghoa bernama Ho Tjong An.
Stasiun itu dioperasikan kali pertama pada tahun 1907. Saat itu digunakan untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan.
Lalu pada masa perjuangan, stasiun itu membawa para pejuang ke Parakan. Yakni untuk mengasah bambu runcing melawan penjajah.
Kemudian, operasional Stasiun Temanggung ditutup oleh pemerintah RI pada awal tahun 1970-an.
Artinya, bangunan Stasiun Temanggung sudah berusia sekitar 117 tahun hingga saat ini.
"Temanggung dalam perkereta apian ini merupakan jalur sekunder. Karena jalurnya Secang-Parakan," kata Mochammad Novaldy Kharismawan, salah satu pegiat sejarah Temanggung.
Stasiun tersebut ditutup karena kalah saing dengan kendaraan bus yang pada masanya populer di Kabupaten Temanggung. Faktor lainnya, karena jalur di Temanggung yang cenderung bukit atau naik turun.
Meski begitu, terdapat tiga titik stasiun kereta api yang berada di Kabupaten Temanggung. Yakni Stasiun Temanggung, stasiun di Kedu, dan Stasiun Parakan.
"Hanya saja yang di Kedu itu sudah tidak ada. Kalau di Parakan bangunan stasiun masih ada tapi tidak terawat," ujar Novaldy atau yang akrab disapa Ucok.
Rute kereta api di Temanggung dimulai dari Secang, Magelang. Kemudian ke Temanggung, lalu Stasiun Kedu, dan berakhir di Parakan.
Kini stasiun yang ada di Kabupaten Temanggung terbengkalai dan tidak terawat. Ucok mengaku, terus berusaha menghidupkan sejarah tentang Temanggung.
Terutama terkait bangunan-bangunan heritage yang ada di wilayah Kota Temanggung. Itu dilakukan melalui kegiatan walking tour yang di inisiasinya sendiri.
Ia mengajak muda-mudi untuk berjalan kaki menyusuri tempat bersejarah di Temanggung.
"Cerita sejarah di Temanggung ini banyak. Selain kereta api juga ada alun-alun, situs candi, dan bangunan-bangunan heritage. Saya berusaha agar sejarah lokal Temanggung bisa dikenal masyarakat luas," akunya.
Ucok berharap, ada perhatian khusus dari pemerintah daerah terkait bangunan heritage di Kabupaten Temanggung.
Pasalnya, Kota Tembakau ini memiliki sisi unik dari segi peradaban hingga gaya bangunan pada zaman dulu.
"Semoga ada perhatian ke bangunan heritage. Bisa dimanfaatkan juga dengan kolaborasi antara pemerintah daerah dengan pengelola seperti PT KAI.
Jadi bisa mengenalkan Temanggung ke masyarakat luas lewat sejarahnya juga," harapnya.
Adapun walking tour Temanggung yang diinisiasi Ucok sudah berlangsung sejak 2024.
Bahkan, sudah melakukan 15 kali walking tour di tempat bersejarah di Kabupaten Temanggung. Seperti Stasiun Temanggung, Situs Liyangan, dan Alun-alun Temanggung.
Para peserta merupakan warga lokal Temanggung. Kemudian ada yang dari Jogja, Solo, hingga Magelang.
Dalam sekali jalan, biasanya ada 8-15 peserta. Selama menjalani tour, kendala yang dialami adalah cuaca.
"Pengalaman tidak mengenakkan selama tour itu cuaca. Bahkan kegiatan tour pernah batal karena hujan. Dan sempat baru setengah jalan juga harus berhenti," ujar Ucok. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo