RADARMAGELANG.ID–Balkondes Kenalan yang terletak di Dusun Kenalan 2, RT 10 RW 3, Desa Kenalan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, merupakan salah satu balai ekonomi desa yang masih beroperasi di pelosok perbukitan Menoreh.
Namun, kondisi terkini menunjukkan bahwa tempat ini menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaannya.
Balkondes Kenalan resmi dibuka pada April 2017 di bawah kepemimpinan Kades Kamidi, dengan dukungan dari Kementerian BUMN yang saat itu dipimpin oleh Rini Soemarno yang juga turut hadir dalam peresmian.
Berlokasi di area seluas 1.888 meter persegi, lahan ini sebelumnya merupakan tanah bengkok yang ditanami singkong.
Wilayahnya terbagi oleh Kali Sindon, dengan sebuah jembatan yang menghubungkan area umum dan penginapan di sisi kanan dan kiri sungai.
Meskipun berada di kawasan yang menawarkan ketenangan dan kondisi alam yang asri, akses menuju Balkondes Kenalan terbilang cukup sulit.
Jalan menuju ke lokasi meski sudah diaspal masih dipenuhi lubang, dengan tebing dan jurang di sisi kanan-kirinya, serta hutan.
Permukiman dapat dijumpai di sepanjang jalan, namun dengan jarak yang relatif jauh satu sama lainnya.
Saat ini, fasilitas yang masih ditawarkan oleh Balkondes Kenalan hanyalah homestay atau penginapan, yang terdiri atas 10 kamar dengan fasilitas AC, TV, pemanas air, dan sarapan.
Tarif yang dikenakan seragam, yakni Rp250 ribu per malam, dengan pilihan enam kamar berisi double bed dan empat kamar berisi twin bed.
Selain penginapan, terdapat tiga pendopo, musala, toilet, dan beberapa gazebo di dalam kompleks Balkondes.
Sayangnya, beberapa bangunan kayu tampak mulai lapuk serta meja kursinya banyak yang tertutup debu akibat kurangnya perawatan.
Sebelum pandemi Covid-19, Balkondes Kenalan mengalami masa kejayaan, didukung oleh program CSR dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang turut berperan dalam pembangunan, pemasaran, promosi, dan pelatihan.
Namun, setelah pandemi, komunikasi dengan CSR terputus dan hingga kini belum ada terobosan baru untuk membangkitkan kembali Balkondes Kenalan.
Menurut pengelola Balkondes Kenalan Irwanudin, 39, operasional saat ini masih berjalan meski stagnan.
“Di sekitar sini itu bisa dibilang Balkondesnya jalan di tempat,” ujarnya.
Salah satu penyebabnya adalah lokasinya yang jauh dari Candi Borobudur, sehingga tidak sepopuler Balkondes lain yang lebih dekat dengan objek wisata utama.
Meskipun demikian, homestay ini tetap menarik minat wisatawan yang mencari ketenangan.
“Saat ini, kita tidak punya sesuatu untuk ditonjolkan yang bisa dijadikan sebagai keunggulan, namun berdasarkan review, pengunjung suka ketenangan dan kenyamanannya saat menginap,” tambah Irwanudin.
Selain sebagai tempat menginap, Balkondes Kenalan sebelumnya menjadi wadah bagi pelaku UMKM lokal untuk memasarkan produk buatan desa, seperti slondok (keripik singkong), jenang leri yang berbahan dasar jagung, serta wedang kamijoro yang terbuat dari daun serai.
Sayangnya, setelah pandemi peran ini mulai berkurang meskipun produksi slondok masih berlangsung karena melimpahnya tanaman singkong di wilayah tersebut.
Dari segi kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), Balkondes Kenalan memberikan sumbangsih sebesar 20 persen per tahun kepada desa.
Namun, tanpa inovasi baru, keberlanjutan kontribusi ini bisa terancam dan tidak menentu.
Saat ini, Balkondes Kenalan masih menerima booking untuk acara gathering dan resepsi dengan kapasitas terbatas, yakni tidak sampai 300 orang.
Pengunjung terbanyak datang pada musim liburan akhir tahun seperti Natal dan Tahun Baru, serta pada akhir pekan. Selain itu, event marathon juga mendatangkan tamu yang menginap ketika Balkondes di wilayah lain sudah penuh.
Sejumlah tokoh terkenal pernah mengunjungi tempat ini, di antaranya adalah Menteri BUMN 2014-2019 Rini Soemarno dan penyanyi Andien.
Tanpa inovasi dan perbaikan infrastruktur, Balkondes Kenalan berisiko semakin tertinggal dibandingkan Balkondes lain di Kecamatan Borobudur.
Diperlukan dukungan dari berbagai pihak agar tempat ini kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi dan wisata bagi masyarakat sekitar. (rizky wibowo/aro)
Editor : H. Arif Riyanto