RADARMAGELANG.ID - Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah momen bersejarah yang tidak hanya dikenang melalui kata-kata, tetapi juga lewat gambar yang tertangkap lensa kamera.
Di balik dokumentasi ikonik tersebut, ada kisah heroik dua bersaudara, Frans Soemarto Mendur dan Alexius Impurung Mendur, yang berani mengambil resiko demi mengabadikan saat-saat penting kemerdekaan Indonesia untuk generasi selanjutnya.
Frans dan Alex Mendur lahir dan besar di Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara, dengan ketertarikan besar pada dunia fotografi. Mereka mulai menekuni profesi fotografer sejak muda.
Alex berpengalaman sebagai jurnalis dan fotografer di surat kabar Java Bode pada 1930-an dan dan majalah Wereld Nieuws en Sport in Beld. Kemudian Frans menyusul ke Jakarta (waktu itu bernama Batavia) untuk belajar fotografi dari sang kakak.
Kedua bersaudara ini berkarier sebagai fotografer di masa pendudukan Jepang, bekerja untuk kantor berita Jepang Domei Tsushin, Asia Raya, dan Djawa Shimbun Sha yang membuka peluang bagi mereka untuk mendokumentasikan banyak peristiwa penting saat itu.
Pada malam 16 Agustus 1945, ketika kabar bahwa proklamasi kemerdekaan akan segera dibacakan sampai ke telinga mereka, Frans dan Alex mengambil keputusan berani untuk menuju ke rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta.
Mereka bergerak secara diam-diam dan mengambil posisi berbeda agar bisa mendokumentasikan momen tersebut tanpa diketahui oleh tentara Jepang, yang masih menguasai wilayah tersebut dan bisa saja menghalangi pengambilan gambar tersebut.
Kedua fotografer ini hanya membawa kamera Leica yang berisi film terbatas, karena pada masa itu alat dan bahan fotografi sangat minim.
Kemudian di tanggal 17 Agustus 1945, Frans Mendur berhasil mengambil tiga foto penting: saat pembacaan teks proklamasi, pengibaran bendera merah putih, dan suasana sekitar upacara.
Foto-foto ini kemudian menjadi gambaran visual abadi dari hari kemerdekaan yang dikenang semua orang Indonesia.
Sayangnya, misi mereka tidak berjalan mulus. Setelah pengambilan gambar selesai, gerak-gerik Alex Mendur diketahui oleh tentara Jepang. Kamera miliknya dirampas dan dihancurkan untuk menghilangkan bukti bahwa proklamasi telah diabadikan.
Meski demikian, Frans berhasil menyelamatkan film negatif tersebut dengan menyembunyikannya di kantor berita Asia Raya.
Berkat keberanian dan kecerdikan mereka, hasil foto ini tetap bisa diselamatkan dan kemudian dipublikasikan di harian Merdeka pada Februari 1946.
Foto-foto karya Mendur bersaudara tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi sejarah, tapi juga sebagai simbol kebanggaan dan semangat perjuangan bangsa Indonesia.
Dalam dunia foto jurnalistik Indonesia, Frans dan Alex juga mendirikan Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) pada bulan Oktober 1946 bersama kolega lainnya, yang menjadi kantor berita foto pertama di Indonesia.
Pengabdian mereka akhirnya mendapat penghargaan resmi dari negara. Pada tahun 2009, Frans dan Alex memperoleh Bintang Jasa Utama, dan di tahun berikutnya mereka dianugerahi Bintang Mahaputera Nararya atas jasa mereka dalam mengabadikan momen-momen penting kemerdekaan Indonesia.
Kini, nama Mendur bersaudara tidak hanya dikenang sebagai fotografer biasa, tapi sebagai pahlawan yang lewat lensa kameranya merekam sejarah perjuangan bangsa.
Untuk mengenang perjuangan dan jasa mereka, dibangun sebuah monumen bernama Tugu Pers Mendur yang terletak di Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati 113 koleksi foto asli hasil jepretan Mendur Bersaudara yang menceritakan peristiwa penting sepanjang masa perjuangan bangsa, menjadikannya warisan berharga yang mengabadikan sejarah Indonesia. (mg7)
Editor : H. Arif Riyanto