RADARMAGELANG.ID- Demonstrasi bukanlah hal baru di Indonesia. Sebagai negara demokratis, masyarakat diberi ruang untuk menyalurkan aspirasi melalui aksi turun ke jalan.
Dalam perjalanan sejarah bangsa, mahasiswa kerap tampil sebagai garda terdepan dalam menyuarakan kepentingan rakyat.
Mereka sering disebut sebagai “kekuatan moral” karena perannya yang mampu mengguncang arah bangsa.
Gelombang demonstrasi mahasiswa biasanya lahir dari penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat atau mengancam nilai-nilai demokrasi.
Dari kejatuhan rezim hingga penolakan kebijakan pemerintah, berikut lima aksi demo mahasiswa terbesar sepanjang sejarah negeri ini.
- Tritura 1966 – Jatuhnya Soekarno
Awal 1966, kondisi politik Indonesia memanas pasca peristiwa G30S/PKI. Situasi ekonomi juga memburuk: harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi.
Di tengah ketidakpastian itu, mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) turun ke jalan membawa Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura):
- Bubarkan PKI,
- Rombak kabinet Dwikora,
- Turunkan harga-harga kebutuhan pokok.
Demo ini berlangsung besar-besaran di Jakarta dan kota-kota lain. Puncaknya, Soekarno kehilangan dukungan politik, hingga akhirnya kekuasaan beralih ke Soeharto melalui Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar). Aksi ini dikenang sebagai salah satu titik balik sejarah Indonesia.
- Peristiwa Malari 1974 – Penolakan Modal Asing
Pada 15 Januari 1974, ribuan mahasiswa turun ke jalan menolak dominasi modal asing, terutama dari Jepang, yang dianggap merugikan rakyat kecil. Aksi yang bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka.
Awalnya, demonstrasi berlangsung damai. Ribuan mahasiswa turun ke jalan menuntut agar pemerintah lebih berpihak pada kepentingan rakyat dan tidak memberi ruang terlalu besar bagi investor asing.
Namun, situasi berangsur memanas dan kerusuhan meluas, menyebabkan pembakaran kendaraan, penjarahan, dan perusakan fasilitas umum.
Peristiwa yang menewaskan 11 orang dan melukai ratusan lainnya ini dikenal sebagai Malapetaka 15 Januari (Malari), sekaligus membuat pemerintah Orde Baru memperketat gerakan mahasiswa.
- Demo 1978 – Penolakan Soeharto Tiga Periode
Pada 1978, mahasiswa kembali turun ke jalan menolak pencalonan Soeharto sebagai presiden untuk periode ketiga kalinya. Mereka menilai kekuasaan terlalu terpusat dan semakin otoriter.
Demo ini mendapat respons keras dari pemerintah. Tentara menduduki kampus-kampus, Dewan Mahasiswa (Dema) dibubarkan, dan banyak aktivis ditangkap.
Gerakan mahasiswa dipaksa “mati suri”, dan kegiatan politik di dalam kampus dibatasi ketat.
Meski gagal menjatuhkan rezim, aksi ini memperlihatkan konsistensi mahasiswa sebagai kelompok kritis terhadap kekuasaan.
- Reformasi 1998 – Runtuhnya Orde Baru
Gelombang protes terbesar dalam sejarah Indonesia terjadi pada Mei 1998. Krisis moneter menghantam ekonomi nasional: rupiah anjlok, harga-harga kebutuhan melambung, dan pengangguran melonjak.
Bersamaan dengan itu, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang melekat pada rezim Orde Baru semakin menyulut kemarahan rakyat.
Mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh Indonesia turun ke jalan. Aksi paling monumental terjadi ketika ribuan mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR/MPR di Senayan.
Di tengah tekanan aksi yang kian meluas, Soeharto akhirnya mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 setelah 32 tahun berkuasa. Peristiwa ini menjadi penanda lahirnya era reformasi.
- #ReformasiDikorupsi 2019
Dua dekade setelah reformasi, mahasiswa kembali mencatat sejarah dengan gerakan besar pada September 2019.
Aksi yang dikenal dengan tagar #ReformasiDikorupsi ini dipicu oleh penolakan terhadap Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) serta revisi Undang-Undang KPK yang dianggap melemahkan lembaga antikorupsi.
Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk Yogyakarta, Bandung, Makassar, dan Jakarta, turun ke jalan. Bentrokan dengan aparat tidak terelakkan, bahkan beberapa korban jiwa jatuh.
Namun, gerakan ini menunjukkan bahwa mahasiswa generasi baru masih mewarisi semangat kritis pendahulunya, hanya kali ini diperkuat dengan kekuatan media sosial.
Dari Tritura 1966 hingga #ReformasiDikorupsi 2019, aksi demo mahasiswa selalu menjadi titik balik penting dalam perjalanan bangsa.
Sejarah ini menjadi pengingat bahwa mahasiswa tidak hanya menempuh ilmu di bangku kuliah, tetapi juga memikul tanggung jawab moral sebagai agen perubahan. (mg9/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo