RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Bupati Magelang Grengseng Pamuji tidak mau setiap OPD jalan sendiri-sendiri. Ia menekankan kolaborasi lintas perangkat daerah, penguatan data, dan inovasi jadi kunci menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2026.
“Tidak ada satupun persoalan pembangunan yang bisa diselesaikan sendiri. Saya mengajak Bapak dan Ibu semuanya untuk berkolaborasi. Jangan sampai setiap perangkat daerah berjalan sendiri-sendiri,” tegas Grengseng saat High Level Meeting Optimalisasi PAD 2026 di Nestra Lounge and Cafe Desa Sukomakmur, Kajoran.
Kegiatan yang digelar BPPKAD Magelang ini dikemas unik bertajuk “Jelajah PAD.” Bupati bersama jajaran OPD, BUMD, dan camat touring naik motor roda dua dari Rumah Dinas Bupati menuju Samya Coffee Tempuran, lanjut ke Puskesmas Kajoran 1.
Di sana, Pj Sekda David Rudiyanto menyerahkan bantuan sembako KORPRI untuk Desa Sidowangi. Rombongan melanjutkan ke Desa Banjaragung menyerahkan bantuan untuk relawan ambulans desa (Ambudes), sebelum finish di Nestra Lounge untuk rapat utama.
Grengseng menyoroti lemahnya tata kelola data. Tanpa data akurat dan terintegrasi, perencanaan PAD akan meleset. “Data yang baik dimulai dari definisi yang tepat. Kalau data kita benar dan terkonsolidasi dengan baik, perencanaan juga akan lebih mudah dan tepat sasaran,” ujarnya.
Ia mencontohkan agrowisata. Pemkab harus tahu bukan hanya potensi pendapatan, tapi berapa tenaga kerja terserap dan manfaatnya bagi warga. Sehingga keberhasilan tidak hanya diukur dari angka PAD.
Selain itu, inovasi dan optimalisasi aset daerah harus digenjot, namun tetap berorientasi pada pelayanan publik dan pemberdayaan ekonomi, bukan sekadar mengejar setoran. "Boleh memiliki semangat yang tinggi, tetapi selesaikan diri kita terlebih dahulu. Kalau kita belum selesai dengan diri sendiri, bagaimana kita bisa mengelola orang lain," pesannya kepada pimpinan OPD.
Kepala BPPKAD Kabupaten Magelang M Taufik Hidayat Yahya menambahkan, forum ini untuk merumuskan rencana aksi konkret, mengevaluasi capaian, dan mengidentifikasi potensi PAD yang belum tergali. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto