RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Kesiapsiagaan harus jadi budaya, bukan untuk menakut-nakuti. Kalimat itu dilontarkan Pj Sekda Magelang David Rudiyanto saat mengungkap fakta bahwa Magelang berdiri di atas tiga sumber gempa aktif yang siap mengguncang kapan saja.
David Rudiyanto menegaskan, ancaman ini nyata berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (PUSGEN) 2024.
“Sesar Merapi-Merbabu memiliki potensi magnitudo maksimum hingga M 6,5, sedangkan Sesar Opak hingga M 6,9. Selain itu, zona subduksi selatan Jawa juga berpotensi magnitudo besar yang guncangannya dirasakan hingga Jawa Tengah,” kata David dalam Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) yang digelar BMKG bersama DPR RI di Balai Desa Tampingan, Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Kamis (15/10/2026).
Karena itu, ia menyebut kesiapsiagaan harus menjadi budaya, bukan untuk menakut-nakuti, tapi membangun kemampuan bertindak cepat saat gempa.
“Kegiatan ini wujud sinergi pusat dan daerah membangun masyarakat tangguh bencana,” ujarnya.
Anggota DPR RI Komisi V Sofwan Dedy Ardyanto menyebut awareness masyarakat Magelang soal gempa masih minim.
“Pengetahuan masyarakat, stakeholder tentang kegempaan masih minim, masih rendah. Dengan disosialisasikan dan di-update, awareness terhadap mitigasi gempa menjadi bertambah. Ini penting, tinggal volumenya aja yang ditambah,” kata Sofwan.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Dr Teguh Rahayu menjelaskan, SLG Gempa adalah satu dari tiga sekolah lapang BMKG, selain iklim dan cuaca nelayan.
“Tujuan kami edukasi bagaimana gempa terjadi, kalau terjadi harus seperti apa, persiapan sebelum gempa seperti apa. Karena gempa belum bisa diprediksi,” ujar Teguh.
Ia menekankan mitigasi bukan hanya tugas pemerintah. “Bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi kita semua harus bertanggung jawab bersama memitigasi,” katanya.
Selain gempa, BMKG juga menyoroti cuaca ekstrem. Dampak El Nino membuat kemarau 2026 lebih panjang dan lebih kering.
“Hampir seluruh wilayah Indonesia akan memasuki musim hujan di akhir November. Karena kemaraunya panjang, musim hujannya otomatis lebih pendek,” ungkap Ayu. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto