RADARMAGELANG.ID, Mungkid-- Keracunan masal terjadi di wilayah Kajoran, Kabupaten Magelang.
Para korban keracunan diduga setelah mengonsumsi es campur yang dipesan untuk rapat gurudi SD Negeri 2 Kajoran , Selasa (13/10/2026) siang.
Hingga Rabu (14/10/2026) siang, jumlah korban mencapai 140 orang. Korban adalah para guru dan keluarganya.
Sebab, sisa es campur tersebut dibawa pulang para guru dan diminum sekeluarga.
Selang 8-10 jam kemudian, para korban mengeluh mual, pusing, panas, demam, diare, bahkan ada yang sampai muntah-muntah.
Selain dilarikan ke Puskesmas Kajoran 1, para korban dibawa ke RSUD Merah Putih, RSUD Bukit Menoreh, RSUD Muntilan dan RSUD Tidar.
Kasat Reskrim Polresta Magelang Kompol La Ode Arwansyah mengaku menerima laporan sekitar pukul 10.00 dari Puskesmas Kajoran.
Pihaknya langsung mendatangi Puskesmas Kajoran.
“Fakta yang kami dapat, keracunan diduga disebabkan minuman es campur yang isinya terdiri atas buah nangka, melon, degan, dan lain-lain,” kata La Ode kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Sampel es campur sudah diamankan oleh Tim Identifikasi bekerja sama dengan puskesmas untuk diuji di Labkesda Magelang.
“Sembari menunggu, kami juga sudah mengklarifikasi ke sejumlah saksi, termasuk penjualnya,” jelasnya.
Menurut keterangan saksi, es campur itu dijual Selasa siang dan dipesan guru yang sedang rapat.
“Jumlah yang dipesan kurang lebih 300 porsi. Ada yang dikonsumsi di tempat, ada yang dibawa pulang, sehingga kemungkinan tidak hanya guru yang mengonsumsi, tetapi juga keluarga guru,” jelasnya.
Jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah.
Sebab, bisa jadi satu porsi es campur dinikmati lebih dari satu orang.
“Saat ini yang bisa kami data korban keracunan sekitar 140-an orang dan ini bisa terus bertambah,” tegas La Ode.
Dijelaskan, efek keracunan tidak langsung, namun selang 8-10 jam kemudian.
“Kalau konsumsi siang, efeknya subuh atau tengah malam, sehingga ada yang mendahului ke rumah sakit atau puskesmas,” ujarnya.
Polisi masih memeriksa saksi-saksi, termasuk penjual es campur, serta menunggu hasil laboratorium untuk menentukan apakah ada unsur kesengajaan atau kelalaian.
La Ode menegaskan, kasus ini bukan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Ini jualan biasa, warung menetap. Kebetulan pemilik warung yang mencicipi es buahnya juga sakit,” jelasnya.
Kepala Bidang Penunjang RSUD Merah Putih drg Rurit Obyantoro mengungkapkan, rumah sakit mulai kebanjiran pasien sejak pukul 11.00 dengan diagnosis sementara suspect intoksikasi.
“Total sampai pukul 15.07 ada 37 orang. Rinciannya, 12 anak-anak, dua ibu hamil, 23 dewasa,” bebernya.
Dari jumlah itu, satu orang sudah dipulangkan, 29 orang masih observasi, dan delapan orang rawat inap, dengan rincian dua ibu hamil, dua anak, dan empat dewasa.
Pasien dipisah sesuai kondisi. Ibu hamil di ruang nifas khusus, anak di bangsal anak, serta pasien dewasa di ruang terpisah.
"Kapasitas IGD sudah overload. Kami sudah koordinasi dengan Dinkes untuk dikirim ke RSUD Muntilan dan RS Bukit Menoreh Salam," tegas Rurit.
Data di RSUD Salaman (RS Bukit Menoreh) hingga pukul 14.14 terdapat 15 pasien masuk IGD (dua anak, satu ibu hamil, 12 dewasa); pro rawat inap 11 orang (sembilan dewasa, satu ibu hamil dan satu anak) dan pro rawat jalan empat orang.
Sementara di RSUD Muntilan hingga pukul 15.27, terdapat tujuh pasien masuk IGD (tiga anak dan empat dewasa); dua orang observasi, serta lima orang pro rawat inap (tiga anak dan dua dewasa). (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto