Kekeringan di Kabupaten Magelang Meluas, Grengseng: Masak di Borobudur Ora Ono Banyu?

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 23:36 WIB
Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengecek langsung truk tangki air yang akan melakukan droping air bersih BPBD Kabupaten Magelang, Rabu (8/10/2026).
Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengecek langsung truk tangki air yang akan melakukan droping air bersih BPBD Kabupaten Magelang, Rabu (8/10/2026).

 

RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Bencana kekeringan semakin meluas di Kabupaten Magelang.

Data BPBD Kabupaten per 8 Oktober, ada 80 dusun di 45 desa pada 13 kecamatan yang kekeringan dan krisis air bersih.

Jumlah itu diprediksi terus naik, karena BMKG menyebut hujan baru turun pertengahan November mendatang.

Di tengah krisis itu, BPBD menggelar gerakan kolaborasi droping air bersih serentak bertema Sinergi untuk Berbagi, Rabu (8/10/2026).

Bupati Magelang Grengseng Pamuji hadir melepas 20 armada tangki untuk menyasar 32 titik di 17 desa pada tujuh kecamatan.

Yakni, Kecamatan Borobudur, Salaman, Salam, Pakis, Tegalrejo, Secang, dan Tempuran. Total 320 ribu liter air bersih disalurkan.

Bupati mengaku prihatin, namun menegaskan penanganan tidak boleh hanya reaktif.

“Penanganan tahun ini bukan hanya reaktif dari BPBD, tetapi harus komprehensif dan sustainable,” tegas Grengseng.

Ia memerintahkan Kepala BPBD Kabupaten Magelang mendata konkret titik-titik krisis, bukan sekadar laporan.

Data itu akan menjadi guidance prioritas pembangunan 2027.

“Jangan sampai Pamsimas, pipanisasi, sumur bor malah menyasar yang sudah terpenuhi. Mulai 2027 harus dikonsolidasikan,” ujarnya.

Menurutnya, urusan air bersih bukan hanya tupoksi BPBD.

Ini urusan Pemerintah Kabupaten Magelang. BPBD jadi motor, Bapperida merencanakan, Pekerjaan Umum (PU) dan Lingkungan Hidup (LH) mendukung.

“Jangan tergantung mata air yang ada. Gunakan inovasi, gunakan teknologi, jangan berorientasi proyek, tapi fokuskan pada penyelesaian masalah,” tegasnya.

Ia menyoroti kondisi di Borobudur yang sangat ironis.

Di satu sisi wajah pariwisata dunia, di sisi lain airnya asin jika dibor.

Padahal sumber di Desa Majaksingi Kecamatan Borobudur ada di 1.000 mdpl.

“Orang tidak ingin ke Magelang, tapi ingin ke Borobudur. Masak di Borobudur ora ono banyu? Saya sudah tagih Dirut PDAM, janji rampung 2027,” ucapnya.

Problem lain ada di Tegalrejo, Grabag, dan Pakis.

Dulu mata air melimpah, kini hilang karena hutan di lereng Merbabu habis.

”Ini berisiko sangat besar. Maka harus out of the box, ajak UGM, Untidar, Unimma duduk bareng cari solusi bersama,” tegasnya.

Dengan keterlibatan perguruan tinggi, ia mendorong pemanfaatan teknologi untuk mencari solusi terhadap wilayah yang memiliki karakteristik sulit mendapatkan sumber air.

“Teknologi yang kita miliki sangat banyak. Persoalannya adalah apakah kita mau menggunakannya untuk menyelesaikan masalah Masyarakat?” tanyanya.

Bupati juga meminta setiap kecamatan memiliki data dan peta yang jelas mengenai wilayah yang tidak memiliki sumber air bersih, wilayah terdampak, lokasi yang kebutuhan airnya telah tercukupi, serta keberadaan mata air dan kondisi daerah tangkapan air.

"Ini bukan hanya masalah BPBD. Ini adalah masalah Pemerintah Kabupaten Magelang dan kita semua," tegasnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Bambang Hermanto menyebut kekeringan tahun ini dampak El Nino ekstrem yang menghantam pertanian, peternakan, hingga air minum.

BPBD telah mengerahkan dua tangki, ditambah support satu tangki dari Balai Permukiman Jateng, serta pipanisasi 500 meter di Candisari, Kaliangkrik.

“Kolaborasi lintas sektor juga terus terjalin,” katanya. (rfk/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
droping air kekeringan borobudur BPBD Kabupaten Magelang Bupati Magelang Grengseng Pamuji