Dosen-Mahasiswa Untidar Ajak Warga Candisari Magelang Ubah Limbah Dapur Jadi Ecoenzyme

Lis Retno Wibowo • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 10:59 WIB
Dosen dan mahasiswa Untidar foto bersama warga Desa Candisari Kecamatan Windusari Kabupaten Magelang usai mengadakan sosialisasi dan praktik pembuatan ecoenzyme pada 5 September 2026. (Dok Tim Untidar)
Dosen dan mahasiswa Untidar foto bersama warga Desa Candisari Kecamatan Windusari Kabupaten Magelang usai mengadakan sosialisasi dan praktik pembuatan ecoenzyme pada 5 September 2026. (Dok Tim Untidar)

 

RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Dosen dan mahasiswa Universitas Tidar (Untidar) melaksanakan kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan ecoenzyme pada 5 September 2026 di Desa Candisari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program bertajuk “Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Organik Rumah Tangga melalui Pembuatan Ecoenzyme di Desa Candisari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang” yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah organik secara lebih ramah lingkungan.

Kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh masih adanya kebiasaan masyarakat membuang limbah organik rumah tangga, seperti sisa sayuran, kulit singkong, dan kulit buah, langsung ke aliran sungai.

Kebiasaan ini berpotensi menimbulkan pencemaran air, bau tidak sedap, penurunan kualitas lingkungan, serta gangguan terhadap ekosistem perairan.

Selain itu, penumpukan limbah organik di badan sungai juga dapat berkontribusi terhadap pendangkalan dan meningkatkan risiko banjir.

Kegiatan pengabdian ini melibatkan dosen Untidar yang diketuai oleh Ir. Anirawilda Purba, M.Sc., bersama anggota dosen Grita Supriyanto Dewi, S.T., M.Sc., Ir. Welly Mahardhika, S.T., M.T., ASEAN. Eng., IPM, dan Ir. Beta Estri Adiana, S.T., M.Eng.

Baca Juga: Tim Pengabdian Agroteknologi Untidar Edukasi Pemanfaatan Pekarangan melalui Hidroponik Sederhana di Desa Kwadungan Gunung Temanggung

Pelaksanaan kegiatan juga didukung oleh mahasiswa Teknik Industri Universitas Tidar. Kolaborasi dosen-mahasiswa Untidar tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan lingkungan melalui solusi yang sederhana dan mudah diterapkan.

Ketua kegiatan, Ir. Anirawilda Purba, M.Sc., menyampaikan bahwa pengelolaan limbah organik perlu dimulai dari kebiasaan sederhana di tingkat rumah tangga.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan masyarakat, tetapi juga mendorong kebiasaan baru dalam mengelola sisa dapur. Limbah organik yang sebelumnya dibuang ke sungai sebenarnya dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, sehingga masyarakat ikut berperan menjaga lingkungan sekaligus memperoleh nilai guna dari limbah tersebut,” ujarnya.

Dalam sosialisasi dan praktik, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan limbah organik rumah tangga menjadi ecoenzyme.

Ecoenzyme dibuat melalui proses fermentasi menggunakan gula, sampah organik dapur, dan air dengan perbandingan 1:3:10, yaitu satu bagian gula, tiga bagian sampah organik, dan sepuluh bagian air. 

Campuran tersebut kemudian disimpan dalam wadah tertutup selama sekitar 90 hari. Setelah proses fermentasi selesai, cairan yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami maupun pupuk cair, sedangkan ampasnya dapat dimanfaatkan sebagai kompos.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk tidak lagi memandang sisa dapur hanya sebagai sampah yang harus dibuang.

Limbah organik masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai guna sekaligus membantu mengurangi pencemaran lingkungan. 

Program ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap konsep zero waste serta mendorong perubahan perilaku agar limbah organik tidak lagi dibuang langsung ke sungai.

Salah satu mitra kegiatan di Desa Candisari menilai praktik pembuatan ecoenzyme mudah dipahami dan relevan dengan kondisi rumah tangga.

“Selama ini sisa sayur dan kulit buah biasanya langsung dibuang. Setelah mengikuti kegiatan ini, kami jadi tahu bahwa limbah tersebut masih bisa dimanfaatkan. Cara pembuatannya juga cukup sederhana sehingga bisa dicoba di rumah,” ungkapnya. 

Pendapat tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang disertai praktik langsung dapat membantu masyarakat melihat limbah organik sebagai bahan yang masih memiliki manfaat.

Selain memberikan manfaat dari sisi lingkungan, pemanfaatan ecoenzyme juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Dalam rancangan kegiatan, pengolahan limbah organik menjadi ecoenzyme tidak hanya ditawarkan sebagai alternatif pengelolaan sampah rumah tangga, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk UMKM desa.

Melalui kolaborasi dosen-mahasiswa Untidar bersama masyarakat Desa Candisari, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih baik di tingkat rumah tangga.

Pemanfaatan sisa dapur menjadi ecoenzyme diharapkan mampu mengurangi limbah yang masuk ke sungai sekaligus mendorong terciptanya lingkungan Desa Candisari yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (rls/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
pemanfaatan limbah organik dosen dan mahasiswa untidar Ecoenzyme pengelolaan sampah