Pemkab Magelang Gembleng 2.000 Guru Hadapi Murid Digital Native

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 21:00 WIB
Ribuan guru PAUD, SD, dan SMP di Kabupaten Magelang dikumpulkan di GOR Gemilang, Kompleks Setda Kabupaten Magelang pada Selasa (6/10/2026) dan Rabu (7/10/2026). (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)
Ribuan guru PAUD, SD, dan SMP di Kabupaten Magelang dikumpulkan di GOR Gemilang, Kompleks Setda Kabupaten Magelang pada Selasa (6/10/2026) dan Rabu (7/10/2026). (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)

 

RADARMAGELANG.ID, Mungkid– Ribuan guru PAUD, SD, dan SMP di Kabupaten Magelang dikumpulkan di GOR Gemilang, Kompleks Setda Kabupaten Magelang pada Selasa (6/10/2026) dan Rabu (7/10/2026).

Dikumpulkannya para guru tersebut untuk mendapatkan sebuah pelatihan peningkatan kualitas dan kompetensi agar lebih adaptif menghadapi perubahan karakter peserta didik di tengah perkembangan teknologi digital.

Pemerintah Kabupaten Magelang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggandeng Kementerian Agama serta KNPI menghadirkan seminar nasional bertajuk How to Be a Great Teacher.

Kegiatan ini diikuti sekitar 1.000 guru dan diharapkan menjadi ruang bagi para pendidik untuk memperbarui kompetensi serta memahami pendekatan yang lebih relevan dalam mendidik generasi saat ini.

“Tantangan dunia pendidikan saat ini kian komplek seiring berkembangnya karakteristik anak didik kita, yang mayoritas kini berada pada generasi Gen Z,” ucap Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Magelang Bela Pinarsi usai membuka acara tersebut, Rabu (7/10/2026).

Menurut Bela, di era saat ini para guru tidak cukup hanya transfer of knowledge.

Seorang guru juga harus memberikan inspirasi, memotivasi, serta menjadi teladan bagi para muridnya.

Melalui seminar ini, seorang guru yang hebat harus memiliki tiga kemampuan untuk diperkuat.

Yakni, semangat mengajar, kemampuan public speaking, serta strategi mendidik generasi digital.

Bela mengingatkan profesi guru bukan sekadar rutinitas administrasi maupun kewajiban memenuhi jam mengajar.

Guru memiliki peran penting dalam membentuk masa depan daerah dan bangsa.

Guru yang biasa-biasa saja hanya bisa menuntaskan kurikulum, tetapi guru yang hebat adalah guru yang mampu menyalakan api rasa ingin tahu dan menginspirasi impian di dalam diri setiap muridnya.

“Jangan pernah lelah untuk belajar dan memperbarui kompetensi diri, karena sejatinya seorang guru tidak boleh berhenti belajar,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang Wisnu Argo Budiono menyebut agenda ini sudah dikomunikasikan sejak satu setengah bulan lalu.

“Kemarin di bawah naungan Kementerian Agama untuk guru MI dan MTs. Hari ini tanggal 7 di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,” ujar Wisnu.

Ia berharap, para guru di Kabupaten Magelang ini dapat meng-upgrade ilmunya serta bisa menambah greget semangatnya untuk pembelajaran baik di PAUD, SD, maupun SMP.

Pemateri Syafii Efendi menjelaskan latar belakang seminar ini.

“Kita tahu sendiri gaji mereka kecil dan mereka butuh pengetahuan dan skill baru untuk mendapatkan income tambahan di luar mengajar. Sambil meningkatkan kualitas mengajarnya juga, karena kualitas public speaking mereka masih rendah,” ujarnya.

Menurutnya, guru harus berani ubah mindset. “Tidak boleh locally banget, harus global. Harus berani ganti circle, harus berani ganti karakter,” tegasnya.

Pembina Teacherpreneur Nusantara Jawa Tengah, Slamet Muridan menambahkan, ada gap besar yang tidak bisa dihindari. Guru yang mengajar banyak dari Gen X hingga Baby Boomers, sementara muridnya adalah digital native.

"Kadang mereka tidak mau meng-upgrade diri, tapi anak-anak sekarang perlu penanganan berbeda," jelasnya.

Padahal, fondasi karakter bangsa ada di PAUD, SD, dan SMP. Karena itu yang dibidik bukan SMA/SMK.

"Kita ingin guru yang datangnya dirindukan murid. Sekarang banyak murid lebih tertarik HP daripada gurunya. Kita ingin guru yang memberi teladan, menginspirasi, datang bikin bahagia seperti guru-guru kita dulu," katanya.

Ia juga menyoroti realita pahit di lapangan: banyak guru membawa persoalan pribadi ke sekolah, terlilit judi online dan utang, hingga kasus perceraian setelah lolos P3K yang bahkan membuat kepala daerah malas tanda tangan.

"Baru jadi P3K sudah ceraikan suaminya. Ini kompleks, tidak hanya di Magelang, di Mojokerto dan Kebumen sama. Kita ingin mindset-nya clear tentang totalitas mendidik," ujarnya.

Karena itu tiga hal ditekankan: pertama, totalitas mendidik dan bereskan persoalan pribadi. Kedua, cara mengajar yang menarik supaya anak happy melihat gurunya. Ketiga, mau terus bertumbuh S1, S2.

"Jangan hanya menuntut pemerintah berikan gaji tinggi, insentif tinggi, tapi personality tidak mau upgrade, tidak mau belajar. Kalau mau gaji tinggi, ya belajar, berprestasi, otomatis pemerintah akan melihat itu," pungkasnya. (rfk)

 

Editor : H. Arif Riyanto
guru hebat PAUD disdikbud kabupaten magelang gor gemilang seminar