RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Candi Borobudur resmi menjadi panggung pertama program karbon netral di destinasi wisata Indonesia.
InJourney Destination Management menggandeng Pertamina New & Renewable Energy (NRE) meluncurkan skema carbon offset sukarela kepada pengunjung.
Direktur Operasi InJourney Destination Management Indung Purwita Jati menyebut ini inisiatif pertama di seluruh grup InJourney.
Di mana Taman Wisata Borobudur (TWB) akan menjadi pilot project untuk pengembangan karbon netral.
“PT Candi Borobudur menjadi project pertama, inisiatif pertama untuk pengembangan karbon netral di kawasan destinasi. Nanti akan ada kontribusi bagi visitor dalam bentuk rupiah untuk tiket online dan itu sukarela,” ujar Indung.
Dijelaskan, skemanya sederhana, saat beli tiket online, pengunjung ditawari opsi menambah Rp6 ribu.
Tidak wajib, tidak mempengaruhi harga tiket existing.
Uang itu dikonversi menjadi kredit karbon.
“Ini edukasi kepada kita semua bahwa kita harus peduli terhadap penggunaan emisi. Kalau tidak mulai dari sekarang, kapan lagi?” tegas Indung.
Ia mencontohkan Borobudur yang kini terasa sangat panas dan upaya nyata yang sudah dilakukan, seperti penggunaan electric vehicle untuk pengunjung di dalam kawasan.
“Dengan harapan ini dapat mendukung target Pemerintah Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat,” ujarnya
Direktur Utama Pertamina PNRE John Anis menjelaskan filosofi di balik Rp6 ribu itu.
“Tugas kami menyediakan energi bersih dan membantu pemerintah mencapai net zero 2060. Langkah ini memberikan kesempatan nyata kepada masyarakat untuk berkontribusi,” kata John.
Menurutnya, banyak orang bingung bagaimana ikut net zero.
Tidak semua bisa bikin solar panel atau kelola sampah.
Lewat Borobudur, kontribusinya jadi konkret.
"Setiap aktivitas di sini kita hitung. Misalnya, mengeluarkan 1 kg CO2 itu setara berapa? Nah ini Rp6 ribu sudah dikonversikan untuk aktivitas seperti itu," jelasnya.
Konsepnya seperti di Bandara Changi Singapura, di mana penumpang bisa meng-offset emisi pesawat.
Jika tidak di-offset, karbon jadi emisi biasa. Jika di-offset, jadi netral.
Behind the story-nya, kata John, Pertamina PNRE punya dua mesin kredit karbon.
Pertama, tech-based solution.
Jika pembangkit listrik kotor menghasilkan 1.000 ton emisi, sementara pembangkit bersih milik Pertamina hanya 500 ton, selisih 500 ton itu jadi tabungan kredit.
"Kami nabung 500 ton itu. Tabungan ini dipakai saat teman-teman membeli secara voluntary Rp6 ribu tadi," ujarnya.
Kedua, Nature-Based Solution (NBS) yang dinilai lebih powerful: konservasi hutan lengkap dengan flora, fauna, dan masyarakatnya.
"Dengan penghijauan hutan rusak, kemampuan menangkap emisi bisa 10.000 ton lebih besar. 10.000 ton ini menjadi kredit yang bisa dipakai untuk offset kegiatan seperti ini," jelasnya.
“Ini kebanggaan kita, bahkan kebanggaan dunia, pintu masuknya panggung dunia. Akhir bulan ada Andrea Bocelli dari Italia, ada Borobudur Marathon. Ini panggung dunia yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi domestik maupun internasional untuk berpartisipasi,” jawab John.
Indung menambahkan, kontribusi itu nantinya akan terdata dan tersertifikasi.
Dampaknya tidak langsung dirasakan pengunjung, tapi jangka panjang untuk keberlanjutan destinasi.
“Ini bukan sekadar green karena banyak pohon. Dengan offset karbon ini, semua akan terukur,” pungkas Indung.
Program ini akan jadi pilot project. Jika berhasil di Borobudur, akan direplikasi ke destinasi InJourney lainnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto