Dari Tampah ke Lampu Hias, Kerajinan Bambu Borobudur Tembus Bali dan Singapura

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 14:14 WIB
Heri Sutrisno, perajin dari Omah Pring Perkakas Rumah asal Kebonwage, Kebonsari, Borobudur, Kabupaten Magelang menunjukkan produknya. (Rofik Syarif GP/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Heri Sutrisno, perajin dari Omah Pring Perkakas Rumah asal Kebonwage, Kebonsari, Borobudur, Kabupaten Magelang menunjukkan produknya. (Rofik Syarif GP/JAWA POS RADAR MAGELANG)  

 


RADARMAGELANG.ID, mungkid - Berkat ketekunan Heri Sutrisno menganyam bambu, lahir lah kap-kap lampu yang indah. Kerajinan itu menghiasi interior sejumlah vila di Bali. Juga sampai ke konsumen di Singapura. 


Perjalanan Heri Sutrisno, 47, dalam menekuni bilah bambu dimulai pada 2017.

Perajin bambu Omah Pring Perkakas Rumah asal Kebonwage, Kebonsari, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang ini semula hanya membuat tampah.

Kerajinan yang diwariskan turun-temurun dari keluarganya untuk menjemur kerupuk. 
Berjalannya waktu, peminat tampah semakin berkurang.

 Nilai jual stagnan. Titik balik ini terjadi pada 2018, saat ada program pengabdian masyarakat dari ISI mengenalkan teknik coiling.

“Dari pengabdian masyarakat tersebut muncul gagasan untuk membuat itu. Dulu bikinnya cuma kecil buat tempat serbet meja makan.

Nah, terus kita kembangkan sendiri dijadikan lebih besar. Ternyata bisa buat lampu dan malah laku di pasaran,” kenangnya, ketika ditemui Jumat (4/9/2026).

Kuncinya ada pada teknik coiling. Iratan bambu disambung, digulung melingkar, lalu dibentuk dengan tangan sesuai pesanan.

Setelah itu dilem dengan lem khusus, didempul, diamplas, lalu finishing clear.

Dari teknik sederhana itu lahir belasan produk, seperti piring, mangkok, cangkir, teko, sendok, meja kursi, hingga tempat lampu gantung berbagai ukuran.

Total sudah ada sekitar 19 model. Yang paling dicari justru lampu.

Model “Mata Langit” jadi best seller. Pesanan didominasi dari Bali, yang kontinyu sampai saat ini terus mengalir. Tiap bulan mencapai 100 hingga 150 pieces.

Tak hanya itu, order dari Singapura juga ada. Tahun 2024 pertama kali 20 pcs, tahun ini 19 pcs terdiri dari 10 piring dan 9 tempat lampu gantung.

Pemasaran awalnya hanya lewat Facebook pada 2019. Dari situlah pembeli dari Jogja, Bali, dan Singapura berdatangan. 

Bahan baku yang digunakan bambu lokal. Jenis bambu apus atau bambu tali dari sekitar Magelang.

Ia membeli iratan dari tetangga seharga Rp15.000 per kg. Lebar iratan 2 senti, panjang sekitar 2 meter, tebal 1 sampai 2 mili.

Agar tidak dimakan bubuk maupun rayap, ada trik khusus. Iratan direndam air garam selama sekitar 12 jam, lalu dijemur.

“Hewan itu sukanya manis, jadi kita lawan dengan yang asin. Jadi lebih awet,” ujarnya.

Pengetahuan lokal juga masih dipakai. Pemotongan bambu terbaik saat mangsa kapitu dan mangsa sembilan, atau setelah bulan purnama, tanggal 16 ke atas penanggalan Jawa.

 “Posisi bulan di bawah. Jadi airnya turun ke bawah,” katanya.

Untuk satu kap lampu diameter 30 cm dibutuhkan 3 sampai 4 ons iratan.

 Dalam sehari, bisa menghasilkan 5 sampai 6 pcs ukuran itu. Dari awal sampai finishing, semua dikerjakan manual.

Soal daya tahan, ia berani menjamin 7 sampai 8 tahun.  

Di katalognya ada tiga ukuran standar. Ada diameter 30 cm, 40 cm dan 50 cm. Pernah juga membuat yang paling besar, diameter 1 meter 20 cm.

Untuk pesanan besar, misalnya 20 lampu untuk Singapura dengan ukuran 30, 40, dan 50 cm, dibutuhkan iratan sekitar 10 sampai 12 kilo.

Pernah juga dalam satu orderan ke Bali, 120 lampu ukuran 60 cm menghabiskan 2 kuintal iratan.

Meski pasar luar daerah yang paling ramai, ia tetap membuka penjualan eceran. Seperti pesanan sendok untuk suvenir.

 Hingga saat ini, tantangan yang dihadapi adalah faktor cuaca. Menurut Heri jika memasuki musim hujan berpengaruh pada proses produksi.

Karena, proses pengeringan bambu agar maksimal membutuhkan sinar matahari. Jika menggunakan oven, keringnya tidak merata.

Jika musim kemarau satu bulan bisa selesai 150 pcs pesanan. Saat penghujan hanya bisa menyelesaikan setengahnya.

“Sehingga kami meminta waktu pada pemesan, menjadi dua bulan. Dan ini harus kami komunikasikan,” ujarnya. 

Dari sebuah tampah yang hampir ditinggalkan, kini bambu Magelang menjelma jadi dekorasi rumah yang dicari wisatawan.

Berangkat dari ide kampus, diasah dengan tangan, dan dipasarkan lewat satu akun Facebook. (rofik syarif GP/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
omah pring perkakas rumah heri sutrisno kap lampu kerajinan bambu