RADARMAGELANG.ID, Mungkid — Tim Pengabdian Unggulan Universitas (PUU) dari Fakultas Pertanian Universitas Tidar (Faperta Untidar) mengadakan program pendampingan untuk melestarikan dan mengembangkan potensi hortikultura lokal unggulan, durian "Mukiyo."
Kegiatan berlangsung di Dusun Losari, Desa Losari, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.
Program ini diketuai oleh Dr. Tri Suwarni Wahyudiningsih, S.Si., M.Si., dengan anggota tim yang terdiri atas Sayyidah Afridatul Ishthifaiyyah, S.P., M.Si., Muhammad Habibullah, M.Sc., Dr. Emma Dwi Ratnasari, S.E., M.Si., Fajarrifna Khairinisya, dan Maulidiya Putri.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pelatihan teknis pada Kamis, 13 Agustus 2026, dilanjutkan dengan pemantauan (monitoring) serta evaluasi lapangan pada Minggu (13/9/2026).
Langkah strategis ini diinisiasi atas permohonan Bappeda Kabupaten Magelang untuk menggali dan meningkatkan nilai tambah hortikultura daerah.
Durian Mukiyo dikenal memiliki cita rasa manis legit serta aroma yang khas.
Meski pohon induknya telah berusia sekitar 150 tahun dan mengantongi sertifikasi resmi dari Kementerian Pertanian, pengembangannya selama ini terkendala oleh dominasi perbanyakan secara generatif (biji) yang memicu segregasi genetik, ketidakseragaman mutu, dan umur panen yang lama.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim Faperta Untidar memfasilitasi para petani di Kelompok Tani Ngudi Rahayu untuk mempelajari teknik perbanyakan secara vegetatif.
Upaya ini ditujukan untuk menjaga kelestarian biodiversitas lokal (SDGs 15) sekaligus mendorong pembentukan unit usaha pembibitan skala rumah tangga demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat (SDGs 1).
Pelatihan berlangsung interaktif dengan menghadirkan praktisi perbanyakan bibit tanaman buah dari Salaman, yang juga alumni Agroteknologi Untidar, Nurus Sofwan, S.P.
Dalam sesi tersebut, para peserta tidak hanya diajarkan teori mengenai sanitasi alat, pemilihan bahan tanam sehat, serta kondisi lingkungan ideal, tetapi juga diajak mempraktikkan langsung tiga teknik utama perbanyakan vegetatif, yaitu okulasi (budding), sambung pucuk (grafting), dan sambung sisip.
Tiga Teknik Utama Perbanyakan Vegetatif
Pertama, Okulasi Mata Tunas, teknik ini menggunakan entres sehat dari jaringan yang mulai mengeras.
Teknik ini disarankan dilakukan pada musim kemarau—selama kebutuhan air terpenuhi—untuk menghindari kelembapan tinggi yang memicu serangan jamur.
Setelah 30 hari, perkembangan mata tunas dapat diamati. Pemotongan pucuk batang bawah dilakukan secara bertahap agar proses fotosintesis tetap terjaga, dilanjutkan dengan pemupukan NPK 16-16-16 sesuai dosis.
Kedua, Sambung Pucuk, memerlukan ketelitian mulai dari pemilihan batang atas hingga pengikatan.
Setelah disambung, bibit wajib diletakkan di bawah naungan (paranet) untuk menjaga tingkat kelembapannya.
Ketiga, Sambung Sisip, memiliki tingkat keberhasilan tinggi. Pengikatan plastik didesain khusus agar air hujan tidak tergenang di area sambungan demi mencegah pembusukan. Tunas baru umumnya mulai bermunculan sekitar 30 hari pascapenyambungan.
Nurus Sofwan mengingatkan keberhasilan perbanyakan sangat bergantung pada ketelitian memilih bahan tanaman, pengelolaan lingkungan, serta waktu pengambilan batang atas yang ideal dilakukan pada pagi hari.
Dorong Kemandirian Ekonomi dan Sertifikasi Bibit
Selain mengasah keterampilan teknis, tim Untidar mendorong kelompok tani untuk mendaftarkan bibit hasil perbanyakan ke Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB). Langkah ini penting dilakukan untuk membuka akses pasar yang lebih luas.
Program ini membuahkan hasil positif. Mayoritas petani berhasil menguasai teknik perbanyakan vegetatif, serta melihat peluang usaha pembibitan yang menjanjikan.
Dari pilihan metode yang diajarkan, teknik okulasi menjadi yang paling diminati untuk langsung dipraktikkan.
Meski sejumlah petani masih menghadapi kendala dalam memperoleh entres berkualitas, mayoritas peserta mengharapkan adanya pendampingan berkelanjutan agar warga Dusun Losari dapat mandiri secara ekonomi dan mampu menembus pasar yang lebih luas. (rls/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo