RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Krisis air bersih melanda 14 kecamatan dan 31 desa di Kabupaten Magelang.
Sebanyak 2.500 kepala keluarga atau sekitar 15.000 jiwa terdampak dan terpaksa menggunakan sumber air yang kotor untuk kebutuhan sehari-hari di tengah kemarau panjang.
Kondisi paling parah terjadi di Desa Tegalarum, Kecamatan Borobudur. Warga harus berjalan sekitar 1 kilometer ke sumber mata air yang keruh. Air itu dipakai untuk memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, hingga kebutuhan rumah tangga lain.
"Krisis sudah dua bulan. Kalau malam dimatikan, siang dinyalakan tidak sampai siang sudah habis. Semua serba kekeringan," keluh Giyo, 60, warga Tegalarum, Minggu (13/9).
Ia menyebut, bantuan air bersih dari pemerintah desa hanya bertahan 2-3 hari. "Baru sekarang dapat dropping lagi," ujarnya. Meski sadar airnya kotor, warga tetap memakainya karena tidak ada pilihan lain.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Bambang Hermanto mengatakan, pemantauan hingga 11-12 September 2026 menunjukkan dampak kekeringan terus meluas dari total 21 kecamatan di Kabupaten Magelang.
Untuk memenuhi kebutuhan domestik, BPBD berkolaborasi dengan pemda, relawan, CSR perusahaan, Baznas, dan PMI melakukan distribusi air bersih. Bambang menyebut kebutuhan hingga Oktober masih bisa dipenuhi dan berharap hujan turun awal November agar krisis berakhir.
Warga minta pemerintah tidak hanya mengandalkan dropping air. Mereka mendesak dibangunnya sarana permanen berupa atap pelindung di atas sumber mata air agar air lebih bersih dan layak pakai.
Terpisah, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Borobudur menggelar kegiatan seremonial bantuan dropping air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan, Sabtu (12/9). Kegiatan tersebut dipusatkan di Lapangan Randu Alas, Tuksongo, Kecamatan Borobudur. Bantuan air bersih tersebut menyasar masyarakat di empat kecamatan yang terdampak kekeringan, yakni Kecamatan Borobudur, Salaman, Tegalrejo, dan Pakis.
Ketua FPRB Borobudur Nur Fauzan menyampaikan dropping air bersih dilakukan sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.
Sementara itu, kekeringan parah terjadi di empat dusun di Desa Menoreh, Kecamatan Salaman. Warga sudah mendapatkan dropping air bersih akibat minimnya sumber air warga. BPBD bersama PMI, Polsek, Polres, Kodim, Koramil, dan relawan berusaha untuk memberikan bantuan dan memastikan masyarakat mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepala Desa Menoreh Sutejo menjelaskan, di desanya terdapat 16 dusun. Kondisi kekeringan ini berdampak pada tiga dusun, yaitu Beteng, Alun-alun, dan Jetis. “Dari ketiga dusun tersebut, Dusun Beteng yang terparah, hingga harus mendapatkan bantuan air bersih sekitar 4.000-6.000 liter setiap tiga hari sekali,” katanya. (rfk/mg3/mg10/mg6/mg9/aro)
Editor : H. Arif Riyanto