Krisis Air Bersih Melanda Dusun Sanggrahan Rejosari, Tegalrejo, Magelang, Warga Harus Ngangsu sejauh 1 Km

Magang Radar Magelang • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 20:32 WIB
Toren tempat penampungan bantuan air bersih yang tersedia di setiap RT di Dusun Sanggrahan, Desa Rejosari, Kecamatan Pakis. (JIHAN ZALFATULNUR’AINI/JAWA POS RADAR MAGELANG
Toren tempat penampungan bantuan air bersih yang tersedia di setiap RT di Dusun Sanggrahan, Desa Rejosari, Kecamatan Pakis. (JIHAN ZALFATULNUR’AINI/JAWA POS RADAR MAGELANG

RADARMAGELANG.ID, MungkidMusim kemarau panjang memicu krisis air bersih di beberapa daerah, salah satunya di Dusun Sanggrahan, Desa Rejosari, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang.

Kondisi tersebut membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih dan harus ngangsu guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dusun Sanggrahan menjadi wilayah yang paling parah mengalami kekurangan air, terutama wilayah RT 1 RW 1

Kepala Dusun Sanggrahan Teguh Purnomo mengatakan, kekeringan ini telah berlangsung sekitar dua bulan.

Ia mengatakan, Dusun Sanggrahan tidak memiliki sungai maupun sumber mata air yang dapat diandalkan saat musim kemarau.

Selama ini, warga sepenuhnya mengandalkan sumur dan pasokan dari program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).

Namun, selama kemarau panjang ini sumur dan fasilitas Pamsimas mengalami kekeringan.

Aliran air yang ditampung di dalam bak Dusun Sanggrahan, Desa Rejosari, Pakis kian mengecil. (JIHAN ZALFATULNUR’AINI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Aliran air yang ditampung di dalam bak Dusun Sanggrahan, Desa Rejosari, Pakis kian mengecil. (JIHAN ZALFATULNUR’AINI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

“Dusun Sanggrahan ini nggak punya sungai, nggak punya sumber mata air. Adanya sumur, tapi sudah kering,”ujarnya.

Hal inilah yang memaksa warga ngangsu air hingga ke wilayah lain, seperti Desa Tosari Tegalrejo, Candimulyo, dan Grabag.

“Semua warga sini tiap sore cari air. Saya kemarin berangkat magrib, pulang jam 02.00 untuk mencari air,” ceritanya.

Kondisi paling parah dialami warga RT 1 RW 1.

Ketua RT 1 RW 1 Riyanto mengatakan, beberapa sumur milik warga sudah kering kerontang.

“Padahal ada yang kedalamannya sampai 25 meter, tetep nggak keluar air,” katanya

Warga yang tidak memiliki sumur terpaksa ngangsu ke desa sebelah, salah satunya Desa Tosari.

Salah satu warga RT 1 RW 1 Riyoto  mengaku harus menempuh jarak sekitar satu kilometer untuk mengambil air di Desa Tosari.

“Capek, kemarau ini harus ngambil air di Desa Tosari.” keluh Riyoto.

Keterbatasan air tersebut membuat aktivitas warga seperti mandi harus dikurangi untuk menghemat persediaan air.

“Mandi cukup satu kali sehari,” katanya.

Sebelumnya, warga pernah membuat sumur artesis dengan melakukan pengeboran sumur sebanyak dua kali.

Namun, tidak mengeluarkan air, justru menemukan tanah berongga.

Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih dari BPDB telah diberikan kepada warga.

Riyanto berharap pemerintah dapat menemukan sumber air baru yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

Sehingga setiap kekeringan saat musim kemarau dapat teratasi.

“Harapannya ada pengeboran lagi atau dicarikan mata air lagi. Sehingga bisa mencakupi semua warga  satu desa,” harap Riyanto. (mg7/mg2/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
kekeringan kemarau panjang Tegalrejo Magelang pamsimas krisis air bersih