RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Kondisi kekeringan mulai berdampak pada sejumlah wilayah di Kabupaten Magelang.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang mengalami kekurangan air, sekaligus memetakan tingkat keparahan dampaknya.
Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Magelang Cahyono Dwikardi Putra mengatakan, terdapat beberapa wilayah yang mulai mengalami kondisi kekeringan dengan tingkat dampak yang berbeda. Wilayah tersebut meliputi Pakis, Rejosari, Tegalrejo, Mranggen, Windusari, dan Salaman (hanya Menoreh).
Pemantauan dilakukan untuk mengetahui kondisi masyarakat, ketersediaan sumber air, serta kebutuhan penanganan di masing-masing wilayah.
“Jumlah yang terdampak itu sedikit, entah mereka yang gak laporan, jadi datanya gak masuk ke kita. Yang kita lakukan sekarang ini mencoba masuk ke Pakis (pondok pesantren), Menoreh, Mranggen, Rejosari, Tegalrejo (pondok pesantren), Windusari (sekolah), gak tahu kenapa saat ini yang kekurangan air itu sekolah dan pondok pesantren atau memang masyarakatnya yang tidak melapor,” ujar pria yang akrab dipanggil Yoyok ini.
Cahyono mengakui, kondisi kekeringan yang terjadi saat ini tidak separah yang pernah terjadi pada 2015.
Meski demikian, situasi tahun ini mulai berbeda dibandingkan dua tahun terakhir karenaa hujan masih sempat turun, sehingga kebutuhan air masyarakat relatif terbantu.
Minimnya hujan membuat sejumlah sumber air mulai berkurang dan beberapa wilayah mulai merasakan dampaknya.
Namun, berdasarkan pemantauan BPBD, kondisi tersebut belum sampai pada tingkat kekeringan yang parah dan masih dapat ditangani sesuai kebutuhan di lapangan.
Dikatakan, BPBD terus melakukan pemetaan untuk mengetahui wilayah yang mengalami kekurangan air sekaligus melihat tingkat keparahannya.
Pemantauan dilakukan di sejumlah wilayah, di antaranya Pakis, Rejosari, Tegalrejo, Mranggen, Windusari, serta Menoreh di Kecamatan Salaman.
Menurut Yoyok, kebutuhan air bersih saat ini justru banyak ditemukan di pondok pesantren dan sekolah.
BPBD masih menunggu laporan dari masyarakat maupun pemerintah wilayah untuk memastikan wilayah yang membutuhkan bantuan air bersih.
Untuk penanganan, BPBD menyiapkan dropping air bersih bagi wilayah yang membutuhkan.
Air bersih tersebut diperoleh dari beberapa sumber mata air di sejumlah wilayah yang masih memiliki ketersediaan air, yaitu wilayah Menayu, Macana Tegalrejo, di Kantor BPBD ada satu sumber mata air.
Selanjutnya, air didistribusikan ke lokasi yang mengalami kekurangan sesuai laporan dan hasil pemantauan petugas di lapangan.
Namun, pelaksanaan dropping air masih menghadapi kendala pada sarana pendukung.
Menurutnya, ketersediaan air dan personel sebenarnya mencukupi, tetapi fasilitas penunjang untuk mendistribusikan air ke wilayah terdampak masih menjadi keterbatasan.
“Airnya ada, SDM-nya ada, tapi pendukungnya yang nggak ada,” ujar Cahyono.
BPBD terus memantau perkembangan kondisi di lapangan untuk memastikan kebutuhan air bersih dapat segera ditangani apabila kekeringan semakin meluas. (mg3/mg10/aro)
Editor : H. Arif Riyanto