Pemkab Magelang Dorong Literasi Jadi Fondasi Kemajuan Daerah

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 14:19 WIB
Para siswa tampak semangat membaca buku di festival dan pameran literasi Kabupaten Magelang Gemilang Fest 2026, Senin (7/9/2026). (ROFIK SYARIF/ JAWAPOS RADAR MAGELANG)
Para siswa tampak semangat membaca buku di festival dan pameran literasi Kabupaten Magelang Gemilang Fest 2026, Senin (7/9/2026). (ROFIK SYARIF/ JAWAPOS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Mungkid– Festival dan pameran literasi Kabupaten Magelang Gemilang Fest 2026 diharapkan menjadi kegiatan yang bisa meningkatkan minat dan budaya literasi anak-anak di Kabupaten Magelang.

Hal ini disampaikan langsung Bupati Magelang Grengseng Pamuji saat pembukaan Festival Literasi Kabupaten Magelang 2026, Senin (7/9/2026).

Grengseng menekankan agar kegiatan ini tidak berhenti sebagai acara seremonial, melainkan menjadi momentum membumikan literasi hingga ke lingkungan keluarga dan ruang publik.

Mengangkat tema GEMILANG FEST (Gebyar Multi Inspirasi Literasi Magelang), kegiatan ini dilaksanakan 7 – 11 September 2026 yang tergabung dalam rangkaian kegiatan Peringatan Hari Kunjung Perpustakaan yang sudah dimulai sejak 1 – 14 September di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Magelang.

“Penyelenggaraan Gemilang Fest 2024, saya berharap bukan hanya sebagai acara seremonial, tetapi ini menjadi momentum bagaimana Perpustakaan Daerah, bagaimana literasi menjadi bagian dari hidup kita,” ujarnya.

Ia menyoroti nilai historis literasi di Kabupaten Magelang.

Diawali dari keyakinan bahwa wahyu pertama yang diturunkan adalah Iqra atau bacalah, literasi disebut sebagai cara manusia melihat semesta, masyarakat, dan diri sendiri.

Grengseng juga menyampaikan, jika literasi atau perkembangan keilmuan di Kabupaten Magelang sudah ada sejak zaman dahulu.

Hal ini terbukti dengan ditemukannya ribuan manuskrip kuno dari kawasan Merapi-Merbabu.

Namun kini sebagian besar naskah itu berada jauh dari rumahnya.

Sekitar tahun 1800-an, sebanyak 1.400 manuskrip diangkut oleh Belanda.

Ratusan di antaranya kini disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Sebagian lagi di Leiden, Belanda.

“Dari penemuan tersebut kita bisa tahu bahwa di zamannya dulu, di kawasan Merapi-Merbabu sudah ada 1.400 orang setara sarjana,” katanya.

Menurutnya, manuskrip-manuskrip itu disimpan hingga ke Leiden karena memiliki nilai ilmu pengetahuan.

"Kira-kira kalau manuskrip itu tidak ada nilainya, mungkin tidak disimpan sampai dengan Leiden?" ujarnya.

Selain itu, perkembangan pendidikan di Magelang juga sangat pesat sejak dahulu.

Dimulai dari berdirinya pondok pesantren tertua yakni Ponpes Darussalam Watucongol, Muntilan pada 1820.

Disusul berdirinya Seminari Mertoyudan sekitar 1912, hingga berdirinya Akmil.

Sehingga hal ini bisa menjadi gambaran, bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan di Magelang waktu itu.

Sehingga dari sejarah tersebut ia ingin agar masyarakat dan generasi muda tahu betapa pentingnya literasi atau ilmu tersebut.

“Tidak hanya di sekolah, literasi ini bisa kita dapatkan di mana saja. Baik seperti di Pondok Pesantren, perpustakaan, maupun di museum,” ujarnya.

Ia berharap Perpustakaan Daerah dapat menjadi teladan dan terdepan dalam membangkitkan kembali semangat literasi yang disebut sudah menjadi "darah daging" masyarakat Magelang.

“Ayo jadikan Perpusda ini ruang untuk berdiskusi atau belajar bersama. Sesuaikan dengan kebutuhan literasi zaman hari ini. Jangan sekedar gedung, ada tulisannya Perpustakaan Daerah, dan kita sudah menyelesaikan kewajiban. Tetapi bagaimana outcome terkait dengan Perpustakaan Daerah ini bisa berdampak membangun sampai dengan masyarakat,” harapnya.

Dia menekankan ilmu pengetahuan adalah pintu untuk membangun peradaban, bangsa, dan wilayah.

Karena itu, peran literasi diharapkan menjadi landasan dalam membangun Kabupaten Magelang.

“Marilah festival ini kita jadikan momentum untuk membumikan literasi dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, sampai dengan ruang publik. Saya yakin dengan literasi yang kuat, ini akan menjadi fondasi menuju kemajuan Kabupaten Magelang yang berkeadaban mulia,” ujarnya.

Festival ini akan diisi sejumlah kegiatan, seperti pameran buku, Expo Stand Literasi dari Perpusdes, TBM, Perguruan Tinggi dan Komunitas Literasi, Gelar Wicara dan Workshop Literasi, Pementasan dan Penampilan Karya Literasi, dan Expo Stand Mitra TPBIS. (rfk)

 

Editor : H. Arif Riyanto
menuskrip literasi Merapi Merbabu perpusda Bupati Magelang Grengseng Pamuji