Suhartati, istri Kepala Dusun Kebon Mentok mengatakan, warga yang tidak memiliki cadangan air bersih harus ngangsu di sumber air pada malam hari pukul 22.00, bahkan hingga subuh pukul 01.00-03.00.
“Ada yang mengambil jam sepuluh malam. Kadang dari jam satu sampai jam tiga. Kalo nggak cepat ya nggak dapat, karena debit airnya kecil banget,” ujar Suhartati kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Ia mengaku sejumlah warga berinisiatif membuat sumur, termasuk di rumahnya dengan kedalaman 12 meter.
Namun, terdapat beberapa sumur warga yang dibuat tidak bisa mengeluarkan air.
Ditambahkan, kekeringan ini juga berdampak di sektor pertanian dan peternakan.
Lahan sawah mengering dan retak-retak atau nelo sehingga tak bisa ditanami.
Selain itu, beberapa tanaman terancam mati karena kekurangan air.
Pun sektor peternakan, khususnya ternak kambing juga ikut terdampak akibat sulitnya mendapatkan air bersih.
Diakui, Dusun Kebon Mentok kerap mengalami kekeringan parah.
Kekeringan tahun ini dianggap masih dalam ambang batas normal.
“Masih parah yang dulu. Sampai datang bantuan air bersih berkali-kali. Kalau ini masih lumayan, masih ada sumber air meski debitnya berkurang,” katanya.
Suhartati mengatakan, beberapa hari lalu, dusun tersebut telah mendapatkan bantuan air bersih dari Kodim Magelang.
Saat ini, warga sedang mengajukan anggaran bantuan air dari PDAM Kabupaten Magelang melalui musyawarah desa.
Ia berharap anggaran yang diajukan dapat segera diproses dan air PDAM bisa segera disalurkan kepada warga yang terdampak kekeringan. (mg7/mg9/aro)
Editor : H. Arif Riyanto