Mengubah Meja Makan Jadi Ruang Bahagia:Langkah Hadapi GTM dan Stunting Tim Pengabdian Prodi Kebidanan Magelang

Lis Retno Wibowo • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 12:00 WIB
Tim Pengabdian  Masyarakat Prodi DIII Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang mengadakan kegiatan edukasi  dan keterampilan pengasuhan di Desa Kalijoso, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Senin (17/8/2026). (Tim Pengabdian DIII Kebidanan)
Tim Pengabdian Masyarakat Prodi DIII Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang mengadakan kegiatan edukasi dan keterampilan pengasuhan di Desa Kalijoso, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Senin (17/8/2026). (Tim Pengabdian DIII Kebidanan)

 

RADARMAGELANG.ID, Mungkid — Meja makan sering kali menjadi tempat penuh tekanan bagi banyak ibu. Suara bujukan yang berubah menjadi nada tinggi, kepalan tangan mungil yang menolak suapan, hingga piring makanan yang tersisa utuh. 

Fenomena gerakan tutup mulut (GTM) serta kebiasaan pilih-pilih makanan (picky eater) pada balita kerap dianggap sekadar fase tumbuh kembang biasa. 

Padahal, jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, perilaku ini dapat memicu kekurangan gizi kronis yang berujung pada stunting

Menanggapi permasalahan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat Program Studi D-III Kebidanan Magelang, Poltekkes Kemenkes Semarang, menggelar program intervensi berbasis edukasi dan keterampilan pengasuhan di Desa Kalijoso, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang pada Senin (17/8/2026). 

Baca Juga: Optimalisasi Peran Kader Kesehatan, Langkah Nyata Desa Kalijoso Perkuat Penanganan Stunting

Tim diketuai oleh Ribkha Itha Idhayanti, S.Pd., M.Kes., bersama anggota tim dosen Masini, M.Kes., dan Nuril Nikmawati, M.Kes., serta didukung oleh tim mahasiswa.

Mereka hadir membawa pendekatan baru yang memadukan edukasi psikologi pengasuhan dan teknik intervensi fisik non-farmakologis. 

Pola Asuh Toksik: Akar Masalah yang Sering Terabaikan
Berdasarkan data nasional, prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2024 berada pada angka 19,8%.

Sementara di tingkat lokal, Desa Kalijoso mencatatkan puluhan anak yang teridentifikasi mengalami gangguan pertumbuhan. 

Studi mendalam menunjukkan bahwa akar masalah stunting bersifat multidimensi. Penanganan stunting selama ini kerap berfokus semata pada penyediaan intake atau asupan gizi.

Padahal, pola asuh orang tua (parenting) memegang peranan yang tak kalah krusial. 

"Sering kali kita tidak menyadari bahwa pola asuh yang penuh tekanan, seperti memaksa anak makan, memarahi saat anak menolak makanan, atau bersikap kaku (otoriter), merupakan bentuk parenting toxic yang memicu trauma makan pada anak," ungkap Ketua Tim PKM, Ribkha Itha Idhayanti saat memberikan pemaparan. 

Ketika anak merasa tertekan di meja makan, refleks yang muncul adalah menutup mulut rapat-rapat atau menolak kelompok makanan tertentu.

Dampaknya, asupan nutrisi mikro dan makro penting—seperti protein hewani, vitamin, dan mineral—menjadi tidak adekuat. Jika siklus ini berlangsung berbulan-bulan, pertumbuhan tinggi dan berat badan anak akan stagnan. 

Pelatihan Pijat Oromotor dan Tui Na: Solusi Praktis untuk Ibu
Untuk memutus rantai masalah ini, program pengabdian masyarakat melatih para ibu balita dan kader Posyandu Desa Kalijoso.

Pelatihan yang diselenggarakan dalam beberapa tahapan ini tidak hanya menyajikan materi teori mengenai stunting dan gizi seimbang, tetapi juga mengajarkan keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah. 

Salah satu materi unggulan adalah teknik pijat anti-GTM, yang menggabungkan pijat oromotor dan pijat tui na. Pijat oromotor merupakan stimulasi lembut pada area otot wajah, pipi, bibir, dan rahang anak. 

Teknik ini berfungsi melatih ketangkasan sistem gerak mulut sehingga anak lebih mahir dalam mengunyah dan menelan makanan, sekaligus mencegah keterlambatan bicara (speech delay)

Sementara itu, pijat tui na difokuskan pada area telapak tangan, lengan, dan perut. Dalam ilmu kesehatan holistik dan akupresur, pemijatan lembut pada titik-titik meridian telapak tangan diyakini mampu merangsang saraf vagus.

Stimulasi ini membantu meningkatkan sekresi enzim pencernaan, memperlancar gerak usus, serta menstimulasi rasa lapar alami pada anak secara aman dan tanpa efek samping. 

Selain teknik pijat, para ibu juga diajarkan metode exposure food atau pengenalan makanan baru secara bertahap dan menyenangkan tanpa paksaan, serta kreasi variasi pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan lokal agar tampilan makanan lebih menarik bagi balita. 

Antusiasme dan Peningkatan Pengetahuan Masyarakat
Kehadiran program pengabdian masyarakat ini disambut hangat oleh warga dan kader kesehatan Desa Kalijoso.

Hal ini terlihat dari peningkatan pemahaman peserta yang cukup signifikan. Sebelum pelatihan dilaksanakan, skor rata-rata pengetahuan kader dan ibu balita mengenai stunting, GTM, dan pola asuh tergolong masih kurang, yaitu berada di angka 48,8.

Namun, setelah melalui serangkaian sesi edukasi dan praktik langsung, nilai evaluasi pasca-pelatihan (post-test) melonjak menjadi 85,2. 

Tidak berhenti pada sesi kelas, tim pengabmas Poltekkes Kemenkes Semarang bersama para kader juga melakukan tindakan berlanjut melalui kunjungan rumah (home visit). 

Pendampingan dilakukan secara intensif ke rumah-rumah keluarga yang memiliki anak dengan keluhan susah makan atau terindikasi stunting. 

Melalui kunjungan ini, tim memantau perkembangan fisik anak menggunakan grafik Z-Score dan Kartu Menuju Sehat (KMS), sekaligus mendampingi ibu dalam mempraktikkan teknik pemijatan dan pemberian makanan variatif. 

Sinergi Berkelanjutan demi Generasi Emas
Upaya penanggulangan stunting di tingkat desa memerlukan konsistensi dan keterlibatan semua pihak.

Sinergi antara akademisi kesehatan, bidan desa, perangkat desa, serta kader PKK dan Posyandu menjadi kunci keberhasilan program "Satu Kader Satu Keluarga" yang terus digalakkan di wilayah Kecamatan Secang. 

Ibu yang berdaya, berpengetahuan, serta memiliki keterampilan pola asuh yang penuh kasih kasih sayang (positive parenting) akan mampu menciptakan suasana makan yang hangat dan menyenangkan.

Ketika meja makan tidak lagi menjadi tempat 'pertempuran' antara orang tua dan anak, anak-anak akan tumbuh dengan nutrisi yang optimal, sehat, cerdas, dan bebas dari ancaman stunting. 

Langkah kecil dari Desa Kalijoso ini diharapkan dapat direplikasi oleh daerah-daerah lain dalam mendukung pencapaian target percepatan penurunan stunting nasional. (rls/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
gerakan tutup mulut (GTM) kebidanan magelang poltekkes kemenkes semarang pijat tui na pola asuh toksik stunting