Agung Wardoyo, Perajin Kuluk Topeng Ireng Candimulyo, Kabupaten Magelang

Magang Radar Magelang • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 06:30 WIB
Agung Wardoyo, perajin kuluk topeng ireng Candimulyo, Kabupaten Magelang. (DWIAYU MULAN SYAWALIA/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Agung Wardoyo, perajin kuluk topeng ireng Candimulyo, Kabupaten Magelang. (DWIAYU MULAN SYAWALIA/JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Di balik keindahan penampilan tari topeng ireng Putra Langen Budaya, terdapat karya tangan perajin kuluk bernama Agung Wardoyo. 

Warga Dusun Mejing, Desa  Tegalsari, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang ini tak sekadar membuat kuluk biasa, tetapi juga melestarikan salah satu atribut tari topeng ireng ini.

Berawal dari hobi  menggambar Agung berinisiatif membuat kuluk. Apalagi kelompok kesenian topeng ireng di desanya setiap kali pentas harus selalu menyewa kuluk.

Nah, supaya bisa menghemat biaya, ia pun mencoba membuat kuluk sendiri.

“Awalnya iseng-iseng aja. Bikin kuluk topeng ireng itu butuh pola gambar, kebetulan saya hobi menggambar,”ceritanya kepada Jawa Pos Radar Magelang.

Kuluk tari topeng ireng karya Agung Wardoyo. (DWIAYU MULAN SYAWALIA/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Kuluk tari topeng ireng karya Agung Wardoyo. (DWIAYU MULAN SYAWALIA/JAWA POS RADAR MAGELANG)

Tak disangka, produksi kuluk yang ditekuninya sejak Februari 2025 itu justru membuka jalan rezeki bagi Agung hingga sekarang.

Dengan mengandalkan bahan-bahan, seperti spons eva, bulu lancur ayam, lem Fox, kain lame, dan pernak-pernik untuk hiasan, Agung berhasil membuat kuluk yang banyak diminati para pemain topeng ireng.

Saat produksi, ia hanya terkendala bahan bulu lancur ayam yang terkadang susah mendapatkannya.

“Untuk bulu lancur ayam saya harus order ke Klaten,” akunya.

Dalam pembuatan kuluk, Agung dibantu temannya.

Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian. Mulai menggambar pola di atas spons, pemotongan spons sesuai pola, lalu menempelkannya ke kain lame menggunakan lem Fox.

“Berikutnya pemasangan bulu lancur ayam dan pada tahap terakhir merangkai bagian-bagian tersebut sekaligus menghias menggunakan pernak-pernik,” bebernya. 

Bagi Agung, tahap yang paling sulit adalah saat pemasangan bulu lancur ayam karena membutuhkan waktu yang lama.

“Pemasangannya harus satu-satu. Nggak bisa bareng empat atau lima helai. Tujuannya, biar bisa rapi dan presisi antara kanan dan kiri. Setidaknya membutuhkan waktu kurang lebih dua sampai tiga jam,” katanya.

Meski awalnya tidak berniat menjual kuluk dan hanya untuk memenuhi kebutuhan kesenian di desanya, ternyata banyak orang yang tertarik melihat karyanya lewat media sosial TikTok.

Praktis, Agung mulai mendapat banyak orderan dari berbagai wilayah di Indonesia.  

Di antaranya, dari Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Wonosobo, Boyolali, serta Magelang dan sekitarnya.

Setidaknya sudah 100 kuluk lebih terjual dengan harga Rp600 ribu hingga Rp850 ribu per buah. 

Agung mengakui, hingga kini belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah.

“Kalau perhatian pemerintah belum ada, kita memakai modal usaha sendiri,” akunya.

Ia berharap, ke depan semakin banyak anak muda yang peduli terhadap kesenian tradisional, khususnya kesenian topeng ireng di wilayah Magelang.

Sehingga usaha digelurit sekarang bisa terus berkembang dan banyak mendapat pesanan, khususnya dari penggiat seni. (suci ayu s/dwiayu mulan s/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
kuluk bulu ayam Candimulyo Kabupaten Magelang Tari Topeng Ireng