RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Upaya penurunan angka stunting pada balita tidak hanya tanggung jawab tenaga kesehatan.
Keterlibatan aktif masyarakat khususnya kader kesehatan sangat penting dalam upaya penurunan angka stunting.
Kader kesehatan menjadi salah satu ujung tombak dalam mendampingi keluarga, melakukan pemantauan pertumbuhan anak, serta memberikan edukasi mengenai pencegahan dan penanganan stunting.
Melihat masih adanya stunting di Desa Kalijoso, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, tim pengabdian kepada masyarakat Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang mengadakan kegiatan “Optimalisasi Peran Kader dalam Penanganan Stunting” pada Jumat (31/7/2026).
Tim pengabdian diketuai Siti Maryani, S.ST, Bdn. MPH., dengan anggota Esti Handayani, M.Mid., dan Siti Chunaeni, S.Kep, Ns, S.Tr.Keb, M.Kes.
Kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader sehingga mampu berperan lebih optimal dalam mendampingi keluarga yang memiliki bayi dan balita.
Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui tiga tahapan, mulai dari peningkatan kapasitas kader, pendampingan keluarga, hingga pemantauan perkembangan bayi dan balita.
Pendekatan ini dilakukan agar pengetahuan yang diperoleh kader tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara langsung dalam pendampingan keluarga di lingkungan tempat tinggalnya.
“Salah satu fokus utama kegiatan adalah meningkatkan kemampuan kader dalam memberikan edukasi kepada keluarga mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak. Kader juga didorong untuk melakukan pemantauan terhadap berat badan bayi dan balita secara berkala serta mengenali kondisi yang memerlukan perhatian lebih lanjut,”ungkap Siti Maryani.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader setelah diberikan intervensi.
Pengetahuan kader meningkat dari 91,25 persen sebelum kegiatan menjadi 97,25 persen setelah kegiatan.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pemberdayaan dan penguatan kapasitas kader dapat membantu meningkatkan kesiapan kader dalam menjalankan perannya dalam penanganan stunting di masyarakat.
Lebih lanjut dikatakan, selain peningkatan pengetahuan kader, kegiatan juga diarahkan pada peningkatan pengetahuan keluarga yang mendapatkan pendampingan serta pemantauan pertumbuhan bayi dan balita, termasuk perkembangan berat badan anak,”imbuhnya.
Dengan adanya pendampingan secara berkelanjutan, keluarga diharapkan semakin memahami pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi, pemantauan pertumbuhan, serta deteksi dini masalah pertumbuhan anak.
Kegiatan ini sekaligus menjadi penguatan dari kegiatan pengabdian yang sebelumnya telah dilakukan oleh tim pengusul. Yaitu terkait pemanfaatan tikar pertumbuhan sebagai media deteksi dini stunting.
Pengalaman tersebut menjadi dasar untuk terus memperkuat kemampuan kader dalam melakukan pemantauan pertumbuhan anak dan memberikan edukasi kepada keluarga.
Optimalisasi peran kader diharapkan dapat membentuk lebih banyak kader kesehatan yang memiliki kepedulian terhadap persoalan stunting.
Kader yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik dapat menjadi penghubung antara keluarga dan tenaga kesehatan.
Khususnya dalam menemukan masalah pertumbuhan anak sejak dini dan mendorong keluarga untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian kepada masyarakat juga berupaya menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat, terutama dalam bidang kesehatan.
Pemberdayaan kader diharapkan tidak hanya memberikan manfaat selama kegiatan berlangsung, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendukung penurunan kejadian stunting di Desa Kalijoso.
Ke depan, sinergi antara kader, keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan berbagai pihak terkait menjadi hal penting untuk memastikan upaya pencegahan dan penanganan stunting dapat dilakukan secara berkesinambungan.
Dengan kader yang semakin terampil dan keluarga yang semakin memahami pentingnya pemantauan pertumbuhan anak, diharapkan Desa Kalijoso dapat terus memperkuat langkah menuju generasi yang sehat dan bebas stunting. Desa Kalijoso” Desa Sehat Bebas Stunting”. (rls/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo