Kabid Penunjang RSUD Merah Putih drg. Rurit Obyantoro mengatakan, para siswa mengalami gejala yang sama seperti saat kejadian awal. Yakni, mual, pusing, ditambah demam dan menggigil.
Dikatakan, dari sembilan siswa tersebut, enam di antaranya harus menjalani rawat inap alias opname. Sementara tiga siswa lainnya masih dalam observasi. Seluruhnya ditempatkan di ruang rawat anak. “Jadi, kita tangani di sekitar gejalanya. Kita terapi gejalanya dan penyebabnya. Biasanya ada terapi cairan, ada terapi obat antibiotik," jelasnya.
Pihak sekolah sebelumnya mencatat ada 26 siswa kelas 7, 8, dan 9 yang mengalami gejala serupa pada Jumat (7/8/2026) lalu. Saat itu, seluruhnya sudah dipulangkan dan diberi obat dari rumah sakit.
“Pada hari itu juga sampai malam dari 26 itu sudah bisa pulang semuanya dan diberi obat dari rumah sakit ini,” kata Kepala SMPN 3 Candimulyo Erna Dwi Astuti.
Pada Sabtu (8/8/2026) dan Minggu (9/8/2026), jelas Erna, sekolah mengaku tetap memonitor, namun tidak ada laporan lanjutan karena hari libur.
Lalu, pada Senin (10/8/2026) dilakukan tracing.
Didapati enam siswa tidak masuk sekolah dengan keluhan masih mual dan pusing.
Mereka disarankan istirahat dan menghabiskan obat. Pada Selasa (11/8/2026) kemarin, pihaknya memerintahkan humas sekolah untuk mengecek kondisi para siswa yang belum masuk.
Saat melihat kondisi mereka, tujuh siswa akhirnya dirujuk kembali ke RSUD Merah Putih dengan bantuan ambulans desa dan kecamatan.
Dikatakan Erna, pihak sekolah sementara ini belum ada audiensi terkait evaluasi MBG.
Pihaknya masih fokus pada penanganan siswa.
Program MBG di sekolah tersebut juga sudah dihentikan sementara sejak Senin.
“Sejak kemarin MBG untuk diliburkan terlebih dahulu,” ujarnya.
Saat ditanya kenapa gejala keracunan ini bisa kembali muncul, drg. Rurit menjelaskan adanya kemungkinan masa inkubasi bakteri.
“Memang efek dari bakteri ini kan juga ada yang bisa dalam waktu beberapa bisa kembali lagi. Pada saat kita pulangkan itu posisi pasien sudah stabil. Mual dan muntahnya juga hilang. Mungkin karena ada masa inkubasinya yang dari bakterinya itu yang mungkin dia muncul lagi dengan kondisi daya tahan tubuh dari siswanya menurun,” jelasnya.
Sebelumnya, saat Jawa Pos Radar Magelang mendatangi SMP Negeri 3 Candimulyo, Senin (10/8/2026) lalu, proses belajar mengajar berangsur normal pascakejadian keracunan masal MBG.
Hari itu, pemberian MBG sudah dihentikan sementara.
Pihak sekolah menghimbau orang tua siswa untuk membawakan bekal sampai keadaan memungkinkan kembali MBG berjalan normal.
“Pemberian makan bergizi gratis untuk sementara kami hentikan untuk menghindari rasa trauma anak-anak,” ungkap Erna.
Erna berharap proses uji laboratorium segera keluar, sehingga penyebab pasti dugaan keracunan masal anak didiknya dapat diketahui secara jelas.
Pihaknya akan terus berkoordinasi dengan SPPG maupun instansi terkait guna memastikan keamanan MBG ketika sudah berjalan normal. (rfk/mg1/mg5/aro)
Editor : H. Arif Riyanto