RADARMAGELANG.ID, Mungkid— Kebakaran hutan kembali terjadi di kawasan Gunung Andong. Api berhasil dipadamkan setelah petugas gabungan bekerja sekitar empat jam untuk menjinakkan delapan titik api.
Berdasarkan keterangan Sururi, pengelola basecamp Gunung Andong di Temu Kidul, laporan kebakaran masuk sekitar pukul 12.00 dari warga setelah terlihat kepulan asap.
"Tadi kebakaran yang di hutan itu kisaran jam 12.00 siang ada laporan dari warga, dan di situ ada titik asap yang berkepul," ujar Sururi.
Mendapat laporan tersebut, tim gabungan dari Polsek, Koramil, Perhutani, Palawi, MPA, BPBD, warga sekitar, serta pengelola basecamp di area Gunung Andong melakukan pemadaman.
"Akhirnya kami laporkan dan koordinasi dengan teman-teman semua lembaga, entah itu MPA atau yang bersangkutan di kehutanan dari Perhutani juga, Palawi juga masuk, sama warga sekitar. Jadi, kami langsung koordinasi, langsung naik," jelasnya.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Magelang di sekitar Gunung Andong sekitar pukul 15.22 masih tampak kepulan asap.
Sururi menyampaikan, api baru benar-benar padam sekitar pukul 16.00.
Prosesnya tidak mudah karena medan cukup berat.
"Kendalanya, medan yang cukup terjal dan jarang dilalui, akhirnya licin jalan itu," kata Sururi.
Untuk pemadaman, petugas masih menggunakan cara manual.
"Kami pukul, entah itu diinjak, seperti itu. Atau disebar pakai tanah ya, Pak," terangnya.
Area yang terbakar berupa vegetasi kering. "Kayak daun pinus sama ranting-ranting kering," ujarnya.
Lokasi kebakaran dipastikan bukan jalur pendakian. Sururi menyebut ini merupakan kebakaran kali keempat di Gunung Andong di tahun ini. Namun kebakaran kali ini menjadi yang terbesar. "Yang kemarin baru beberapa titik aja, belum merambat dan meluas, sudah terkondisikan sama warga sini," katanya.
Hingga kemarin, penyebab kebakaran masih didalami.
Dugaan awal mengarah pada faktor cuaca.
"Dugaannya karena musim kemarau, kekeringan, seperti itu. Untuk saat ini indikasi kebakarannya belum tahu. Nah, yang kami lihat karena ada kepulan asap, jadi kami tanggulangi." (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto