Melongok Kampung Grubi di Desa Menoreh Salaman: Produksi Sejak 1980, Kuasai Pasar Kota-Kota Besar di Jawa

Magang Radar Magelang • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 20:45 WIB
Warga tengah mengolah grubi di pabrik rumahan Minsri di Kampung Jetis, Desa Menoreh, Salaman, Kabupaten Magelang. (Talitha Shafiaulia/Jawa Pos Radar Magelang)
Warga tengah mengolah grubi di pabrik rumahan Minsri di Kampung Jetis, Desa Menoreh, Salaman, Kabupaten Magelang. (Talitha Shafiaulia/Jawa Pos Radar Magelang)

 

RADARMAGELANG.ID, Mungkid- Aroma ketela pohon dan gula jawa yang meleleh menyeruak nyaris dari setiap sudut Dusun Jetis, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.

Bukan hanya dari satu-dua rumah, hampir seluruh warga kampung ini menggantungkan dapur mereka pada camilan yang sama. Yakni olahan manis ketela berbentuk bola-bola yang dikenal dengan nama grubi. 

Makanan ringan berlapis gula yang identik dengan tekstur renyah ini telah menjelma menjadi identitas dusun ini.

Berjalan di setiap belokan, suara pisau merajang ubi dan desis minyak panas nyaris tidak pernah berhenti. Kampung ini adalah sentra grubi, dan hampir semua warganya adalah produsen. 

Dusun Jetis dikenal sebagai 'Kampung Grubi' karena mayoritas warganya menekuni usaha ini.

Baca Juga: Tak Lagi Bergantung Cuaca, Mahasiswa KKN UNTIDAR Magelang Ciptakan Oven Pengering bagi UMKM Keripik Singkong Desa Kebonagung Tegalrejo 

Aktivitas produksi grubi di Desa Menoreh, termasuk Dusun Jetis, telah berlangsung sejak dekade 1980-an dan kini menjadi penopang utama perekonomian masyarakat setempat.

Dengan demikian, sejarah kawasan ini sebagai sentra grubi sudah berjalan kurang lebih empat dekade.

Dari sekian banyak usaha grubi yang berjajar, usaha milik Minsri menjadi salah satu yang dikenal oleh para pengepul. Setiap hari, kecuali Minggu, dapur ini beroperasi selayaknya pabrik kecil.

Mulai pukul 07.00 hingga 16.00, bisa menghabiskan dua kuintal ketela, dengan hasil akhir puluhan hingga ratusan bal grubi. 

Dapur produksinya mampu mengolah kurang lebih dua kuintal ubi setiap hari. Bahan baku ubi, baik ubi biasa maupun ubi ungu, didatangkan dari berbagai daerah.

Mulai dari Jawa Timur, Sumowono (perbatasan Semarang), hingga Kalimantan, bergantung pada ketersediaan stok. 

“Kami sudah mengirim sampai Bandung, Jakarta, Surabaya, hingga Cimahi. Biasanya lewat pengepul, dan ada kirim ke toko oleh-oleh juga. Dari kami langsung memberi label, jadi mereka tinggal jual,” ujar pemilik usaha grubi, Minsri.

Legalitas sentra grubi ini telah terdaftar dan memiliki Sertifikasi halal dan Perizinan Industri Rumah Tangga (P-IRT) yang telah dikantongi lewat program pembinaan UMKM.

Namun secarik sertifikat itu belum cukup mengangkat pendapatan yang kian tergerus dari tahun ke tahun akibat kenaikan bahan.

Kendala lain pun datang dari pasokan bahan baku yang tidak selalu lancar. Saat ketela sulit didapat, produksi otomatis berhenti karena tidak ada bahan pengganti yang sepadan. 

“Pendapatan itu sangat tipis, soalnya semua harga bahan naik, tapi harga jual gak bisa naik. Terlalu banyak saingan, nanti kalau menaikkan harga, sedangkan tempat lain lebih murah, jadinya punya kita nggak laku.

Kalau ukuran produksi grubinya dikecilin sedikit pun nggak bisa, karena tampilan kemasannya di mika kalau dikurangi, ya jadi kocak” ujarnya. (talitha/yusuf/lis)

 

Editor : Lis Retno Wibowo
kampung grubi dusun jetis desa menoreh produksi sejak 1980 Salaman