14 Kecamatan di Kabupaten Magelang Masuk Kering Ekstrem

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 20:43 WIB
Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengecek peralatan usai Apel Siaga Antisipasi Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Jumat (7/8/2026). 
Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengecek peralatan usai Apel Siaga Antisipasi Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Jumat (7/8/2026). 

RADARMAGELANG.ID, MungkidBadan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak kemarau Agustus-September.

Sebanyak 14 dari 21 kecamatan di Magelang masuk kategori kering ekstrem. Di antaranya, Borobudur, Tempuran, Pakis, Tegalrejo, Ngablak, Candi Mulyo, Grabag, dan Kajoran.

“Ancaman kemarau ada dua. Kekeringan dan kebakaran hutan lahan. Potensi air bersih masyarakat bisa menurun dan kekeringan juga berdampak pada kebakaran lahan hingga hutan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Bambang Hermanto saat apel siaga antisipasi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan yang dipimpin langsung Bupati Magelang Grengseng Pamuji dihadiri jajaran Forkopimda, Jumat (7/8/2026)

Dikatakan, langkah konkret yang sudah dilakukan adalah droping air bersih. Data per Kamis (6/8), BPBD telah mendistribusikan sekitar 50.000 liter air ke lima kecamatan, yakni Pakis, Borobudur, Salaman, Mungkid, dan Ngluwar. “Tidak menutup kemungkinan juga ada pihak lain yang melakukan droping. Yang penting masyarakat tidak sampai kekurangan air bersih. Itu pesan pimpinan,” ujarnya.

Selain itu, BPBD juga mengimbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan dan membuang puntung rokok, terutama di kawasan hutan. Pelaku pendakian dan pencari rumput diminta menaati aturan agar tidak membuat titik api baru.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyampaikan, apel tersebut bukan seremoni, melainkan wujud kesiapsiagaan dan langkah nyata. Berdasarkan prediksi BMKG, fenomena El Niño 2026 berpotensi membuat musim kemarau lebih panjang dan kering. Kondisi itu meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, gangguan pertanian, serta kebakaran di lereng gunung dan lahan kering."Penanganan bencana tidak bisa parsial. Kita butuh sinergi pemerintah, TNI-Polri, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat," ujar Grengseng.

Dalam arahannya, Bupati menyampaikan empat poin utama. Pertama, meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan rutin di wilayah rawan kekeringan serta titik panas Karhutla. Kedua, memastikan kesiapan logistik seperti armada distribusi air bersih dan peralatan pemadaman agar selalu siap pakai. Ketiga, mengedukasi masyarakat agar bijak menggunakan air dan tidak membakar sampah atau lahan sembarangan. “Keempat, memperkuat jalur komunikasi dari desa hingga kabupaten agar informasi darurat cepat tersampaikan,” katanya. (rfk/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
apel siaga kekeringan BPBD Kabupaten Magelang Bupati Magelang Grengseng Pamuji Ekstrem