RADARMAGELANG.ID. Mungkid – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tidar (Untidar) menggelar pelatihan roasting dan barista bagi warga Desa Banjarsari, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Selasa (28/7/2026)
Pelatihan ini bertujuan agar kopi lokal tidak lagi dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk siap konsumsi bernilai tambah tinggi.
Sebelumnya sebagian besar kopi lebih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan baku, masyarakat Banjarsari kini didorong untuk mampu mengolah kopi hingga menghasilkan produk siap konsumsi melalui keterampilan roasting dan barista.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat DIPA Universitas Tidar (Untidar) Tahun Anggaran 2026 dalam kegiatan bertajuk: “Penguatan Hilirisasi Kopi Desa Banjarsari melalui Pelatihan Roasting dan Barista sebagai Tindak Lanjut Program Riset Unggulan Daerah (RUD) Kabupaten Magelang.”
Potensi Kopi Lokal yang Perlu Naik Kelas
Desa Banjarsari merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi pengembangan kopi lokal di Kabupaten Magelang.
Berdasarkan hasil kajian potensi wilayah, kopi Banjarsari memiliki peluang untuk dikembangkan tidak hanya pada aspek produksi, tetapi juga melalui penguatan rantai nilai mulai dari pascapanen, pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran.
Desa Banjarsari memiliki luas lahan kopi ± 1059.330 m2, jumlah petani 406 dengan produksi kopi mencapai 5038.383651 ton per tahun.
Selama ini, tantangan utama komoditas pertanian adalah rendahnya nilai tambah ketika produk hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Dari Petani Kopi Menuju Pelaku Industri Kopi Lokal
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Emma Dwi Ratnasari, S.E., M.Si., menjelaskan pengembangan kopi lokal tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi, tetapi juga harus memperkuat kemampuan masyarakat dalam menciptakan nilai tambah.
“Kopi tidak boleh berhenti hanya sebagai komoditas pertanian. Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk mengolah, mengemas, dan memasarkan produk sehingga nilai ekonomi kopi dapat kembali kepada masyarakat desa,” ujar Emma.
Menurutnya, konsep green economy menjadi pendekatan penting dalam pengembangan kopi lokal karena tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi lokal.
“Kami ingin membangun ekosistem kopi desa yang berkelanjutan. Ketika petani memiliki keterampilan pengolahan, generasi muda memiliki peluang usaha, dan masyarakat mampu menciptakan produk lokal unggulan, maka ekonomi desa akan semakin kuat,” tambahnya.
Kolaborasi Lintas Prodi:Menggabungkan Ekonomi, Teknologi, dan Rekayasa
Tim pengabdian dipimpin oleh Dr. Emma Dwi Ratnasari, S.E., M.Si dari Program Studi Ekonomi Pembangunan.
Dengan anggota tim, Muhamad Maksum Hidayat, A.Md., S.Kom., M.Kom, dari Program Studi Teknologi Informasi, serta Ir. Nani Mulyaningsih, S.T., M.Eng., IPM dari Program Studi Teknik Mesin.
Juga, Intan Merdian, S.E dan mahasiswa Untidar yaitu Samiyah Nur Amaliah, dan Anisa Aghus Akhsani dari Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan.
Mahasiswa turut berkontribusi dalam pelaksaan kegiatan ini sebagai langkah kontribusi nyata kolaborasi antara mahasiswa dan dosen dalam kegiatan pengabdian.
20 Warga Belajar Mengolah Kopi dari Hulu hingga Hilir
Sebanyak 20 peserta yang mengikuti kegiatan ini terdiri atas petani kopi, barista desa, pemuda, dan masyarakat yang memiliki minat mengembangkan usaha kopi lokal.
Pelatihan menghadirkan narasumber dari Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) yaitu Tolib Handayani, Nurrachmat, dan Indarso.
Peserta mendapatkan materi mengenai pengenalan kualitas biji kopi, teknik panen dan pascapanen, proses roasting, pengenalan karakter rasa kopi, teknik penyeduhan, hingga pelayanan sebagai barista.
Tidak hanya mendapatkan teori, peserta juga mengikuti praktik langsung menggunakan peralatan roasting dan mesin espresso.
Roasting, Tahap Penting Membangun Karakter Kopi
Instruktur Bapeltan, Tolib Handayani, menjelaskan kualitas kopi tidak hanya ditentukan dari varietas tanaman, tetapi juga proses setelah panen.
Sementara itu, Nurrachmat menyampaikan roasting merupakan proses penting dalam membangun karakter kopi. Pada sesi terakhir, Indarso memberikan pelatihan keterampilan barista dan penyajian kopi
Membuka Peluang Kedai Kopi Desa dan Wirausaha Baru
Bagi masyarakat Banjarsari, pelatihan ini bukan hanya kegiatan belajar membuat kopi, tetapi membuka perspektif baru mengenai peluang ekonomi.
Salah satu peserta mengungkapkan, sebelumnya masyarakat lebih banyak memahami kopi dari sisi budidaya.
“Sebelumnya kami hanya mengetahui kopi dari proses sederhana. Setelah mengikuti pelatihan ini kami memahami bagaimana menghasilkan kopi dengan kualitas lebih baik dan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha,” katanya.
Untidar Dorong Kopi Banjarsari Menjadi Kekuatan Ekonomi Desa
Kolaborasi antara Universitas Tidar, Balai Pelatihan Pertanian, pemerintah desa, kelompok petani kopi, dan masyarakat menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem kopi lokal yang lebih kuat.
Melalui program ini, Desa Banjarsari tidak hanya diarahkan menjadi wilayah penghasil kopi, tetapi juga menjadi desa yang mampu mengolah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi baru. (rls/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo