Nalendro Café & Space Borobudur : Dari Ruang Pijat Menjelma Tongkrongan Menghanyutkan

Magang Radar Magelang • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 15:53 WIB
Bangunan didominasi kayu yang semakin mengukuhkan kesan menyatu dengan alam. (Muhammad Yusuf   Effendi/Jawa Pos Radar Magelang)
Bangunan didominasi kayu yang semakin mengukuhkan kesan menyatu dengan alam. (Muhammad Yusuf Effendi/Jawa Pos Radar Magelang)

 

RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Di sepetak lahan yang dulu hanya jalur andong dan sepeda menuju Candi Borobudur, Nalendro Cafe & Space berdiri.

Menawarkan sesuatu yang jarang ditemui di tengah hiruk pikuk kawasan wisata: ketenangan.

Sepoi angin menyusup pelan di antara rimbunnya pepohonan. Membawa aroma harum kopi yang baru digiling dan sedikit wewangian kemenyan.

Begitu melangkah masuk di Nalendro Cafe, mata langsung dimanjakan oleh deretan kayu-kayu tua yang membentuk dek, pagar, hingga lantai.

Suara gemericik air terjun kecil berpadu mengiringi riak kolam ikan, menjadi latar yang menenangkan.

Dipadukan dengan eloknya burung-burung dara yang beterbangan melintasi langit. Semua terasa menyatu dengan alam sekitar, sehingga membuat siapa pun yang duduk berlama-lama di sini enggan buru-buru beranjak.

Baca Juga: Deepa Coffee and Studio : Konsep Full Industrial Pertama di Temanggung , Asyik untuk Nongkrong sembari Ngopi

Di sudut lain, jejak taman anggrek dan kaktus menghiasi kawasan ini. Menawarkan sensasi eksotis sekaligus semarak yang terlihat memikat untuk dijadikan spot berfoto.

Suasana taman yang rimbun ini bukan tanpa alasan. Bagi Usep Syarifudin, pemilik Nalendro Cafe, konsep menyatu dengan alam adalah nilai jual utama yang ingin dipertahankan.

Sekaligus penghormatan terhadap kawasan Borobudur yang kental dengan nuansa hijau dan tenang.

Selain area makan yang luas dan teduh, Nalendro juga menyediakan berbagai fasilitas pendukung yang membuat pengunjung betah berlama-lama.

Ada meja biliar yang sejak dulu difungsikan sebagai teman menunggu pesanan datang, akses wifi, musala, hingga toilet yang memadai.

Setiap Sabtu sore, suasana kafe diramaikan dengan alunan musik akustik dari pengamen jalanan yang sejak awal pandemi setia mengisi panggung kecil di sini.

Live music itu bukan untuk menarik tamu datang, tapi untuk menghibur tamu yang sudah datang,” tegas Usep, menjelaskan filosofi di balik pertunjukan musik yang konsisten digelar setiap pekan.

Spot paling indah di Nalendo Café saat senja turun. Langit di atas Perbukitan Menoreh membuat suasana menjadi syahdu. (Dok Nalendro Cafe)
Spot paling indah di Nalendo Café saat senja turun. Langit di atas Perbukitan Menoreh membuat suasana menjadi syahdu. (Dok Nalendro Cafe)
 

Sedikit yang menyangka, tempat yang kini ramai disebut sebagai salah satu spot nongkrong estetik di jalur Borobudur ini dulu bukan kafe sama sekali.

Usep bercerita cikal bakal Nalendro justru lahir dari sebuah spa tradisional yang dibangun setelah  19 tahun berkarier di resor mewah ternama di Borobudur.

“Dulu itu adalah Nalendro Spa,” kenangnya, sembari menunjuk bangunan limasan yang kini menjadi ruang utama kafe.

Bangunan itu berdiri tepat saat pandemi melanda. Rencana besar untuk membuka layanan spa berkelas pun terpaksa ditunda.

Usep menjual makanan sederhana dimulai dari semangkuk nasi pecel sebagai jalan keluar di tengah ketidakpastian.

Dari situlah nama Nalendro Spa beralih menjadi Nalendro Cafe seiring makin ramainya pengunjung yang datang untuk sekadar ngopi dan bersantai.

Nama “Nalendro” sendiri punya cerita menarik di baliknya. Usep mengaku nama itu terngiang dari lantunan dalang saat pergelaran wayang yang kerap didengarkan di masa-masa awal merintis usaha.

 “Didengar di telinga itu enak, bahasanya jelas Jawa, artinya juga bagus,” ujarnya.

Dalam tradisi Jawa, Nalendro merujuk pada sosok yang mulia, semacam raja atau bangsawan, filosofi yang ingin ia sematkan pada tempat ini.

Berada tepat di jalur menuju salah satu situs warisan dunia tidak lantas membuat Nalendro tampil terlalu komersial. 

Taman kaktus yang menjadi salah satu keunikan Nalendro Café. (lis Retno Wibowo/Jawa Pos Radar Magelang)
Taman kaktus yang menjadi salah satu keunikan Nalendro Café. (lis Retno Wibowo/Jawa Pos Radar Magelang)

 

Justru sebaliknya, di sini waktu seakan melambat. Suara alam lebih dominan ketimbang bising kendaraan, dan pepohonan besar seolah membentuk tirai alami yang memisahkan pengunjung dari dunia luar sejenak.

Menjelang malam, suasana berubah lebih syahdu. Lampu-lampu temaram menyala di antara dedaunan, memantul lembut di permukaan kolam.

Uap kopi hangat berpadu dengan udara sejuk khas dataran Borobudur, menciptakan momen yang pas untuk sekadar berbincang santai atau menikmati keheningan.

Dengan fasilitas yang kian lengkap, kafe ini menyasar berbagai segmen pengunjung. Salah satu paket andalan yang paling laris adalah romantic dinner di dalam kubik kaca bertirai dengan dekorasi bunga eksklusif. (talitha shafiaulia/muhammad yusuf effendi/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
Nalendro Cafe & Space usep syarifudin spa ketenangan borobudur