Manuskrip Kedakan: Jembatan Ilmu Pengetahuan Merapi-Merbabu yang Ingin Dipulangkan ke Magelang

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 19:02 WIB
Bupati Magelang Grengseng Pamuji saat mengamati manuskrip kuno di Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji saat mengamati manuskrip kuno di Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis.

RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Selain Candi Borobudur yang masih banyak menyimpan cerita-cerita maupun ilmu pengetahuan dalam relief-reliefnya, Kabupaten Magelang ternyata juga pernah menyimpan ribuan manuskrip kuno di sebuah padepokan di Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis.

Dusun yang berada di lereng Gunung Merbabu ini, informasinya pernah menjadi sebuah tempat berkumpulnya para cendekiawan di masa lampau.

Hal ini terbukti dari ditemukannya ribuan manuskrip kuno yang ditulis di atas daun lontar dan dluwang (kertas tradisional Jawa, Red).

Manuskrip tersebut bukan sekadar catatan tua.

Di dalamnya ada ribuan ilmu pengetahuan baik ilmu pengobatan, astronomi, astrologi, pertanian, epos Mahabharata (termasuk sabhaparwa yang langka), catatan mantra, kakawin, primbon, hingga kidung dan sastra.

Semuanya ditulis tangan oleh para pelajar di era tersebut, dengan tulisan Jawa Buddha.

Kini, sebagian besar naskah itu berada jauh dari rumahnya.

Sekitar tahun 1800-an, sebanyak 1.400 manuskrip diangkut oleh Belanda.

Ratusan di antaranya kini disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 

Sebagian lagi di Leiden, Belanda.

“Kekayaan budaya dan ilmu pengetahuan, bukan hanya budaya, itu ilmu pengetahuan,” kata Bupati Magelang Grengseng Pamuji dalam sebuah perbincangan bersama Jawa Pos Radar Magelang.

Manuskrip kuno di sebuah padepokan di Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis.
Manuskrip kuno di sebuah padepokan di Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis.

Menurut Grengseng, berdasarkan catatan sejarah, sekitar 1.000 manuskrip lebih pernah ditemukan di wilayah tersebut dan kemudian dibawa oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Namun, saat ini hanya satu manuskrip yang masih berada di Kabupaten Magelang.

“Satu manuskrip tersebut, saat ini tersimpan rapi di sebuah rumah seorang dalang di Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis,” jelasnya lebih lanjut.

Bagi Pemkab Magelang, penemuan ini bukan perkara kecil.

Jika Borobudur adalah bukti kejayaan fisik di abad 8-10, maka naskah-naskah di Kedakan adalah bukti kejayaan intelektualnya.

“Itu pun bisa menunjukkan bahwa kekayaan literasi di zaman itu di wilayah Kabupaten Magelang itu sangat luar biasa. Dengan ditemukannya 1.000 lebih manuskrip di wilayah Merapi-Merbabu. Dan ini yang terbesar di Indonesia penemuan manuskrip seperti ini,” ujar Grengseng.

Menurut filologi, jelas Grengseng, umur naskah itu berkembang di era pra-Islam.

“Jadi, mungkin era Majapahit ya,” katanya. 

"Kalau boleh dikatakan ini menjadi jembatan antara Jawa Kuno dengan Jawa Islam atau Jawa Modern. Nah, jembatannya di manuskrip ini."

Artinya, isi lontar-lontar itu merekam masa transisi besar peradaban Jawa.

Dari Hindu-Buddha menuju Islam.

“Dari sanalah kita bisa membaca bagaimana leluhur di lereng Merapi-Merbabu berpikir tentang obat, bintang, musim tanam, dan sastra,” jelasnya.

Sayangnya, warisan sebesar itu belum banyak yang bisa disentuh.

Dari ratusan naskah, baru sekitar 15 yang berhasil diterjemahkan.

Nah, sayangnya manuskrip ini yang bisa diterjemahkan baru 15, dari sekian ratus manuskrip tadi,” ujar Bupati.

Padahal isinya sangat beragam.

Berdasarkan informasi dari Perpusnas, ratusan manuskrip itu berisi ilmu pengetahuan praktis yang dulu dipakai masyarakat.

Ada resep pengobatan tradisional, perhitungan musim lewat astrologi, ilmu astronomi, hingga teknik pertanian.

Dan pada saat ditemukan itu, berada di satu tempat padepokan di Kedakan.

Semua ditulis dalam bahasa Jawa Kuno di atas daun lontar oleh para pelajar yang "terhimpun ya di wilayah Merapi-Merbabu".

Pemkab Magelang tidak menuntut naskah fisik kembali.

Yang dikejar adalah salinan dan terjemahannya.

Tujuannya satu, agar generasi Magelang hari ini bisa membaca langsung pikiran leluhurnya.

"Kami dari Pemda tentu sangat ingin manuskrip-manuskrip ini kembali dalam bentuk terjemahan. Sehingga masa depan generasi-generasi Kabupaten Magelang ini bisa melihat sejarah leluhur-leluhurnya dahulu seperti apa," ujarnya.

Langkah awal yang dilakukan adalah bekerja sama dengan Perpusnas untuk mengidentifikasi 400 lebih manuskrip yang disimpan di sana.

Tahap berikutnya, Pemkab ingin menggandeng civitas akademika.

"Rencana kami, kalau bisa kita mendorong civitas akademika dari UGM, dari BRIN, dari mana pun peneliti maupun filologi untuk bisa membantu menerjemahkan ini," kata Bupati.

Bahkan, ia juga berharap ke Kementerian Kebudayaan, Kabupaten Magelang punya salinannya.

Ia juga berharap bisa membuka dialog akademik dengan pihak Leiden.

"Mungkin syukur kalau Leiden bisa memberikan ruang kepada kita untuk meminta terjemahan atau salinannya. Itu luar biasa."

Bupati juga menekankan pentingnya menghormati naskah yang masih dipegang masyarakat.

"Itu kan sudah menjadi milik masyarakat ya. Yang menjadi pusaka di masyarakat sanalah. Itu menjadi kearifan lokal di masyarakat ya. Kita nanti nguri-uri saja,"

Merapi-Merbabu sebagai Pusat Ilmu

Komunitas Lima Gunung selama ini memang sering menyebut wilayah Merapi-Merbabu sebagai pusat spiritual dan budaya.

Dengan adanya manuskrip Kedakan, sebutan itu kini punya dasar ilmiah.

"Kalau Borobudur mungkin secara fisik terbangun, nah ini secara intelektualnya menjadi bukti bahwa wilayah Merapi-Merbabu itu adalah wilayah keilmuan," ujarnya

Harapannya sederhana.

Suatu hari nanti, anak-anak sekolah di Magelang tidak hanya belajar tentang Candi Borobudur, tapi juga bisa membaca bagaimana leluhur mereka meramu obat, menghitung rasi bintang, dan menulis sastra 700 tahun lalu.

Karena menurut Bupati, kemerdekaan sebuah daerah juga diukur dari seberapa jauh ia bisa mengakses ingatan leluhurnya sendiri.

Dan ingatan itu, saat ini, masih menunggu untuk diterjemahkan.

Saat Jawa Pos Radar Magelang berkunjung ke Desa Kenalan, Selasa (21/7/2026) pagi, Kepala Desa Kenalan Joko Santoso menceritakan, manuskrip yang dituliskan dalam lontar ini memang berada di Dusun Kedakan, Desa Kenalan. Dan disimpan di rumah Mbah Dalang Ki Supoyo.

Dan hingga saat ini, belum ada yang bisa menerjemahkan atau bahkan membaca tulisan tersebut.

“Bahkan dulu ada sejumlah mahasiswa dari UI, UGM, dan IPB pernah mengadakan penelitian. Dan dulu awalnya pernah menyimpulkan isi dari manuskrip di Kedakan itu tentang ini, namun berselang beberapa waktu ketika dibaca lagi sudah berubah isinya, dan setiap peneliti datang itu artinya selalu berganti-ganti,” jelasnya.

Joko mengatakan, selain manuskrip tersebut, di Desa Kedakan juga terdapat satu peninggalan lain yakni wayang jimat.

Dan menurut masyarakat setempat antara manuskrip di daun lontar tersebut dengan wayang jimat ada semacam keterikatan.

Kalau dari manuskrip yang tersimpan di Dusun Kedakan itu, memperlihatkan bahwa tulisan di daun lontar tersebut tidak menggunakan tinta.

Melainkan dengan cara ukiran.

“Istimewanya disini, kenapa ukiran ini tidak tembus. Padahal ketebalan daun lontar itu seperti setebal kertas,” ujarnya.

Selain itu, kata Joko, dari ratusan manuskrip yang ada di Perpusnas dan di Dusun Kedakan ini semuanya bertuliskan Simbah Ky Hajar Doko.

Bahkan yang ditemukan di daerah lain seperti Gunung Salak, Gunung Wilis, Gunung Arjuna dan semuanya tertanda Simbah Ky Hajar Doko.

“Ibaratnya itu kalau di sebuah karya atau undangan itu di bawahnya tertulis di bawah atau mengetahui bahkan sebuah tanda tangan. Nah di sini semuanya tertulis Simbah Ky Hajar Doko,” jelasnya lebih lanjut. (rfk/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
manuskrip gunung merapi merbabu relief candi borobudur Bupati Magelang Grengseng Pamuji