RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Destinasi wisata Kedung Kayang memiliki wahana baru dalam dua tahun terakhir ini.
Ada sebuah terowongan kuno, bekas saluran irigasi di era Presiden Soeharto yang kini difungsikan untuk menambah daya tarik wisata air terjun di perbatasan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali tersebut.
Prina, salah satu pengunjung lokal yang tertarik menyusuri terowongan sepanjang 180 meter itu. Dengan tubuh mungilnya yang hanya sekitar 152 sentimeter, Prina tak begitu banyak menunduk untuk masuk ke dalamnya.
Lain halnya dengan Amalia. Pengunjung yang memiliki tinggi badan 170 sentimeter ini harus bekerja ekstra menjaga badannya tetap menekuk agar kepalanya tidak terbentur atap terowongan.
“Saya penasaran dengan sensasi berjalan di dalam sebuah terowongan yang gelap dan sempit. Cukup pegal karena harus menunduk, tapi rasa penasaran itu terbayarkan,” ujarnya dengan wajah sumringah, Minggu (19/7/2026).
Pengelola tempat wisata Surono mengaku, sudah banyak wisatawan yang mencoba wahana baru tersebut. Sejak aktif dibuka, setidaknya 30 persen dari total pengunjung menyempatkan diri untuk mengeksplorasi bangunan tua tersebut. “Di hari biasa, pengujung kita mencapai 100 orang, di akhir pekan bisa 300-400 orang. Setidaknya, 30 persen pengunjung tertarik masuk ke situ,” aku Surono.
Sebelum dibersihkan untuk wahana baru, terowongan tersebut tertutup tanah karena sudah lama tidak difungsikan oleh warga setempat.
Surono bercerita, terowongan ini awalnya merupakan saluran irigasi yang dibangun pada 1878. Namun setelah 1980, induk irigasi di Dusun Plutungan, Wonolelo, mengalami kerusakan, sehingga saluran irigasi di Kedung Kayang berhenti berfungsi.
“Setelah itu, selama 15 tahun dialihfungsikan untuk jalur pipa paralon air bersih untuk warga sekitar dan digunakan untuk menyiram tanaman. Meskipun sudah tertimbun tanah, tapi masih bisa untuk lewat pipa,” terangnya.
Untuk pengembangan wisata, warga sepakat membersihkan saluran irigasi ini. Tanah dan tanaman liar yang menutupi saluran dibersihkan. Kini 100 persen berfungsi sebagai terowongan. “Ada pengunjung yang masuk ke terowongan ini agar lebih cepat sampai menuju tempat parkir,” imbuhnya.
Surono menyebut, terowongan ini memang cukup unik. Karena dibangun secara manual, struk bangunannya tidak presisi. “Ada selisih 30 sentimeter karena hanya pakai ilmu perkiraan,” imbuhnya.
Maka jika pengunjung masuk ke dalam terowongan, ada perbedaan ketinggian yang cukup signifikan. “Tinggi di bagian depan 160 sentimeter, sampai di tengah menjadi 190 sentimeter, dan di ujung kembali ke 160 sentimeter lagi,” terangnya.
Ia juga mengungkapkan, terowongan ini hanya memiliki lebar 140 sentimeter yang menyulitkan jika dua pengunjung dewasa berjalan bersamaan di dalam terowongan. Pihaknya juga mulai memasang lampu penerangan yang digunakan saat tertentu, seperti di saat sinar matahari sangat tipis agar di dalam tidak terlalu gelap.
Sebelum resmi dibuka untuk objek wisata, terowongan ini sempat disalahgunakan untuk berburu nomor togel oleh warga sekitar. Kini, setelah dibersihkan dan ditertibkan, aktivitas yang mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat itu sudah tidak ada lagi.
Adanya wahana baru ini, Surono merasakan ada kenaikan jumlah pengunjung. Terowongan ini menjadi alternatif bagi pengunjung yang ingin mengeksplorasi kawasan baru, terutama bagi mereka yang sudah pernah menikmati keindahan air terjun Kedung Kayang setinggi 39 meter dan kesegaran airnya yang bersumber dari Gunung Merbabu.
Meski ada wahana baru, tidak ada perubahan harga tiket. Saat ini berlaku harga tiket masuk wisata sebesar Rp 4.000 dan pengenaan Rp 500 untuk asuransi. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto