Kegiatan yang berlangsung di Gedung Serba Guna Desa Banjarsari ini diikuti oleh 20 peserta dengan rentang usia antara 11 hingga 17 tahun.
Sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran generasi muda akan dua isu penting yang saling berkaitan, yaitu kekerasan seksual dan stunting.
Dengan menghadirkan pemateri Dian Prihatini, S.Pd., dari Sahabat Perempuan.
Pada kesempatan tersebut Dian menjelaskan perbedaan mendasar antara seks, gender, dan kodrat.
Seks merupakan perbedaan badani atau biologis antara perempuan dan laki-laki yang sering disebut jenis kelamin dan tidak dapat dipertukarkan.
Sementara itu, gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya.
Adapun kodrat merupakan ketentuan Tuhan yang tidak dapat dipertukarkan.
Baca Juga: KKN Regular, 900 Mahasiswa Untidar Magelang Diterjunkan di 6 Wilayah Kabupaten
Dian memaparkan lima bentuk ketidakadilan gender, yaitu beban ganda, marginalisasi, subordinasi, stereotipe, dan kekerasan.
Kekerasan yang disebabkan oleh adanya anggapan gender ini disebut sebagai gender-based violence atau kekerasan berbasis gender.
Selain kekerasan seksual, sosialisasi ini juga menyoroti masalah stunting, masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
Penyebab utama stunting meliputi kurangnya asupan gizi ibu selama hamil, pola makan anak yang tidak tercukupi baik kuantitas maupun kualitas gizi, sanitasi buruk dan penyakit infeksi berulang seperti diare dan cacingan, serta kondisi psikologis ibu yang tidak stabil.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak untuk memahami langkah-langkah yang harus dilakukan jika mengalami kekerasan seksual.
Antara lain : tidak menyalahkan diri sendiri, berani berbicara (speak up), mencari bantuan, melapor ke pihak berwajib, dan mengamankan barang bukti.
Bagi mereka yang menjadi pendamping korban, diharapkan menjadi pendengar yang baik, tidak menyalahkan korban, mendampingi korban bila mampu, merujuk ke lembaga layanan, mendampingi pelaporan, dan tidak menjadi lambe turah (tukang gosip).
Sebagai bentuk upaya pencegahan stunting, Tim KKN 48 Universitas Tidar juga membagikan Tablet Tambah Darah (TTD) kepada peserta remaja perempuan.
Pemberian TTD ini untuk mencegah anemia yang masih banyak dialami remaja perempuan, karena kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting pada generasi berikutnya apabila tidak ditangani sejak dini.
Pembagian TTD disertai dengan edukasi mengenai pentingnya konsumsi tablet tambah darah secara rutin, penerapan pola makan bergizi seimbang.
Serta menjaga kesehatan reproduksi sebagai bekal untuk mewujudkan generasi yang sehat, berkualitas, dan bebas stunting.
Kepala Desa Banjarsari M. Asfuri memberikan apresiasi terhadap kegiatan sosialisasi ini.
"Dengan adanya sosialisasi ini, remaja khususnya di Desa Banjarsari akan lebih baik dan lebih berhati-hati. Sosialisasi menambah wawasan, paling tidak menambah ilmu sehingga dalam perjalanan hidupnya dalam fase remajanya benar-benar dijalankan dengan benar," ujarnya.
Hal senada diungkapkan Dian Prihatini dari Sahabat Perempuan juga memberikan tanggapan positif.
"Keren banget gebrakan teman-teman KKN di Banjarsari ini. Saya berharap ke depan tidak ada kekerasan lagi. Kalaupun ada kekerasan, mereka berani untuk speak up," harapnya.
Ia berharap agar Tim KKN dari Untidar terus mengampanyekan antikekerasan seksual di ruang yang berbeda, tidak berhenti hanya saat KKN saja.
"Harapannya temen-temen jangan berhenti di sini untuk mengkampanyekan antikekerasan seksual.
Jangan berhenti di sini. Ke depannya, harapannya temen-temen generasi muda itu berani untuk speak up, jadi generasi antikekerasan," pungkasnya. (rls/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo