Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Tahun Ajaran Baru, SD Negeri Wonokerto Magelang Hanya Dapat Empat Siswa Baru

Magang Radar Magelang • Selasa, 14 Juli 2026 | 23:27 WIB
Tahun ajaran baru, SD Wonokerto Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang hanya mendapatkan empat siswa baru. (MUHAMMAD YUSUF EFENDI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Tahun ajaran baru, SD Wonokerto Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang hanya mendapatkan empat siswa baru. (MUHAMMAD YUSUF EFENDI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Magelang - SD Negeri Wonokerto hanya mendapat empat siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027.

Jumlah siswa baru ini yang paling sedikit  dalam sejarah sekolah di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang ini

Kepala SD Negeri Wonokerto Sri Panuntun menjelaskan, sekolahnya memiliki enam rombongan belajar (rombel) kelas 1-6 dengan kuota maksimal 28 siswa per kelas.

Namun rata-rata setiap kelas hanya diisi 10 hingga 11 siswa. 

Ia menyebut, penerimaan siswa baru tahun ini merupakan yang paling minim dibanding tahun-tahun sebelumnya, meski tahun lalu jumlahnya juga tergolong sedikit.

Sri mengatakan,  sejumlah faktor yang memengaruhi minimnya penerimaan siswa baru.

Di antaranya, jumlah anak usia sekolah dasar memang sedikit, wilayah Desa Wonokerto yang didominasi lahan pertanian dengan penduduk terbatas, serta keberadaan dua sekolah dasar sekaligus di desa tersebut, yakni SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI).

"Ada beberapa faktor lain juga menurut saya. Salah satunya program KB yang sudah cukup berhasil, sehingga jumlah anak usia sekolah berkurang," ujar Sri.

Ia menambahkan, menjamurnya sekolah swasta dengan fasilitas yang kerap lebih unggul turut membuat sekolah negeri kalah bersaing dalam menarik minat calon siswa baru.

Meski pihak sekolah telah melakukan sejumlah upaya promosi, seperti penyebaran brosur saat kegiatan warga dan pemasangan banner.

Sri memaparkan, minimnya jumlah siswa turut berdampak pada besaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima sekolah, mengingat perhitungan dana tersebut didasarkan pada jumlah siswa dengan nilai Rp900 ribu per siswa per tahun.

"Kalau siswanya banyak, BOS-nya juga dapat banyak," kata Sri.

Meski demikian, Sri memastikan kondisi ini belum berdampak pada proses belajar mengajar maupun pembagian kelas.

Karena SD Negeri Wonokerto tidak menerapkan sistem kelas paralel.

Ia menyebut, sekolahnya justru tengah menghadapi kekurangan tenaga pengajar, sehingga dirinya turut kembali mengajar di kelas.

Sebagai strategi ke depan, Sri menyatakan sekolah akan meningkatkan program keagamaan serta ekstrakurikuler literasi dan numerasi, mengingat karakter wilayah Wonokerto yang agamis.

Ia berharap peningkatan prestasi dan pembiasaan siswa dapat mendongkrak kembali minat masyarakat menyekolahkan anaknya di SD Negeri Wonokerto.

Sri turut menyampaikan harapannya kepada pemerintah terkait perbaikan sarana dan prasarana sekolah, termasuk bangunan yang saat ini beralih fungsi menjadi gudang akibat kondisinya yang hampir roboh.

Ia mengaku, pengajuan rehabilitasi bangunan tersebut telah dilakukan setiap tahun, namun belum mendapat respons.

Informasi yang diterima, sekolahnya baru masuk nominasi program revitalisasi tanpa kepastian jadwal pemanggilan.

"Termasuk bangunan di pojok sana itu sekarang jadi gudang, yang seharusnya kalau bisa dibangun lagi, bisa dimanfaatkan misalnya untuk perpustakaan," ujarnya (mg3/mg4/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#mpls #tahun ajaran baru #Tegalrejo Magelang #kekurangan murid