RADARMAGELANG.ID, Mungkid– Asap dupa mengepul pelan di sepanjang jalan Dusun Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Minggu (12/7/2026).
Diiringi tabuhan truntung dan tembang-tembang Jawa, ratusan warga berjalan khidmat menuju panggung utama. Kirab Lima Gunung Kalis Ing Kartisampeka menjadi penanda puncak Festival Lima Gunung (FLG) XXV, yang tetap digelar secara mandiri tanpa bergantung pada sponsor.
Festival yang telah memasuki usia seperempat abad itu kembali membuktikan konsistensinya. Sejak pertama digelar, para seniman petani dari lereng Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh terus menjaga tradisi dengan semangat gotong royong.
Rangkaian acara diawali prosesi kontemporer Nandur Eling, Jumat (10/7/2026). Bibit-bibit pohon ditanam sebagai simbol menjaga alam sekaligus penanda dimulainya festival. Prosesi sederhana itu menjadi pengingat bahwa kebudayaan dan lingkungan tak bisa dipisahkan.
Memasuki hari puncak, kirab budaya menempuh perjalanan sekitar 700 meter dari perempatan dusun menuju panggung utama. Sesepuh Komunitas Lima Gunung, generasi muda komunitas, warga, hingga para seniman berjalan bersama sambil membawa dupa. Setibanya di panggung, para tokoh bergantian memukul bedug sebelum berbagai pertunjukan seni dimulai.
Tak hanya menyuguhkan pementasan, FLG juga mempertahankan tradisi memberikan Lima Gunung Award kepada tokoh yang dinilai setia menjaga kebudayaan.
Tahun ini penghargaan diberikan kepada sinden sepuh asal Kecamatan Pakis, Sukitri, 81, atau yang akrab disapa Mbah Kitri. Karena kondisi kesehatan, penghargaan diterima putranya, dalang Triyono.
"Tahun ini kami memberikan penghargaan kepada satu sinden lokal yang sepanjang hidupnya setia menjadi sinden, penari, sekaligus penabuh gamelan. Hingga usia sepuh, beliau tetap menjaga tradisi," ujar pendiri Komunitas Lima Gunung, Sutanto Mendut.
Piagam penghargaan diserahkan bertepatan dengan puncak festival. Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi kepada tokoh yang berdedikasi pada kebudayaan, tradisi, lingkungan, kemanusiaan, hingga kehidupan spiritual.
Tahun ini FLG mengusung tema "Makin Goblok Bareng". Tema yang terdengar nyentrik itu justru mengandung ajakan untuk terus rendah hati, mau belajar, dan tidak merasa paling tahu di tengah derasnya arus teknologi informasi.
Menurut Sutanto Mendut, tema tersebut merupakan respons atas kehidupan modern yang semakin dipenuhi informasi. Sikap tawadhu dan semangat belajar bersama dinilai menjadi bekal penting untuk membangun peradaban yang lebih baik.
Selama tiga hari, 10-12 Juli, panggung Festival Lima Gunung dipenuhi beragam pertunjukan. Mulai tari tradisional, musik, pembacaan puisi, kirab budaya, hingga kolaborasi seni kontemporer.
Sebanyak 85 kelompok seni dengan total 1.274 seniman tampil bergantian. Mereka datang dari berbagai daerah, seperti Cirebon, Indramayu, Bekasi, Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, Batu, Malang, hingga Pacitan.
"Penampilan tahun ini lebih beragam karena melibatkan lebih banyak komunitas seni dari berbagai daerah," kata Ketua Komunitas Lima Gunung Sujono.
Di tengah banyaknya festival yang bergantung pada dukungan sponsor, Festival Lima Gunung memilih tetap berjalan dengan kekuatan komunitas. Selama 25 tahun, semangat kebersamaan itulah yang membuat festival budaya di lereng gunung ini terus hidup dan menjadi ruang perjumpaan para seniman lintas generasi. (rfk/zal)
Editor : H. Arif Riyanto