Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

BNPB Minta Pemkab Magelang Petakan Wilayah Rawan Bencana 

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Jumat, 3 Juli 2026 | 23:15 WIB
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bersama Bupati Magelang Grengseng Pamuji saat mendengar penjelasan hasil pipanisasi di wilayah Kabupaten Magelang, Jumat (3/7/2026). (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bersama Bupati Magelang Grengseng Pamuji saat mendengar penjelasan hasil pipanisasi di wilayah Kabupaten Magelang, Jumat (3/7/2026). (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Mungkid Kabupaten Magelang menjadi salah satu daerah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi di Indonesia. Kondisi geografis yang berada di kawasan Gunung Merapi membuat masyarakat harus selalu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai potensi bencana.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto meminta Pemkab Magelang segera memetakan wilayah rawan kekeringan dan mengusulkan langkah penanganan. Baik melalui pembangunan jaringan pipanisasi maupun pengeboran sumur dalam.

“Berdasarkan informasi dari BMKG, fenomena El Nino diprediksi terjadi mulai Juli awal hingga pertengahan 2027. Sehingga akan berdampak pada kondisi cuaca yang cukup panas dan bisa berpotensi menyebabkan kekeringan hingga kebakaran hutan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Jumat (3/7/2026).

Selain itu, pihaknya juga meminta pemerintah kabupaten dan kota yang memiliki tempat pembuangan sampah akhir (TPA) segera mengevaluasi serta memperkuat langkah pencegahan kebakaran. “Sejumlah langkah antisipasi juga telah kami siapkan. Seperti mengerahkan berbagai dukungan, termasuk operasi udara melalui patroli, bom air (water bombing) serta operasi modifikasi cuaca,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, Kabupaten Magelang merupakan salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi, baik bencana alam maupun potensi bencana non-alam. Sampai dengan Mei 2026 tercatat telah terjadi bencana sebanyak 257 kejadian, meliputi tanah longsor, erupsi Gunung Merapi, banjir lahar hujan, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, angin kencang, hingga gempa bumi.

Kondisi tersebut menjadi dasar bagi Pemkab Magelang untuk berharap memperoleh prioritas bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi dari BNPB guna memperkuat ketahanan infrastruktur di wilayah rawan bencana.

Ia menjelaskan, banjir dan tanah longsor yang terjadi beberapa waktu lalu mengakibatkan kerusakan jaringan distribusi air bersih sepanjang sekitar 39,8 kilometer. Akibatnya, sebanyak 4.010 kepala keluarga di tujuh desa, yakni Desa Paten, Sewukan, Sengi, Sumber, Wates, Krinjing, dan Keningar, sempat mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

"Berkat sinergi pemerintah desa, Pemerintah Kabupaten Magelang, DPR RI, dan BNPB, bantuan pembangunan jaringan air bersih dapat terealisasi dan kini manfaatnya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat," kata Grengseng.

Selain itu, Pemkab Magelang juga mengusulkan bantuan hibah rehabilitasi dan rekonstruksi BNPB untuk pembangunan tiga ruas jalan, yakni Muntilan-Talun, Tlatar-Talun, dan Dukun - Demo, dengan total kebutuhan anggaran sekitar Rp37,6 miliar. "Pemkab Magelang juga mengusulkan pembangunan 1.000 unit Instalasi Pemanen Air Hujan (IPAH) senilai Rp5 miliar sebagai langkah antisipasi kekeringan dan gangguan distribusi air bersih saat musim kemarau," tambah Grengseng. (rfk/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#bnpb #tpa #bencana #Bupati Magelang Grengseng Pamuji