RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Candi Borobudur tidak hanya menyimpan kemegahan arsitektur kuno dan sejarah saja.
Di sekitar situs warisan dunia itu, terdapat peternakan lebah madu, Apis Cerana yang juga menjadi daya tarik wisata lainnya.
Di tangan terampil warga lokal, lebah liar itu berhasil dijinakkan dan dimasukkan ke dalam kotak-kotak kayu tanpa menghilangkan insting alaminya.
Meski ditangkarkan, lebah liar ini tetap bisa terbang bebas untuk berburu nektar. Mereka akan keluar masuk melalui celah-celah kotak yang ada.
Gandes Tri Lestari, salah satu warga yang membudidayakan serangga penghasil madu itu.
Ia menyulap pekarangan menjadi pusat edukasi Griya Lebah Tuksono.
Di sinilah, wisatawan dapat mengintip dan melihat miniatur penangkaran lebah liar Asia di sekitar kawasan Borobudur. Tepatnya di Jalan Situs Ndipan, Tuksongo.
Destinasi ini menawarkan pengalaman unik bagi wisatawan. Bukan sekadar menikmati madu murni langsung dari sarangnya, pengunjung juga bisa belajar banyak hal mulai mengenal kasta lebah: ada lebah ratu, lebah jantan, dan lebah betina atau sering disebut lebah pekerja.
“Secara fisik, lebah liar memiliki ukuran yang lebih kecil dan risiko sengatannya tidak terlalu parah. Jika tidak memiliki riwayat alergi, efek sengatan mungkin bentol-bentol saja,” ujarnya, Senin (1/7/2026).
Karakter lebah liar yang cenderung defensif, membuatnya relatif aman untuk edukasi interaktif.
Bahkan pengunjung bisa berinteraksi dengan jarak dekat, tanpa mengenakan baju pelindung khusus.
Gandes mengatakan, lebah-lebah itu didapatkan dari tepian sungai hingga pegunungan.
Di saat musim berbunga tiba, pihaknya akan membawa koloni lebah itu ke alam terbuka agar lebih leluasa mencari nektar yang mereka inginkan.
“Karena ini lebah liar, maka tempat penangkarannya juga berpindah-pindah. Kita akan mencari tempat di mana ada musim berbunga, kita akan bawa lebah itu ke sana,” tuturnya.
Menariknya, proses menggembala lebah tidak terlalu sulit.
Kuncinya ada pada sang lebah ratu: kemanapun lebah pekerja terbang mencari nektar, mereka akan pulang ke rumah sang ratu dan lebah jantan berada.
“Mereka tidak akan salah kotak, karena masing-masing kotak ada satu ratu, dan lebah jantan,” imbuhnya.
Staf Griya Lebah Tuksono, Febri Nugroho, menambahkan, dalam satu kotak, koloni lebah liar bisa mencapai 6-7 ribu lebah pekerja.
Ia juga menunjukkan perbedaan warna dan corak lebah. Lebah ratu berwarna hitam, besar, dan panjang. Sedangkan lebah jantan ukurannya lebih kecil.
“Kalau lebah pekerja atau betina ada motif loreng (garis-garis) kuningnya,” ungkapnya.
Kehidupan lebah liar juga terbilang singkat.
Febri menjelaskan, lebah jantan akan mati setelah sekali masa kawin.
Siklus kehidupan yang singkat juga terjadi pada lebah pekerja, yakni hanya 6-8 bulan.
“Yang paling lama umurnya hanya lebah ratu, bisa 4-5 tahun,” jelasnya.
Selain menunjukkan proses penangkaran lebah liar, pihaknya juga menjual empat jenis madu asli.
Meliputi madu Kaliandra, madu pahit Mahoni, madu Bee Pollen, dan madu multiflora.
Varian rasa madu tersebut dihasilkan dari nektar bunga yang dikonsumsi kawanan lebah.
Sedangkan masa panen madu bisa dilakukan 2-3 kali dalam setahun. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto