Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Petani Muda di Kabupaten Magelang Didorong Lebih Kreatif

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Senin, 29 Juni 2026 | 19:52 WIB
Tim Bayer Indonesia diajak melihat hasil olahan keripik sawi dari kelompok tani dari KWT Sehati di Desa Sumberejo, Ngablak, Kabupaten Magelang. (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)
Tim Bayer Indonesia diajak melihat hasil olahan keripik sawi dari kelompok tani dari KWT Sehati di Desa Sumberejo, Ngablak, Kabupaten Magelang. (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Regenerasi petani menjadi salah satu isu penting bagi ketahanan pangan serta meningkatkan nilai ekonomi di sektor pertanian. 

Berdasarkan data Sensus Pertanian 2023, mayoritas petani aktif di Indonesia berusia di atas 45 tahun (66,44%). 

Sebaliknya, rasio petani muda atau milenial hanya 21,93% dari total petani Indonesia.

Sedangkan di wilayah Kabupaten Magelang, berdasarkan data BPS, petani yang masuk kategori muda 19-39 tahun di angka 103.308 dari 177.765 petani aktif. 

Di sini, Bayer Indonesia hadir mengajak para petani muda di Kabupaten Magelang untuk berkumpul dan saling bertukar pikiran.

Bayer Indonesia merupakan sebuah perusahaan life science global dengan kompetensi di bidang kesehatan dan pertanian hadir menggelar pertemuan dengan ratusan petani muda se-Kabupaten Magelang di Lapangan Cakra Buana, Krangean, Ngablak, Kabupaten Magelang, Senin (29/6/2026).

Acara ini merupakan sebuah program bernama SATRIA (Sinergi Petani Muda Mitra Bayer untuk Indonesia).

‎Sedikitnya 500 petani muda se-Kabupaten Magelang hadir mengikuti kegiatan tersebut.

Sebelum acara, para petani berusia 19-39 tahun itu diajak ke stan yang ada untuk mengenal sejumlah terobosan yang bisa dilakukan untuk mendongkrak dunia pertanian.

Seperti digital farmer studio, bayer technology, post harvest innovation, access to market, serta access to finance.

Di stan digital farmer studio misalnya, mereka diajarkan untuk belajar membuat sebuah laman media sosial untuk menjadi wadah konten-konten seputar dunia pertanian.

Kemudian, di stan post harvest innovation, di sini juga dikenalkan sebuah olahan berupa keripik sawi yang dibuat oleh kelompok tani KWT Sehati Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak.

Head of BLF Bayer Indonesia Maria Magdalena Pakpahan menjelaskan, acara ini merupakan langkah untuk mengenalkan dan memberikan semangat ke para petani muda agar lebih kreatif.

“Karena bertani itu peluangnya banyak sekali. Bukan hanya bertani saja, tapi ada sejumlah hal yang bisa dilakukan seperti di stan-stan yang ada tadi,” jelasnya.

Ia mengaku, melalui acara ini, pihaknya ingin mendorong agar para petani muda selalu bangga dan menginfluence mereka.

Dalam kegiatan ini, para petani muda mendapatkan pengayaan pengetahuan dan penggunaan teknologi untuk mengoptimalkan proses dan hasil pertanian.

‎Perwakilan petani Arum Wulandari, 26, warga Desa Banyuroto, Sawangan mengakui di Desa Banyuroto saat ini trend petani muda cukup tinggi.

Mereka banyak yang memilih menjadi petani karena menginginkan sebuah pekerjaan tapi tidak terkekang. 

“Sehingga banyak anak muda di desa kami memilih bertani,” ujarnya.

Menurutnya, pihaknya bisa melakukan sebuah inovasi dan mengembangkan bisnisnya sendiri di sektor pertanian. 

Apalagi, ada sejumlah petani di desanya yang aktif membuat konten-konten media sosial.

“Sehingga para petani muda di desa kami tidak ada yang malu. Karena mereka sudah tahu penghasilannya seperti apa,” ucapnya.

Arum mengaku, hadirnya acara ini menurutnya sangat bagus.

Karena antarpetani muda se-Kabupaten Magelang bisa saling bertukar pengetahuan dan pengalaman serta membangun jejaring . (rfk/aro)

 

 

Editor : H. Arif Riyanto
#buyer indonesia #sensus pertanian 2023 #bps #Kabupaten Magelang #petani muda