Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Pemkab Magelang Dukung Penuh Pengembangan Wayang Relief, Bupati Grengseng Pamuji: Budaya Lokal Harus Terus Diuri-uri

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Minggu, 21 Juni 2026 | 20:16 WIB
Pertunjukkan wayang relief di Pendopo Museum dan Cagar Budaya (MCB) Unit Warisan Dunia Borobudur, Sabtu (20/6/2026) siang. (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)
Pertunjukkan wayang relief di Pendopo Museum dan Cagar Budaya (MCB) Unit Warisan Dunia Borobudur, Sabtu (20/6/2026) siang. (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Mungkid– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang berikan dukungan penuh terhadap wayang relief Candi Borobudur.

Wayang ini diperkenalkan langsung melalui pertunjukan yang digelar di Pendopo Museum dan Cagar Budaya (MCB) Unit Warisan Dunia Borobudur pada Sabtu (20/6/2026) siang.

Tampak kawasan pendopo di MCB disulap menjadi tempat pementasan wayang yang lebih sederhana.

Selain itu, berbeda dari pementasan wayang biasanya.

Kali ini wayang yang dipentaskan bukan Wayang Purwa atau Wayang Kulit Purwa.

Wayang tersebut merupakan tokoh-tokoh yang melambangkan dari kisah Jataka dan Awadana (kisah kehidupan lampau Sang Buddha dalam wujud manusia atau satwa) serta naskah Lalitavistara.

Di mana tokoh-tokoh tersebut merupakan yang ada pada relief Candi Borobudur.

Seperti Sāsaka (Kelinci Mulia), Mahākapi (Raja Kera), Dewa Sakra (Indra), Raja Maitribala, Sudhana dan Manohara, serta tokoh Pangeran Siddharta Gautama.

Dalam pertunjukan wayang tersebut diberi nama wayang relief dalang Wito Prasetyo dan Doni Hendra dengan lakon Sasa Jataka (Kisah Kelinci Bijak).

Sasa Jataka adalah seni pertunjukan inovatif yang diadaptasi langsung dari pahatan relief Candi Borobudur (panel 23-25, lantai satu deret atas).

Lakon ini menceritakan tentang pengorbanan, cinta kasih, dan sikap dermawan seekor kelinci yang rela mengorbankan dirinya sendiri demi menolong makhluk lain.

Dalang Wito Prasetyo menjelaskan, selain penokohan yang berbeda dengan wayang purwa pada umumnya.

Pada pementasan wayang relief ini menggunakan Bahasa Indonesia, sehingga mudah dicerna semua orang dengan segala usia.

“Wayang relief secara garis besar sumber cerita dari relief-relief Candi Borobudur. Yang mengandung pesan spiritual, moral, sosial dan ilmu pengetahuan,” kata Wito Prasetyo.

Wito mengatakan, bentuk wayang menyerupai yang ada di relief Candi Borobudur.

Kemudian pementasan dengan iringan gamelan yang ada juga di relief.

“Cuma instrumennya berbeda dengan wayang-wayang yang sudah ada sebelumnya (gamelannya lebih sedikit). Wayang relief ini berbahasa Indonesia dengan harapan menjadi wayang nasional, bukan wayang kesukuan. Sehingga bisa dipakai oleh seluruh rakyat Indonesia,” sambung Wito.

Wito menjelaskan, cerita jataka merupakan satu dari banyak cerita yang bersumber dari relief Candi Borobudur.

Ada lagi sejumlah cerita seperti awadana, lalitavistara, gandawyuha dan karmawibhangga.

“Saya sudah bikin empat cerita, sasa jataka, kisah cinta dua dunia putri Manohara-Pangeran Sudhana, Raja Sibi (Pangeran Vessantara) dan Berdirinya Candi Borobudur (kisah wangsa Syailendra oleh Raja Samaratungga),” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang Wisnu Argo Budiono menyampaikan, hadirnya wayang relief ini pihaknya sangat mendukung sekali. Apalagi wayang ini bisa menjadi seni dan kebudayaan asli Kabupaten Magelang.

“Sehingga hal ini perlu untuk terus dilestarikan dan dikenalkan ke masyarakat,” ucapnya.

Ia menegaskan, pelestarian Wayang Relief ini sejalan dengan pesan Bupati Magelang Grengseng Pamuji beberapa waktu lalu.

Bupati meminta agar budaya-budaya lokal Magelang selalu ditampilkan dan dilestarikan.

“Pak Bupati juga berpesan beberapa saat yang lalu bahwa wayang relief ini dan budaya-budaya lokal Kabupaten Magelang untuk selalu ditampilkan, untuk selalu bisa diuri-uri dan diteruskan karena warisan leluhur. Dan kita sosialisasikan kepada generasi yang akan datang,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga akan mencoba untuk mengenalkan ke para siswa khususnya ke anak-anak SD dan SMP.

Hal ini karena pengenalan sejak dini dinilai efektif agar warisan leluhur tidak punah.

“Dan kami berharap wayang relief ini bisa menjadi alternatif tontonan atau hiburan yang edukatif dengan mudah dipahami karena dibawakan dengan Bahasa Indonesia, sekaligus memperkaya khazanah wayang Nusantara,” harapnya. (rfk/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#wayang relief #cagar budaya #borobudur #Kabupaten Magelang #Bupati Magelang Grengseng Pamuji