RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Dampak pembangunan infrastruktur nasional mulai memicu keluhan warga di daerah.
Proyek pengerjaan jalan tol Jogja-Bawen mengakibatkan kerusakan parah pada akses jalan yang menghubungkan wilayah Semen di Kecamatan Salam dengan Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang.
Merespons keluhan masyarakat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Magelang bergerak cepat.
Mereka mendesak pelaksana proyek tol untuk segera mengambil tindakan konkret dan bertanggung jawab penuh atas kerusakan infrastruktur publik tersebut.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR) Kabupaten Magelang David Rudiyanto ST MT menegaskan, Pemkab Magelang sepenuhnya mendukung proyek strategis nasional ini.
Namun, dampak negatif terhadap kenyamanan dan keselamatan warga lokal juga harus diminimalkan.
"Kita semua harus mendukung pengerjaan jalan tol ini. Tentu pastinya akan ada dampak dalam pengerjaan jalan tersebut, seperti kerusakan jalan, misalnya di wilayah Semen, Salam," ujar David kepada Jawa Pos Radar Magelang.
David mengungkapkan, pihaknya telah menjalin komunikasi intensif dengan PT Jasamarga selaku pengelola proyek.
Pihak Jasamarga pun dilaporkan telah menyanggupi untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak akibat hantaman kendaraan bermuatan berat proyek tol.
Kendati demikian, Pemkab Magelang meminta metode perbaikan diubah.
Pemerintah daerah enggan menerima sistem perbaikan terjadwal atau periodik yang membiarkan lubang jalan menganga terlalu lama.
“Saya minta untuk perbaikan itu tidak periodik. Namun, bisa dilakukan secara rutin khususnya jika sudah diketahui ada yang mengalami kerusakan bisa langsung diperbaiki. Harapan kami seperti itu agar tidak membahayakan masyarakat yang melintas atau memanfaatkan jalan tersebut untuk sehari-hari,” tegas David.
Senada dengan pemerintah eksekutif, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Magelang Prihadi turut melayangkan peringatan keras kepada penyedia jalan tol.
Ia mengingatkan bahwa analisis dampak lingkungan dan infrastruktur pastinya sudah dikaji sejak awal proyek dimulai.
Oleh karena itu, penyedia proyek tidak boleh melemparkan beban sosial dari dampak pengerjaan ini kepada pihak lain ataupun masyarakat umum.
“Kita berharap dampak-dampak tersebut jangan pindah ke pihak lain, harus tetap ke pihak yang bertanggung jawab,” cetus Prihadi.
Prihadi mengimbau tim pelaksana di lapangan untuk lebih responsif dan tanggap tanpa harus menunggu gelombang protes atau laporan masyarakat memuncak.
Salah satu titik paling krusial yang memerlukan penanganan darurat adalah Jalan Semen, Kecamatan Salam.
Jalur yang berada tepat di depan Puskesmas Salam tersebut kini kondisinya compang-camping dan sangat rawan memicu kecelakaan lalu lintas.
“Jangan sampai menunggu rusak parah hingga adanya laporan masyarakat baru dikerjakan atau diperbaiki. Namun, harus bisa segera dilakukan lebih cepat. Seperti di Jalan Semen, Salam yang kerusakan jalannya sangat parah dan bisa membahayakan masyarakat,” pungkasnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto