Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Empat Wisatawan Posong Temanggung Diduga Tewas Akibat Hirup Kebocoran Elpiji, Begini Penjelasan Dosen Unimma Magelang

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Rabu, 3 Juni 2026 | 00:13 WIB
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Magelang, Prof. Dr. Ir. Muji Setiyo, S.T., M.T. (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Magelang, Prof. Dr. Ir. Muji Setiyo, S.T., M.T. (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Pakar Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) Prof. Dr. Ir. Muji Setiyo mencoba memberikan penjelasan tentang bagaimana cara kerja gas di dalam tabung elpiji jika terjadi kebocoran di dalam sebuah ruang. 

Kebocoran gas ini diduga menjadi penyebab kematian empat orang sekeluarga asal Ambarawa yang ditemukan tewas di dalam tenda glamping di Posong, Kecamatan Kledung, Temanggung, beberapa waktu lalu.

Diberitakan sebelumnya, penyebab kematian empat wisatawan dalam satu keluarga di tenda glamping objek wisata Posong, Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung masih simpang siur.

Sebelumnya, ada dugaan tewasnya warga Ambarawa, Kabupaten Semarang ini akibat keracunan makanan.

Namun perkembangan terbaru, diduga mereka keracunan gas.

Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Deputra mengatakan, dugaan keracunan gas itu menguat setelah penyidik menemukan gas portable yang digunakan korban untuk memasak dan barbeque.

“Kemungkinan ada dua, dari gas portable itu sama gas setelah bakar-bakar. Jadi, setelah barbeque-an karena langsung tidur, setelah dia bakar-bakar langsung ditutup pintunya," kata Mahendra kepada wartawan, Kamis (28/5/2026) lalu.

Pakar otomotif, refrigerasi, dan bahan bakar alternatif Unimma Prof. Dr. Ir. Muji Setiyo, S.T., M.T menjelaskan, terkait kasus di Posong ini dugaannya ada beragam.

Ada yang dari makanan, ada yang dari gas pembakaran, atau gas sebelum dibakar.

“Untuk gas sebelum dibakar ini, otomatis adanya kebocoran pada tabung gas yang digunakan untuk memasak,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Selasa (2/6/2026).

Muji menyampaikan, kandungan di dalam tabung gas itu sebenarnya bukan gas.

Melainkan cairan elpiji yang memiliki kandungan butana, propana, maupun campuran antara butana dan propana.

“Saat di dalam tabung itu tekanannya tinggi. Setelah bocor akan melakukan expansion ratio, di mana satu butiran elpiji itu jika mengembang di udara bisa banyak,” jelasnya.

Sehingga jika tabung itu berada di tenda dan mengalami kebocoran, akan memenuhi ruangan tenda.

Elpiji itu memiliki spesifik gravity yang lebih tinggi daripada udara, sekitar satu setengah sampai dua. 

“Jadi, jika ada uap elpiji dalam satu ruangan itu akan cenderung turun, dan udara atau oksigen itu akan naik. Sehingga posisi manusia yang tidur itu, pasti akan kehabisan oksigen, karena udara sudah terdorong ke atas dan digantikan dengan uap elpiji tersebut,” bebernya.

Apabila penyebab kematiannya akibat kebocoran gas, kata Prof Muji, maka mekanismenya seperti itu.

"Kandungan dalam gas elpiji itu ketika terjadi kebocoran, akan berekspansi yang 1 liter itu jadi 600 liter. Artinya, kebocoran sedikit saja akan mengembang ke semua ruangan," jelasnya.

Selain itu, karakter dari gas propana butana itu ketika berubah jadi uap akan mengendap karena densitasnya lebih tinggi dari udara.

“Mengendap ke bawah dan menggantikan oksigen untuk terangkat ke atas. Sehingga yang dihirup orang yang sedang berbaring itu otomatis propana butana. Itu bisa menyebabkan pingsan dan nanti bisa meninggal dunia,” terang Muji yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) Unimma.

Ia menilai, dalam kejadian ini, perlu melihat apakah gas tersebut benar di dalam atau di luar tenda.

“Misalnya gas tersebut ditemukan di luar, tapi kita juga tidak tahu sebelumnya apakah gas tersebut awalnya ditaruh di dalam tenda. Kemudian tercium bocor dan baru dibawa keluar, kita juga tidak tahu,” ucapnya.

“Saya bisa menjelaskan, jika karena kebocoran gas sebelum terbakar, maka mekanismenya seperti itu,” tambahnya

Prof. Muji juga menjelaskan, jika kondisi kebocoran gas tersebut tercium sedikit, sebenarnya tidak masalah.

Namun, jika kondisi ruangan tersebut tertutup rapat dan di dalamnya ada gas propana butana, maka udaranya (oksigen) akan terangkat ke atas. 

“Yang pasti, jika terlalu lama di dalam ruangan tersebut, maka akan lemas dan bisa meninggal dunia, karena kekurangan oksigen,” ujarnya.

Apalagi, kondisi gas elpiji pada kompor portable itu lebih riskan kebocoran. Karena tidak seperti dengan kompor gas pada umumnya.

“Risiko kebocoran gas pada kompor portable itu lebih besar ,” ungkapnya.

Muji mengatakan, jika pembakarannya sempurna menjadi CO2 bukan CO. Menurutnya, C akan bereaksi dengan oksigen menjadi CO2, bukan CO. 

“Tidak monoksida, tapi C3H8 itu propana dan C4H10 itu butana. Tinggal kepastiannya yang mana gitu. Ada nggak bukti di situ gasnya bocor atau tidak gitu,” ujarnya. (rfk)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#kebocoran #Unimma #keracunan #elpiji #Posong