RADARMAGELANG.ID, Mungkid – Muhammad Zidni Maulya Abbas, menjadi salah satu pelajar di Indonesia yang beruntung.
Ia berbincang langsung dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Abdul Mu’ti, pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional sekaligus peluncuran program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1, pada Rabu, (20/5/2026), di Surabaya secara hybrid.
Siswa SMK Muhammadiyah 2 Muntilan (Mudamu) ini menjadi satu di antara 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan lembaga kursus dan pelatihan (LPK) yang akan bekerja ke luar negeri.
Zidni telah diterima bekerja di Jerman. Ini membuktikan bahwa lulusan vokasi Indonesia tidak hanya siap bekerja di dalam negeri, tapi juga mampu bersaing di tingkat internasional.
Ia senang, bisa berbincang langsung dengan sang menteri. Kesempatan emas itu semakin memotivasi dirinya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa asing dan keterampilannya.
“Tentu, hari itu menjadi pengalaman berharga bagi saya,” ujar Zidni, kepada Jawa Pos Radar Magelang, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga: SMK Muhammadiyah 2 Muntilan (Mudamu) Luncurkan Kelas Cyber Security Internasional
Ia mengaku sudah setahun berlatih bahasa Jerman untuk bekal bekerja di Sankt Wendel, Jerman Barat. Kota kecil itu berbatasan langsung dengan Prancis. “Kemampuan berbahasa asing secara kontinu saya asah, agar terus meningkat,” imbuhnya.
Di Negara Seribu Kastil itu, Zidni akan bekerja di bidang kesehatan, khususnya merawat lansia. Ia bersyukur dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Ia ingin membuat bangga orang tua, dan sekolah yang telah berperan penting dalam proses pengembangan diri Zidni.
“Berkat dukungan orang tua dan sekolah, saya bisa memiliki mimpi untuk berkarir di Jerman yang sebelumnya tidak terpikirkan sama sekali di benak saya. Selain itu, sekolah juga membantu saya berupa uang senilai Rp10 juta untuk biaya proses belajar bahasa Jerman ketika di Bekasi, dengan adanya bantuan tersebut bisa meringankan beban orang tua saya,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala SMK Mudamu, Untung Supriyadi menjelaskan, program 3+1 di SMK merupakan pendidikan vokasi yang mewajibkan siswa menjalani 3 tahun pendidikan reguler di sekolah, kemudian ditambah 1 tahun untuk persiapan intensif dan magang.
Langkah ini ditempuh untuk memastikan kesiapan lulusan mengarungi pasar kerja nasional maupun global. "Program ini sangat diminati siswa. Kita dampingi mereka, agar siap berkarir di luar negeri," tutup Untung. (put/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo